Oleh: Ishak Rahman Boufakar.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziara ke Mekka. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza, tetapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu sayangku.Soe hok gie |
Bait-bait puisi dalam buku “ Catatan
seorang sang demostran” yang ditulis oleh Soe hok gie (Gie- sapaannya) atau
telah difilmkan dan disaksikan oleh seatero penjuruh nusantara “Soe hok gie”. Sebuah film yang menggulas
secara singkat kehidupan seorang aktivis besar (Razim orde baru-
Soeharto) dan tokoh pendiri Mapala fakultas sastar universitas Indonesia. Film
tersebut telah menyajikan secara gamlang krakteri idealisme Gie ditengah iklim
gelombang orde baru. Pembubaran PKI (Partai komunis Indonesia), Tumbangnya
razim orde lama (Ir. Soekarno) dan penurunan harga sembako (Trisakti). Gie turut mengambil
bagian dari protes rakyat terbesar sepanjang sejarah tersebut. Dalam keseharian Soe hok gie. Gie selalu
menentang setiap kebijakan pemerintah hingga guru kelasnya yang dinilai
bertentangan dengan segala pengetahuannya. Ketika temannya menanyakan alasan
kenapa iya terus melawan ? “ Soekarno, Hatta dan Sahril mereka melawan kezaliman dan kesewenang-wenagan para penjajah
sehingaa kita merasakan kemerdekaan ini “- Kata “Soe hok gie. “Guru bukanlah dewa yang selalu benar dan
murid bukanlah kerbau”. Soe hok gie telah mampu membukakan mata generasi kita dari kebutaan dalam melawan kesewenang-wenangan
penguasa yang zalim.
Dewasa ini berbagai fenomena yang telah
kita saksikan bersama. Ironis dari setiap fenomena tersebut
telah menjadi hukum pengabaian bagi generasi kita. Generasi muda yang menjadi
tonggak stafet dari bangsa ini, yang seharusnya memiliki rasa tanggungjawab atas
setiap persoalan kebangsaan dan kenegaraan. Malah memilih menjadi penonton di
negri sendiri ketimbang melibatkan diri dalam menjawab dan menanggapi segudang
persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini.
Kondisi bangsa kita ibarat kapal tua yang
kebocoran bilik-biliknya, kita generasi muda adalah penambal handal yang setiap
saat selalu dibutuhkan untuk menambal setiap bocoran ditengan jalannya kapal.
Kebocoran semakin hari semakin meluas hingga melebihi kapasitas penambal.
Kebocoran disebabkan oleh gelombang
samudra yang keras menamrak dinding-dinding kapal dan kebocoran yang disebabkan
oleh pahatan dari penumpang itu sendiri.
Badai Neoliberalisme mengisyaratkan “hempasan
gelombang samudra yang keras” dan Korupsi para pejabat menyisyaratkan “Pahatan
penumpang kapal. “ Kekuatan Pahatan membongkar setiap bilik-bilik kapal sehingga
penumpang yang lain ikut terhanyut dalam badai samudra yang menakutkan. Korupsi
menjadi virus mematikan yang terus menular pada setip abdi-abdi negra yang serakah, abdi yang tidak memahami hakikat
pengabdian dan abdi yang terus meminta tanpa memberi dengan keikhlas untuk
bangsa dan negranya.
Globalisasi barat menghendaki setiap orang untuk
keluar dari rumahnya, generasi muda disibukan dengan penawaran produk-produk
komersial dari media-media barat. Ditangan generasi muda kita bukan lagi buku
atau jurnal internasional sebagai tiket kemerdekaan tetapi produk komersial
dengan harga melangit. Persaingan kosmetik klas dunia semakin memadati dinding
media sosial, Facebook,twitter,BBM(Blackberry messenger),pat dan media yang
lain telah difungsikan pada sisi komersial dan hedonism semata. Media yang
memiliki peranan penting dalam mentransformasi pengetahuan kepada orang banyak
telah disalah fungsikan. Kondisi ini sebagai akibat dari pengadopsian lifestyle
barat secara menta-mentah.
Ruang-ruang public semakin sepih,
partisipasi intelektual dalam politik semakin minim, kondisi ini yang
meniscayakan kualitas kehidupan politik kita tidak berpotensi membangun malah
kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyak banyak kita menjumpai.
Pandji
Pragiwaksono dalam bukunya
“Berani Mengubah. “partisipasi politik
menjadi Keharusan semua orang, sebab kenapa. Keputusan-keputusan yang kita
jalankan hari ini merupakan setiap putusan politik dihari kemarin.” Oleh sebab
itu sifat apatis dan skeptic dalam partisipasi politik seharusnya dihilangkan
dan mulailah mengaktualisasikan diri dalam setiap bentuk politik,sebab kenapa. Kita
adalah bagian dari pengambilan keputusan tersebut.
“Banyak
yang bertanya ,setelah nasionalisme, lalu apa. ? Ada orang yang skeptic bisa menguba Indonesia. Ada yang
optimiis. Banyak pemuda yang selalu mempertanyakan kemajuan bangsanya. Padahal,
semua sejarah menyatakan bahwa perubahan dibawa oleh pemudanya. Coba lempar
pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, dan bergeraklah. Sekecil apa pun. Saya
memang gerah, dan saya memilih untuk tidak menyerah”. Pandji Pragiwaksono, dalam bukunya “Berani Mengubah.”
Hakikat dari tiket kemerdekaan kita adalah
seberapa besar kita membaca, seberapa besar kita memahami dan seberapa besar
kita berjuang untuk itu. Membaca harus dibudayakan sejak dini, sebab kenapa.
Budaya membaca generasi kita saat ini sangat memprihatinkan. Diperpustakaan
kampus, tokoh buku, ruang bedah buku dan gerakan membaca semakin sepih kaulah
mudahnya. Kaulah mudahnya sibuk dengan rutinitas perbelanjaan kosmetik, jeans
dan kaos. Mereka seakan lupa dengan tanggungjawab intelektual dan sosialny,
kamus ilmiah, literatul dan handbook tak lagi memadati meja kamarnya atau
lemari-lemari buku diganti menjadi lemari kosmetik.
Tiket kemerdekaan telah tergantikan dengan
tiket penindasan ala komersil. Perempuan telah keluar dari rumahnya, bukan
menuntuk ilmu tetapi ketempat objek-objek wisata ketelanjangan ala barat.
Ketelanjangan sebagai symbol keterbelakangan masyarakat primitive telah
diadobsi oleh barat sebagai bentuk modernitas. Menutup aurat (hijab) dinilai
sebagai symbol keterbelakangan oleh modernitas barat.
Alisyariati pernah berkata “Aku kehilangan aku dalam diriku, aku yang
saat ini bukan lagi aku(bukan lagi kehendak diri sendiri) tetapi akunya
modernitas. Menurut Alisyariati : Modernitas merupakan produk barat yang
dicoba ditawarkan/dibeli oleh Negara dunia ke-3. Oleh sebab itu apapun kemauan
barat para pelanggang di Negara ke-3 harus menurutinya, sebab kenapa.
Internalisasi dan transmisi budaya barat telah mendarah daging dalam diri
generasi Negara ke-3. Kondisi ini semakin memprihatikan bagi generasi mudadi Negara
berkembang dan Negara dunia ke-3 tidak dapat melepaskan diri dari jeratan modernitas
barat.
Penjajahan fisik kolonialisme tidak begitu
membahayakan dibandingkan transmisi(penyebaran) budaya barat yang anti etika
dan rasionnalitas akal sehat. Kondisi ini telah didesain sedemikian rupa dan
didukung oleh kekuatan mediannya sehingga memudahkan penyebaran budaya yang
menyesatkan seantero penghuni bumi ini. Agama dan etika sebagai basis nilai, barat
telah membuang jauh-jauh dua unsur tersebut dalam setiap misinya. Generasi kita
tanpa daya penyaringan yang memadai seakan mengadopsi secara menta-mentah
setiap budaya barata yang datang. Yang pada akhirnya meniscayakan krisis identitas diri entah laki-laki
atau perempuan. Semua orang berlomba-lomba melepaskan ikatan perkawinan dan
menghendaki freeseks. Bagi barat pernikahan atas dasar agama hanya membatasi
manusia dari potensi seksualitas dalam dirinya.
Kata Sigmund
Freud (Bapak psikologianalisis) bahwa: “Manusia dipengaruhi oleh insting/naluri
seksualitas dalam dirinya.” Oleh sebab itu ketika manusia menahan insting
seksualitas tersebut maka, dia akan mengalami penyakit kejiwaan. Bagi saya Sigmund
telah meletakan misionis modernitas dalam teorinya, diamana menghendaki orang
untuk keluar dari nilai-nilai etika,estetika dan rasionalitas (wahyu dan akal).
Ketika generasi muda kita tidak menganalisa pendapat ini dengan baik maka akan
meniscayakan “Pemakluman dalam bertindak(freeseks).”
Budaya barat telah mampu mendobrak benteng pertahanan kita lewat generasi muda.
Generasi muda sebagai penentu sebuah peradaban yang beradab yang seharusnya
dijaga dan dijernihkan pola pikir dan tingkah lakunya agar tidak tercemari
budaya-budaya luar yang merusak.
Mari kita membenahi generasi muda kita menjadi
pribadi-pribadi yang memahami hakikat akan tanggungjawabnya.Dan marilah kita
merebut tiket kemrdekaan kita, sebab. Ditangan kita cahaya kemrdekaan generasi
mendatang dan peradabaan atas nama cinta kebijaksanaan akan bersemi… TERUSLAH
BELAJAR SEBAB DENGAN BELAJAR KITA DAPAT MENGGAPAI LANGIT DENGAN IMPIAN KITA.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
#BERSAMBUNG…


