Jumat, 13 Februari 2015

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : Dari sisi lain " Valentine Day"( Hari Kasih Sayang)


 Kasih sayang itu laksana embun pagi yang yang diutus Sang kekasih(Tuhan)  kepada alam semesta  untuk menghapus dahaga panas (keserakahan,keegoisan,dan maha tau) mahluk ciptaanya. agar ciptaanya pun dapat merasakan idahnya kasih sayang itu... Ishak. r. Boufakar.

Menurut saya Valentine Day harus dipahami sebagai makna kasih sayang bukan bagaimana bentuk kasih sayang yang berbasis kecintaan material semata. makna kasih sayang itu tidak selamanya dipahami sebagai  bentuk kecintaan berbasis materialis,sekularis,atheistik,nihilistic. Tetapi lebih tepatnya pada bagaimana hakikat kecintaan dan kasih sayang itu.

*Sejarah Valentine Day _

Sejarah Valentine Day bukanlah bersumber dari Islam sendiri, tetapi perayaan Valentine Day adalah kepercayaan bangsa romawi sebelum beragama kristen.
Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang kerana kesolehan( 'dermawan)' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.

Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'



·         Kecintaan antara “bentuk” dan “Makna” _

Tujuan mencipta dan menyebar luaskan rasa kasih sayang di persada bumi adalah sebuah cita-cita mulia, agama apapun selalu menyuarakan kasih sayang namun yang menahan kasih sayang itu adalah pengikutnya yang oriatalisme yang paaman agamanya tidak sehat (Sakit jiwa -Psikologi agama).besifat kekanakan dalam memahami persoalan agama.

 menurut saya menyebar luaskan kasih sayang itu  bukan seminit, sehari dan  bahkan setahun tapi lebih tepatnya jika kasih sayang itu tinggal bersama kita, dibumi, benua, kepulauan, daerah, ras,agama dan suku. agar kita dapat mewujudkan senyum kasih sang Nabi sebagai risala sucinya " Rahmatanlilalamin ".


* Kesalahan Paradigma Remaja perayaan Valentine Day _

Mayoritas remaja kita menganggap valentine merupakan budaya moderen dan wajar untuk diikuti. "Mereka memandang apa yang dilakukan oleh orang barat itu merupakan suatu kemajuan, sehingga kalau melakukan itu merasa menjadi orang yang maju,"  remaja yang turut melakukan perayaan valentine adalah mereka yang tidak memiliki filter budaya. Padahal, sejatinya setiap anak harus sudah dibekali pengetahuan, budaya mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diadopsi.
Dengan kondisi ini maka meniscayakan keikut sertanya dalam ketidak tahuannya (Perayaan).remaja kita menilai kemajuan dari modernitas, seseorang dikatakan maju ketika ia menyesuaikan diri dengan kemauaan modernitas dan meninggalkan apa yang menjadi jatih dirinya, maka pada kondisi tertentu ia kehilangan identitas. Kata Alisyariati “ Aku kehilangan aku dalam diriku “ aku menurutnya tidak lagi sesuai keinginan dan kehendaknya semuanya berubah menjadi keinginan orang lain.dengan kondisi ini orang ramai-ramai telah menanggalkan agama dan budayanya masing-masing dan beralih kiblat kepada modernitas (Ketelanjangan model baru) atau penindasan model baru pada Negara-negara berkembang.

Konklusinya perayaan Valentine Day haruslah dipahami sebagai momentum kasih saying yang harus disebarkan sepanjang hari bukanlah semenit atau sehari saja tetapi kasih sayang itu biarlah melekat dan tinggal bersama kita dalam menata kehidupan yang lebih baik.
Semoga bermanfaat bagi kita semua..
wassalam.

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR: Bagaimana Muslimah yang baik itu ?? -Diskusi:NOVEL “TUHAN IJINKAN AKU MENJADI PELACUR(Karya:Muhidin. M. Dahlan) “


Penyunting : Ishak rahman Boufakar.
Teman diskusi : Ainy Renren.

SINOPSIS NOVEL :
Novel ini menceritakan tentang seorang muslima yang taat Nidah Kirana namanya,aktifitas keseharianya layak muslima taat  pada umumnya.berhijab,tidak meninggalkan sholat,membaca al-qur’an.semakin kecintaanya pada islam ia pun aktif dalam berbagai organisasi islam.namun pada suatu saat Nidah kirana merasah kecewa terhadap islam, kekecewaan itu meniscayakan segalah bentuk ketaatanya selama ini begitu sia-sia bahkan pada titik kulminasinya ia beranggapan bahwa Tuhan telah membohonginya.bentuk akumulasi kekecewaanya ini ia melalukan hal-halnya bertentangan dengan islam, ia mulai merokok,minum minuman beralkahol sampai pada seks bebas.motifasi dari aktifitas ini sebagai bentuk pemberontakan terhadap Tuhan.menurutnya demensi lahiriah tidak menjamin sifat asli seseorang sebab kenapa laki-laki yang pernah menidurinya adalah orang-orang yang terhormat(Ustad,seniman,aktifis islam)baginya cinta dan pernikahan menjadi nihil.dengan perasaan kecewa,marah dan kesal ia berusaha mengumpulkan dalil-dalil untuk pembenaran tindakanya.
Konklusi dari kisah ini adalah bagi saya Nidah kirana adalah  sosok yang berani,ia telah berani dalam memilih jalan yang ia dambakan.dia berani mentaati segalah peraturan sang iblis penuh dengan kesetiaanya.bagi saya kesetiaan dan keberanian  inilah yang patut kita contohkan  atas apa yang menjadi kecintaan kita,jika Tuhan adalah pangkal kecintaan kita maka konsekuensi bagi para pecinta adalah pengakuan akan kesempurnaan dan melebur didalamnya.
Dari kisah diatas dapat saya Sederhanakan kedalam topic diskukusi bersama AINY RENREN_ via BBM(BlackBerry Messenger),yaitu: “Bagaimana menjadi muslima yang baik itu”



# BAGAIMANA MENJADI MUSLIMA YANG BAIK ITU ?
AINY RENREN : Menjadi muslima yang baik itu sulit,kenapa sulit kerana banyak aturanya.sulitnya semisal perempuan harus menundukan penglihatanya,keharusan berpakaian longgar,berhijab dengan ukuran yang besar dan tidak di perbolehkan keluar rumah.dengan aturan semacam ini pada zaman sekarang  kita jarang menemukan perempuan yang benar-benar sholeha.

ISAAC BOUFAKAR : Siapa yang memiliki otoritas menentukan aturan bagi perempuan dalam berperilaku semisal diatas. Jika jawabannya adalah Tuhan, lantas pertanyaanya kemudian apakah setiap aturan yang bersumber dari Tuhan itu semua sifatnya baik atau buruk.? bagi saya semua hal dari TUHAN adalah baik bergantung kepada bagaiman kita memahami kebijaksanaan Tuhan.

AINY RENREN : Ya.. Jelasnya itu perintah Tuhan ! bagi saya aturan itu sifatnya baik,tapi realitasnya ketika perempuan memegang teguh kepada aturan  tersebut ia malah dikecewakan. misalnya pada kisah diatas.

ISAAC BOUFAKAR : Pertanyaanya kemudian kenapa perempuan diperintahkan menutup autratnya(Berhijab), menjaga pandanganya,menjaga kesucian dirinya dan lebih baik diruma dari pada keluar rumah.?
Rasionalitas dari hal-hal diatas  adalah: yang pertama “kenapa perempuan diperintahkan menutup auratnya”– dalam pembahasan Filsafat Hijab(Jilbab) “bahwa perempuan mengejar hatinya sedangkan laki-laki mengejar tubuhnya “ oleh kerena itu perempuan diperintahkan menutup auratnya agar ia dapat mengantisipasi kekejaman dan perlakuan buruk dari sifat maskulin( laki-laki)
Jika perempuan (Adik Khusnya) mau tau kenapa setiap aturan (menutup auratnya) itu terkhusus bagi kalian. maka secara sadarnya adalah setiap aturan(Hukum) yang dilimpahkan kepada perempuan dalam kehidupan sosialnya  itu semata-mata sebagai pelindung dari agama(Tuhan) untuk melindungi perempuan pada wilayah material dari sifat maskulin(laki-laki) yang lebih dominan menagkap esensi dari sesuatu yang diindrai. misalnya imajinasi seksual itu  begitu potensial pada akalnya ketika mengkonsepsikan atau melihat secara langsung  perempuan yang tak menutupi auratnya (You Can see),jadi aturan itu janganlah dipahami sebagai sikap pengkekangan dari Tuhan terhadap perempuan.
Dalam kajian kesmologi perempuan prespektif islam,kita dapat memahami bahwa  islam adalah suatu agama yang lengkap dengan aturan-aturan meskipun dalam hal kecil misalnya kesucian diri(Thaharah). sederhananya bahwa perempuan dalam islam mendapat perhatian khusus, jika kita mempelajari al-qur’an maka kita akan menemukan banyak ayat dalam al-qur’an yang membicarakan persoalan kekhususan aturan perempuan dibandingkan persoalan laki-laki.dalam islam laki-laki jika ia keluar rumah tidak ada kewajiban dalam memintah persetujuan istrinya tapi sebaliknya perempuan  jika ia keluar rumah maka keharusan meminta izin dari suaminya  sebab kenapa untuk memastikan istrinya dalam keadaan yang baik. hal ini menandakan bahwa secara materil(Hukum) islam melindungi perempuan dibandingkan laki-laki,makanya tidak adil jika  perempuan beranggapan bahwa Tuhan (agama) telah mengkekang hak-hak perempuan dalam persoalan dimensi kehidupanya.
Dan yang kedua “Kenapa perempuan dilarang keluar rumah ?”
Ketika anda membaca buku Filsafat perempuan  dalam Islam karya Murthada Muthahhari dan buku Risalah hak-hak perempuan karya Prof.S.M. Khamenei. Kita akan menemukan penjelasan detail mengenai tafsiran  al-qur’an surah: Ath-Thalaq: 2
 “ janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah  dan janganlah mereka(diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan kejih yang terang “
 tafsiran ini berbeda dengan  sebagian besar ulamah dalam menafsirkan maksud dari ayat tersebut.
Hal ini meniscayakan sebagian besar laki-laki masih memiliki pemahaman keliruh dalam memperlakukan anak perempuan,sodarah perempuan dan bahkan istri-istri mereka. sehingga perempuan dalam kondisi ini merasa tertekan,teralinalis dalam pangkuan agama(Tuhan)sekalipun. tapi bagi saya lebih jelasnya ayat ini adalah bentuk perlindungan bagi perempuan juga,kenapa demikian sebab.islam secara rasional menjunjung keslamatan serta perlindungan terhadap perempuan dalam keadaan apapun.bagi saya pelarangan perempuan keluar rumah semata-mata sebagai bentuk perlindungan agar perempuan tetap terjaga keselamatan dan kesuciaannya. perempuan juga pada kondisi tertentu tidak bisa dibatasi haknya layaknya laki-laki sebab kenapa pada hakikat perempuan juga memiliki kewajiban yang sama menata dan menciptakan peradabaan umat manusia yang lebih baik.seharusnya perempuan dipastikan keluar dari rumahnya semata-mata demi hal-hal yang positif misalnya ia menjadi seorang docter,guru,dosen dan direktur yang memiliki fungsi dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki,dan jika sebaliknya ketika ia keluar rumah semata-mata hal yang negative maka sebaiknya ia didalam rumah saja itu lebih baik jika ia diijinkan keluar rumah.

AINY RENREN : Menurut Kaka (Anda) lebih menyukai perempuan yang berijab ukurannya besar atau menyukai perempuan dengan celana jeans. “behijab ukuran besar” tapi konsekuensinya jodoh menjauh  atau  jika berjodoh hanya  dengan ustad –tapi ustdnya juga kalau sunah-sunahnya banyak maka dalil-dalil poligami begitu menguat dan pada akhirnya meniscayakan “Dimaduh” atau bosan dan melepaskan istrinya.

ISAAC BOUFAKAR : Bagi saya ada kesalahan paradigmatis dalam konteks  ini, menurut saya kita terlebih awal menjernihkan pemikiran tersebut agar orang-orang tidak bias dalam menghukumi hukum Tuhan sebagai sesuatu yang jahat.
Bagi saya motivasi orang dalam  mencintai atau dalam konteks ini memilih pasangan hidup perempuan yang berhijab besar atau perempuan tak menutup auratnya(you can see) itu berbeda-beda orang berbeda motivasihnya.
Saya dalam hal ini tidak meghukumi salah orang yang mimilih pasangan yang tak menutup auratnya tetapi yang saya menyalahi adalah bagaimana cara pandang dia dalam memilih pasang tersebut.dalam doktrin epistemology(Konsep pengetahuan)  lebih jelas bahwa epistemology membentuk pandangan dunia(bagaimana cara pandang kita tentang Tuhan,Manusia dan Alam) dan dari pandangan dunia ini maka terbentuklah ideology(sisi praktiknya)bagaimana bertindak sesuai cara pandangnya itu.
Makanya jangan heran orang-orang dalam memilih pasangan hidup mereka lebih suka pada dimensi eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar spayol,seksualitas)tetapi tidak semata-mata pada hakikat dari bentuk kecintaan itu.makanya perempuan juga keliru dalam pemahaman dan menggeneralkan bahwa laki-laki itu semuanya sama dalam memilih pasangan lebih mengutamakan dimensi eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar spayol,seksualitas) dan kekeliruan laki-laki dan perempuan juga bahwa memilih pasangan hidup dengan perempuan yang berhijab atau laki-laki yang alim itu adalah tidak canggi ini adalah pemikiran yang salah.
Menurut saya menjadi wanita muslima yang baik itu bukan bagaimana menyiapkan hijab yang banyak dengan ukuran besar, mengurung diri dari lingkungan social, memandang wanita lain yang berbedah dengan sebagai “Kafir/pemaksiat” atau membatasi dirinya dari ruang-ruang pablik (Majlis ilmu,Parlemen,ekonomi dan social). Penilaian inilah yang masih melekat pada sebagian besar saudarah-saudarah kita yang muslimah.
Dan lebih lagi mayoritas orang tua kita diseantero nusantara ini,menilai kesholehan dan sholeha dari demensi eksitorik (Tampilan luarnya) kontruksi nilai ini telah melekat dalam lingkungan dan relasi sosialnya. Sehingga meniscayakan orang yang tampilan fisiknya tidak sesuai dengan bagaimana tampilan kesholehan yang dipahami mereka tidak menyetujuinya ketika mendekati anak atau saudara-saudarahnya. Bagi saya inilah kesalahan paradigmatic dalam penilaian, kalau saya dapat katakana masyarakat kita lebih menangkap “bentuk” dari pada “Makna”. Inilah kecenderungan penilaian yang matrial  sekali.
Kembali kepada persoalan wanita muslima_ketika kita membaca novel diatas maka dapat menyimpulkan bahwa tokoh aku (Nidah Kirana) yang pada mulanya dia adalah seorang muslima yang taat, namun pada suatu saat dimana dia mendapat ngoncangan keras dalam kehidupanya. Dengan kondisi ini meniscayakan  ketidak seimbangan diri maka dia memutuskan menjadi seorang pelacur yang pada dasarnya dari sisi etika, estetika dan logika bertentangan dengan islam itu sendiri.
Nah.. timbul pertanyaannya kemudian “kenapa Nidah kirana berperilaku seperti itu.?” Menurut saya, saya tidak dapat menghukimi “salah” tindakannya menjadi pelacur. Tapi yang saya nilai salah itu pada pandangannya tentang bagaimana  menjadi seorang muslimah yang sebaik-baiknya,  bagi saya Nidah tidak mamahami betul apa yang menjadi hakikat dari muslimah itu. Kenapa demikian dia memahami menjadi seorang muslimah itu adalah keterpaksaan dari suatu kewajiban bukan atas dasar kecintaan.
Kata Ustad Mifta Rahmat dalam ceram Asyurah Imam Husain as. Ada dua ciri orang menjalankan perintah Tuhan: yang pertama mereka menjalankan perintah Tuhan karena mengharapkan Surga dan takut akan neraka dan yang kedua adalah mereka yang menjalani perintah Tuhan karena kecintaannya terhadap Tuhan. Pada kondisi ini kita menjalani perintah tuhan atas dasar keterpaksaan atau mengharapkan sesuatu bukan penyerahan secara totalitas kepada-Nya. Sehingga di dalam perjalanan ketaatan kita, ketika kita dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan maka dengan sendirinya kita dapat mengabaikan apa yang dapat kita kerjakan. Tetapi sebaliknya jika ketaatan kita berdasarkan atas kecintaan maka kita dengan ikhlas menjalaninya, hanya pecinta yang dapat memahami kekasihnya.
Kata Ustd A. M.Safwan pada kajian Kosmologi perempuan dalam islam, “Jika kalian memiliki anak dan mengenalkannya pada Tuhan maka yang paling terutama diajarkan adalah “Kecintaan” barulah hukum-hukum. Agar ia dapat menjalani perintah Tuhannya dangan kecintaan bukan atas dasar keterpaksaan.
Imanuel khant dalam pembahasan moralitasnya : Tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan berdasarkan rasa kewajiban melaingkan pamrih yang dihasilkan, tetapi perbuatan ternilai baik apabila dilakukan semata-mata hormat hokum moral, itulah kewajiban.”
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua…
Wassalam.

BERSAMBUNG….







Jumat, 06 Februari 2015

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #Episode 1_ Pengakuaan

Oleh: Ishak rahman Boufakar
03 12 2013


Malam bergening bersama bau sengat dari sungai kecil yang tak terurus, panasnya kota Daeng tak bisa membedakan antara siang yang terik dan malam yang berembun hanya kipas kecil yang menari terus pada jari-jari yang tak berdosa. Setiap tepisan kipas beriringan dengan keluhan yang tak berirama hanya diam dan tersenyum itulah suguhan awal di kontrakan baruku.tetapi aku masih bersukur walaupun dengan keadaan seperti ini makan bersama seperti keadaan rumahku tak terlewatkan di sini.

Inilah makna perantauan yang di pahami oleh mereka anak-anak salah jurusan pada salah satu universitas di kota daeng ini, bahwa besarnya penghuni dompet berbanding lurus dengan asupan protein yang tersedia menghasilkan kemungkinan ketiga dalam prinsip-prinsip logika yakni antara benar-salah dan antara kenyang-lapar tidak menolak satu dan mengabaikan yang lain. Makna perantauan yang ideal adalah kecilnya permintaan kebutuhan berbalik lurus dengan transfer si fulus di ATM_
Perkenalkan, namaku izaac aku adalah mahasiswa transfer dari kampus Merah di city ambon of music ke Salah satu Kampus ternama di kota Daeng tapi, sampai sekarang aku belum di akui sebagai mahasiswa pada kampus tersebut di karenakan Si Dekan jarang ke Kampus.

Episode_ 04 12 2013
03: 31pm
Sederet message terkirim kepada Pak Dekan FISIPOL  “ ....Assalamualaikum
Maaf sebelumnya pak, ini saya Mahasiswa Transfer Semestar 7 dari Ambon
Hari Jumat kemarin sempat bertemu dengan pak, kita buat janjin hari sabtu kemarin kita bertemu untuk kesepakatan selanjutnya namun saya sedikit kesibukan jadinya saya mengulurkan sampai hari senin. Tapi hari senin saya ke kampus tetapi tidak bertemu pak dan hari selasanyapun demikian pak....

TriMss_ Mr. Izaac
30 menit kemudia sang dekan tersenyum tipis di balik tirai debuh itu, “ oooh Kita yang tungguh...’’ ‘’ iya pak...” ....”Masuk Kii “
Saya pun di persilahkan menempati ruangannya pak dekan,dialog ringanpun tak ketinggalan setelah pengurusannya kelar saya pun pamit pulang ‘’ kamu kesini besok jam 3 seperti biasanya ‘’ ‘’ siiip pa

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR: # Keberagaman Yang Mendewasakan

Salah satu perkembangan memprihatinkan pada masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan kebincian terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berbeda dalam paham keagamaan. Tindakan tersebut dinilai sebagai sikap ketidak dewasaannya dalam menanggapi dan menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapinya.

Kita telah berani menghukumi keberagaman sebagai sesuatu yang sifatnya selalu buruk dipandang dan meski harus dihilangkan atau ditentang eksistensinya.namun kita tidak menyadari bahwa keberagaman itu merupakan sebuah kondisi yang jika kita menanggapi secara bijaksana maka kita ternilai sebagai pribadi-pribadi yang terbaik yang jauh memahami akan segala hakikat keadilan Tuhan Yang Maha Esa.
Keberagaman adalah sikap kita mengaktualkan segala pengetahuan kita kepada orang lain,baik antara kelompok kitu sendiri atau sesama mazhab dan bahkan terhadap mazhab lain sebagai sikap dari bentuk penghormatan. Dalam melihat fenomena yang terjadi ada 3 aspek yang menjadi alternative dalam menanggapi keberagaman menjadi sesuatu yang mendewasakan  kita yaitu;
 Non sectarian ; mampuh mengarahkan kita pada bagaimana menjalin hubungan social kita dengan baik.non sectarian sendiri tidak membatasi hubungan kita sesama agama atau mazhab tertentu saja melaingkan kepada siapa saja dan apa yang menjadi mazhab atau agamanya agar dapat tercipta hubungan social kita yang harmonis.
Mendahulukan akhlak diatas fiqih;pada wilaya ini kita digiring agar berperilaku  yang baik, kita menciptakan lingkungan  yang tidak hanya berfokus pada wilaya fikih(keshalihan beribada) saja tetapi yang terpenting adalah membetuk ahlak mulia yang dapat menyenangkan orang lain.  Dan tidak lagi mengusik atau menggangu  orang lain yang  secara psikologis terbebani.
 Pluralitas  dalam timbagan ;apa garansi keselamat seseorang? Dan bagaimana ukuran kebaikannya sebagai konsekwensi keselamatan pada skatologi nanti? Kita tak memiliki hak progratif dalam menghukumi atau menjastifikasi seseorang dari keselamatan dan kebenaran.

Menurut Erich fromm pola kehidupan ada dua;
Modus Having; Segala sesuatu berpusat pada dia. kebahagiaan seseorang dapat diukur yang dia miliki.
Modus be caming; kebahagian aku adalah kebahagiaan orang lain,bukan parsial(hanya satu golongan).



Sedangkan menurut Martin Buber;
I –it ;Memanfaatkan artinya padahal-hal tertentu saja.
It do ;Selalu sama artinya dalam kondisi tertentu selalu bersama.
Pada wilaya non sectarian mendahulukan ahlak di atas fiqih,non sectarian selalu berbicara dalam persoalan hubunganyang sifatnya internal antara sesama dalam suatu mazhab tertentu saja.non sectarian mampu melepaskan keyakinan tertentu demi menjaga hubungan social dengan baik dan juga merupakan sikap penghormatan kita atas suatu kondisi.pada wilaya interaksi non sectarian memilih berkorbana demi demi kebaikan.

Pluralisme -berhunungan dengankeselamatan diakhirat, ada dua prinsip pluralisme;
1.   Context ofjustifications; berhubungan dengan kebenaran
·      # Setia pagama berbeda
        # Kebenaran suatu agama bergantung pada pemeluknya
        # Tidakboleh menilai kebenaran dan kesalahan agama orang dari sudut pandang kita.

 2.context of Salvasing;Mengarahkan pada keselamatan akhira
·        Eksklusifisme ;yang salah dalam penilaia
n dari CJ(Context ofjustifications) maka salah juga dalam CS(context  of Salvasing).
·        Inklusifisme; yang salah dalam penilain CJ juga bisa langsung CS tetapi ada pengecualian.
Pluralism kebenaran tidak berbanding lurus dengan kesalahan,bukan bergantung pada agama tetapi berdasarkan tolak ukur,tolak ukur yang disepakati oleh semua agama.Adatiga tolak ukar;
                                             I.       Bertuhan
                                              II.       Berimankepada hari pemnalasan
                                              III.       Berbuatbaik(Tolak ukur yang utama)
Kenapa pluralism susah diterima sebahagian orang disebabkan karena politik identitas.politik identitas dimaksudkan kita selalu beranggapan kita sajalah yang terbaik dan bukan dari kelompok kita tidak benar adanya.nonsektarian dapat terwujud diantara kita jika kita pekah terhadap;persatuan,social politik dan selalu mendahulukan ahlak diatas segalanya.

                           

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #Skisme dalam Islam _

Segalahhal dimuka bumi ini  masing-masing darikita memiliki tafsiran berbeda  tentangsegalah realitas, baik sifatnya  yangtampak maupun yang sifatnya abstrak.keniscayaan dari segalah realitas selalu menampakantafsiran,prespektif berbeda pada kaca mata sipengindra kesemuanya berpangkalpada bagaimana pahamannya  tentang fundamentalisme dan epistemologi dari objek tersebut.

Berangkatdari pemikiran diatas kita mencoba menafsirkan pandangan tentang problematikaskisme dalam islam. Skisme sendiri bukanlah sebuah fenomena yang menggambarkankondisi keberagamaan dalm islam melaingkan dipredikatkan kepada islam lantarandidalam islam ditemukan juga hal serupa sebagaiman yang tengah berlangsungdalam sejarah dinamika agama-agama didunia ini.

Skisme  merupakan istilah yang terpakai dalammelihat  kemorosotan perbedaan tafsiranhal-hal praktis keagamaan.skisme sendiri pemakaiannya pertama kali terdengar dari kalangan agama  Nasarani di eropa, nasrani terpecah menjadidua katolik dan protestan.proses timbulnya dua aliran dalam agama nasarani inidisebabkan  karena perbedaan penafsiran,sudut padang dalam memahami hal-hal yang prinsip dalam agama.

Lantasapakah skisme juga kita temukan dalam islam??jawabanya ’’ya” didalam islam jugakita dapat menemukan tafsiran berbeda atas hal-hal mendasar dalam sisi praktismisalnya;perbedaan cara pandang dalam masalah fiqih tiap-tiap mahzab,yang padaakhirnya melahirkan praksis yang berbeda-beda pada tiap-tiap mazhab sesuaitafsiran masing-masing.

Perpecahandalam umat islam terjadi pertama kali ketika wafatnya NabiSalaullahualahiwasalam,dari sinilah awal mulah perpecahan umat ini.yangmenjadi latar belakang perpecahan umat adalah siapakah yang pantas penggantiNabiSalaullahualahiwasalam setelahwafat memimpin umat.??berbagai macam penafsiran datang dari berbagai kelompokumat islam tentang siapakah yang lebih berhak menggantikan NabiSalaullahualahiwasalam. Terjadilahsilang pendapat diantara kedua mazhab Syiah dan Sunni asensi dari pergantianini adalah ditunjuk atau dipilih, Syiah berpendapat bahwa yang pantasmenggantikan Nabi Salaullahualahiwasalam adalah  Imam Ali Kwj lewat penunjukan Nabi Salaullahualahiwasalamsecara langsung pada bebagai peristiwa salah satunya adalah peristiwa diSakifa dihadapan ratusan kaum musliminpada saat perayaan haji wadah Nabi.nabi menyampaikan kepada umat muslim saatini bahwa nabi akan menujuk Ali sebagai wali penganti Nabi untuk umat muslimsetelah wafatnya nanti.

sedangkandikalangan ahlul sunni beranggapan bahwa kepemimpima  setelah NabiSalaullahualahiwasalam di serahkan kepada Syahidina Umar lewatpemiliham atau musyawara,Ahlul sunna menyandarkan pendapatnya bahwa “Nabi tidak meninggalkan sesuatu,jikaditinggalkan adalah sadakah” (Hadist ini sifatnya personal sebab hanya abubakar yang mendengar saja.)maka wajar-wajar saja kepada siapa penggantiNabiSalaullahualahiwasalam nanti.
Darisilang pendapat dan perbedaan penafsiran inilah awal terjadi perpecahan didalamumat muslim.lantas timbul pertanyaan logika yg di bangun adalah bagaimanpemimpin yang baik itu antara dipilih atau di tunjuk.syiah berpendapat bahwaditunjuk itulah yang baik karena telah memenuhi syarat-syarat Pemimpin umatmisalkan berimu dan memahami persoalan agama, berilmu dimaksudkan kita dapatbertindak sesuatu pengetahuan kita tentang segalah sesuatu dan sudah tidakdiragukan lagi tentang kemampuan  ImamAli dalam segala hal. Sedangkan ahlul sunni beranggapan bahwa tidak terlalupenting pemimpin itu dia berbuat baik.

Dansetelah wafatnya nabi Salaullahualahiwasalam itrah Suci(ahlul bait)Nabitelahmendapat perlakuan buruk dari para penguasa saat itu misalnya peristiwa Tanah fadaq,Syahiddah Fatimah Az Zahra meminta haknya pada penguasa saat itunamun permintaanya diabaikan lantaran anggapan mereka bahwasanya “Nabi tidak meninggalkan sesuatu,jika menigalkanadalah sadakah”.jangan kita juga menghukumi bahwa Syahiddah Fatimah Az Zahra adalahmatre akan tetapi bentuk perjuangan Syahiddah Fatimah Az Zahra adalah menegakankeadilan.bayangkan saja itrah Suci(Ahlulbait) nabi saja mendapat perlakuaan buruk apa lagi umat yang lain.

Dari sinilah kondisi Islam semakin takstabil ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang berlandaskan pada perpecahansemata,Pada abad pertengahan banyak aliran mazhab yang berkembang dalamkalangan muslim namun sampai saat ini hanya tersisa  Empat mazhab besar saja.apa yangmendasar(hadist) menegaskan kepada kita berpegang teguh pada Empat mazhab ini. Agamamemiliki dua sisi satu akademis dan ideologis, dari sisi akademis kita meyakinikayakinan kita benar adanya sedangkan ideologis kita masi mengajak kita dalamhal menyelesaikan persoalan lewat jalan berdiskusi.Apa yang pokok dalamislam,kita masih di diagap muslim jika masih meyakini:Tuhan yg sama, nabi yangsama dyan meyakini hari akhir.

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #ISLAM, KETAULADANAN,DAN CINTA DALAM KEBHINEKAAN_

            Akhir dari tujun hidup adalah memperoleh kebahagian. kebahagiaan baik sifatnya semuh maupun sifatnya kekalabadi, masing-masing dari kita memperoleh kebahagian dengan cara dan jalan yang berbeda-beda sesuai  dengan pengalaman dan pengetahuannya.maka jangan heran jika dalam mewujudkan kebahagian tersebut mereka tak segan-segan melakukan hal-hal yang diluar kesadar manusia misalnya;pemakaian narkoba,free seks,dll.ini merupakan kebahagian yamg sifatnya semuh dan sesaat namun bagaimana betuk kebahagian yang sifatnya hakikih itu.?? Apakah dalam menggapai kebahagian itu selalu beriringan degan nilai etika dan estetika??Jika,benar adanya bagaimana kita selayaknya memposisikan nilai etika dan estetika sesuai kadarnya dalam kehidupan ini.
            Islam tak hanya dipandang sebagaiagama samawi yang menyeruhkan pengikutnya semata-mata beribadat kepada Tuhanya tetapi islam adalah jalan hidup (way islife) yang selalu bersandar pada nilai etika dan estetika dalam menggapai kebahagiaan. bukan hanya bahagia saja akan tetapi keselamatan,keselamata yang menjadi pangkal dari tujuan hidup. Sebab islam menurut bahasa arab” Asalam-yuslimu-islaman” yang secara kebahasaan berarti “ menyelamatkan”.islam berati selamat, kedamaian,sentausa,sedangkan  secara syar’I islam berarti berserah diri,tunduk patuh,dengan kesadaran yang tinggi tanpa paksaan.jadi islam itu adalah penyerahan diri secara totalitas kepada Tuhan sang pencipta.

            Islam datang dengan risalah sucinya yakni Rahmatanlilalamin(sebagai rahmat bagi alam semesta),rahmat bukan saja hanya sesama manusia akan tetapi rahmat bagi seluruh alam semesta dan didalamnya terdapat hewan dan tumbu-tumbuhan. Islam menganjurkan kepada pemeluknya menaburkan rasa cinta di atas segalanya,menaburkan kasih sayang, menaburkan perdamaian antara sesama.karena, dengan itu kita telah mewujudkan risalah sucinya Rahmatanlilalamin (rahmat bagi alam semesta).Oleh sebab itu kita dalam hal ini memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi,memgayomi,menyelamatkan,memberikan rasa aman dan damai bagi siapa saja, tak mengenal bentuk,warta kulit,rambut,jenis kemin, suku, ras, ideology,mazhab bahkan agama tertentu.
      
            Agama selayaknya menjadi tempat bersandar,menjadi landasan dan kiblat bagi setiap pemelukya untuk bartindak ,dan idealnya  agama adalah memberikan rasa aman dan kedamain bagi pemeluknya dalam pergaulan social antara sesama pemeluk dan maupun antara pemeluk agama yang lain. namun membunuh, memfitanah,menghujat, memgkafirkan atara sesama atas dasar agama.agama telah berubah bentuk dari zona ternyaman menjadi boomerang bagi setiap orang, pemeluk-pemeluknya telah beruba dari melindungi menjadi predator-predator  yang kehausan darah.sebab tak sepahaman,tak seideologi,tak semazhab dan tak seagama denganya.


            Isalam bagiku adalah agama cinta,agama kedamaian, agama keadilan,dan agama toleran.bukan islam yang terlihat sekarang yang yang selalu menonjolkan sisi kekerasan, dendam,islam sekarang bersifat agresif dan otoritas.keislaman kita sekarang telah jauh dari apa yang di ajarkan  Nabi Muhammad Saw dan di contohan oleh Ahlulbaitnya, karena mereka adalah sebaik- baik teladan.Nabi Muhammad Saw di utuskan ALLAH SWT  kepada kita lain dan tak bukanadalah memperbaiki ahlak kita,esensi dari peribadatan kita adalah menjaga ahlak kita agar tidak tercemari dari hal-hal yang dosa.dan sebaik-baiknya tauladan adalah Nabi Sallalahu alaihiwasalam,beliau berada pada ahlak yang agung yang dapat diwariskan pada ithrahnya(Ahlulbait)nya.


            Ketauladanan merupakan sikap dan perilaku seseorang yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan atau dijadikan contoh bagi orang lain yang mengetahuinya dan melihatnya.didalam bahasa arab tauladan adalah Uswatul Hasanah. Uswatul Hasanah merupakan suatu perbuatan baik seseorang yang patuh ditiru atau di ikuti oranglain.memberikan contoh dan panutan yang baik adalah salah satu metode pendidikan terpenting,karena dalam diri ada rasa keinginan tinggi untuk meniruhal-hal baik yang dilakukan orang lain.

            Potensi berbuat baik merupakan fitrah manusia.pada dasarnya manusia cenderung berbuat baik namum hanya saja mereka terpengaru hawa nafsunya sehingga dalam berbuat kebaikan selalu terhalangi.kebutuhan akan sosok yang diteladanan itu perluh dalam suatu peradaban,sebab kebutuhan akan keteladanan sebagai cerminan diri agar dapat kembali kepada fitah semulahnya.Dan orang yang menjadi tauladan harus memenuhi syarat-syarat menjadi tauladan.Lantas apa yang menjadi syarat-syaratmya ketika sesorang atau suatu kelompok menjadi tauladan.bagiku yang pertama dia harus berilmu lebih tinggih,memiliki rasa cinta dan  sikap kebijaksanaan dalam suatu perkara,dapat dipercaya,memiliki ahlak mulia.krateria atau syarat-syaratini melekat pada diri Rasullulah dan itrahnya yang mahsum(suci)dan tersucikan.Adakah diatara kita  ada yang memenuhi syarat-syarat tersebut??saya memiliki keyakinan lebih bahwa kita bisa menjadi tauladan bagi lingkungan social kita asalkan kita selalu tercerahkan  dan terjaga dari segala tidakan kita.

            Sikap dan perilaku kita ternilai baik jika kita tidak terjebak dalam pola pikir dan tindakan yang membuta atas segala hal yang mengatas namakan sesuatu yang tak seharusnya terjadi.sikap dan perilaku kita ternilai santun jika kita memahami akan segala perbedaan walaupun sifatnya prisipil misalnya;perbedaan pendapat,pilihan,pengetahuan,ideology,mazhab dan agama.Perbedaan hal-hal prisipil dalam diri manusia bukanlah sesuatu yang bertantangan seprti kata Karl mark “Pertentangan Kelas atara klas proletar dan klas birjois.akan tetapi berbeda pandangan dunianya saja atau berbeda dalam melihat dan menafsirkan realiats.

Tidak penting apapun agama atau sukumu
Jikakau dapat berbuat sesuatu yang baik bagi banyak orang
Orang tidak lagi bertaya apa agama atau sukumu

                                             “GUS DUR”
      
            Sebaik-baiknya manusia dia yang bermanfaat bagi manusia yang lain,melindungi dan mengayomi yang membutuhkan pertolongan,memberi bagi yang meminta,mejawab kalau ada yang bertanya itulah sebaik-baiknya manusia.
cinta dalam kebhinekaan merupakan sikap kita dalam merespom perbedaan-perbedaan yang prisipil dalam kehidupan social kita. Indonesia adalah negara multi etis,multi agama,multi suku,multi kebudayaan yang kesemuanya terkalaborasi dalam satu jati diri membentuk satu identitas bangsa Indonesia.

            Sikap menghormati antar sesama begitu melekat pada seluruh pemeluk agama-agama yang bersumber satu dari jadi diri  yakni pancasila.pancasila adalah sumber dari tata nilai kehidupan masyarakat senusantara,bhinekaTungga Ika sebagai pengikat kesadaran kehidupan bersama dan cita-cita yangsama dalam menggapai tujuan bersama.
Bagiku perbedaab itu bukandi hilangkan atau di tentangkan tepapi lebih dari memahami perbedaab itu sebab perbedaan itu adalah sesuatu yang indah yang sang desainernya adalah ALLAH AZZAWAZALLA.

                        
Isaac Ell-Rahman Boufakar

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #GADIS KECILKU BERMATA PELANG



Makassar,02 januari 2014
12 : 14 pm oleh; Ishak rahman Boufakar
GADIS KECILKU
BERMATA PELANGI

            Telapak kaki mungil, kurus tak beralas padang lamun, pasir kecil, kerikil tajam, butiran debu, rumput liar, genangan air, hanya itu yang teralas pada telapak kaki mungil nan kurus itu. Kini sabda-sabda liar dari mulut yang kaku teracungkan hanya senyum tipis , bola mata Kristal, rambut ikal tak terurus yang dapat terbaca, terpahami, terresapi pada hati yang berlapis baja, mata yang terkotak oleh sang tembok yang terteduh.
            Sahut menyahut salam rindu, angan, harapan, pada jubah-jubah yang sobek, kertas yang lentur, pita yang terurai, benang yang terutas, diding yang lembab, lantai yang tergenang, serta kertas yang berpasir.
            Sore itu langitpun berpihak pada gadis kecil ingusan itu, jari-jari kecilnya terpaut pada ke-7 warna garis pada cakrawala itu, sambil tersenyum disertai derap selangkah demi selangkah, pada garis yang berujung itu. Salam rindupun terucap di sela-sela kekaguman pada keindahan sesaat itu.
Adakah kau bertahan untuk ku sejam, sehari, sebulan, bahkan setahun ?
Adakah kerinduanmu untukku saat ini ?
Apakah kau memembenciku, memusuhiku, hingga langkah kakimu begitu cepat pada bola mataku yang malang ini?
Maukah kau menjadi teman, sahabat, kekasihku ?
Maukah kau berbagi cerita denganku tentang kehidupan yang kejam, menakutkan ini ?
Maukah kau menemani kesendirianku yang selama ini yang hanya embun dan mentari  yang rela menemaniku ?
Hanya itu saja pinta gadis belia pada sang pelangi yang sombong itu.
            Jiwanya seakan kosong, hampa, terbang melayang, mati berdiri tatkala  sang pelangi beranjak pergi, adakah kedatangannya pada setiap penantiannya, setiap kerinduannya, sang malampun mengetuk pintu-pintu langit dengan wajah gelap menakutkan, hanya saja cahaya sang bulan yang dapat membujuknya diantara gelap yang menakutkan itu.
            Me, ji, ku, hi, bi, ni, u ; merah, jingga, kuning, hijau, biru. Akupun berhenti pada hitungan hitungan warna biru. Ingatanku kembali pada gadis kecilku, warna kebanggaannya biru. Akupun bertanya-tanya dalam benakku sendiri, ada keunikan apa dengan warna itu? Bukankah warna itu yang nampak pada tubuh kita ketika terjadi benturan? Misalnya; terjatuh, tertampar, terpukul, yang terasa sakit karna warna itu, warna yang menakutkan,  bukankah begitu? Ataukah adakah keindahaan warna biru di balik warna ketakutan  dan kesakitan itu?
            Ya, gadisku menyukai warna itu dikarenakan ada keunikan tersendiri di antara warna-warni yang tampak pada garis di cakrawala itu.
            Ya, kenapa langit terlihat indah? Bukankah dihiasi oleh warna biru. Intensitas gelombang panjang dan pendek memancarkan warna biru sehingga langit terlihat biru nan indah. Bukankah lautan terlihat indah karna kebiruan, yang tampak walaupun warna aslinya bening, kenapa terlihat biru  yang menandakan kedalam dan kejernihan laut itu. Ada apa dengan warna ini? Atau kenapa ibu kosku memilih cat kamar kosku berwarrna biru bukan yang lain, ataukah dengan tidak sengaja saya memilih warna sepreiku yang bermotif biru, sehingga gadis kecilku terlihat polos pada dinding dan kasur kesayanganku.  Ikat rambut gadisku yang berwarna biru itu seakan bernyawa dengan seluruh penghuni kamar ini. Hanya  kebiruan itu yang menemani setiap tidurku ketika melekat pada kulit tangan yang kurus.
            Aku mencintai gadis kecilku dengan kebiruan. Kebiruan pelangi,  kebiruan laut,  yang tak pernah bermetamorfosis warna khas itu. Kerinduanku pun terobati dengan ikat rambut gadisku  yang biru itu atau dengan menatap kalikator bermotif biru pada  tembok dinding kamarku.
            Aku terlihat membisu ketika baju bermotif biru seakan menghalus pada penglihatanku,  angkot(pete-petee) jalur antang melaju begitu cepat hingga kebiruan itu menghalus pergi, akupun terus menatap  setiap  warna kebiruan yang menghampiri,  “adakah ia bersama warrna kebiruan itu?” itulah pintaku saat itu.
            Warna kebiruan itu yang bisa menghantarkan ingatanku pada masa sekolah jenjang pertama. Kebiruan yang terlihat rapih pada barisan-barisan yang tengah menghadap sang merah putih di halaman sekolahku. Kebiruan dan keputihanlah identitas jenjang pertama bagi mereka gadis-gadis kecil nan lugu atau pemuda-pemuda kecil bersuara serak. Atau celana kebiruan yang terlihat sobek ketika menaiki pagar-pagar sekolah.
            Warna yang terlihat bernyawa pada gadis beliaku yang tengah bercengkrama bersama segerombolan anak rumahan dengan julukan “sang lascar pelangi”. Sang pelangilah yang dapat memaksa mereka untuk kelua kamar, kelas, kantin, ruang fotocopyan, ataukah sang laskar yang memaksa mereka melawan keterbatasan, guru, teman, ibu, bapak, om, tante, nenek, dan kakek. Melawan setiap pengkekangan yang semena-mena otoritas sang mahha tau. Melawan membanting pintu, piring  ketika hasrat tak terpenuhi, atau melawan keluguan, malu, bimbang, ketika mengintipp di balik jendela rumah, ketika seseorang yang ditaksir melewati jalan-jalan yang penuh dengan keramaian itu.
            Senyum tipis suguhan gadis-gadis manja rumahan sang penguasa meja jualan pada poros jalan sekolahan. Ada yang terrlihat beda di antara gerombolan gadis-gadis belia itu,  seorang yang tak banyak bersuara, bertindak, menunduk ketika sorotan mata  yang berlawanan tertuju padanya, lugu, itu yang terlihat, mata yang beda di antara yang ada “ramah” itu yang terjamak.
            Saat itu ritual-ritual tahun baru  digenakan pada tembok-tembok kotaku. Kota yang yang terunik bahkan mengalahkan eropa yang eksotik, eropa yang berwajah imperalis, bahkan kota kecilkupun korban penjajahan. Aku tak pernah merasakan penjajahan itu tapi kata leluhurku itulah kiamat kecil bagi mereka. Aku tak selalu memandang eropa ari sisi eksotiknya, dibalik eksotiknya itulah menyembunyikan predatornya. Aku yakin kita semua memiliki catatan-catatan kaki  bagi benua itu. 
            Terlihat dengan jelas dibalik ruang tamu itu gadis kecil nan lugu itu tengah berdialektika dengan kitab-kitab yang buram. Langkah kakiku pun terlihat pada jalan yang setengah aspal itu. Tanpa sadarpun terlihat kontak mata si gadis di balik bilik itu. Ada yang beda dengan tatapan itu, sayapun memilijh diam tak bersuara hanya saja nafas yang tak beraturan terdengar pada telinga. Duduk, berdiri, kesana,kemari itulah ekspresi saat itu. Tanpa sadar lambaian tanganku tertuju pada gadis belia itu,  namun ia tetap acuh tanpa memperdulikan seruan itu. Dan akupun tak mau mengalah  berulang-ulang kali  seruan itu dan akhirnya gadis belia itu beranjak dari tempatnya namun ia pun kembali pada tepatnya semula.  Setelah beberapa menit gadis belia itupun keluar dari zona amannya. Saya pun mengikutinya dari belakang, bak menghitung setiap langkah kakinya. Ia pun membelok dan masuk kedalam sekolah  dimana tempat perkemahan anak-anak SD saat itu. Sayapun berhenti di gerbang sekolah  ibarat bait UUD 1945 “menghantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka bersatu, berdaulat adil dan makmur” seperti itu keadaan yang nampak pada saat itu.
            Ada sesuatu yang berbeda dengann saya, ada keinginan yang tinggi  untuk memiliki gadis belia itu. Rencana yang tak terrencana, skenario yang tak terskenario, pesan  yan tak terpesankan, pengunjung yang tak terkunjungi, desah yang tak terdesahkan. Itulah yang selalu muncul  dalam benakku dari mana, kemana, siapa, di mana, dan bagaimana, itulah yang terjamak di kepalaku. Ada sesuatu yang menghentikan kakiku ketika melangkah menuju gadis itu. Yaaa… cemas, takut, malu, bimbang, ragu-ragu, itu yang menghentikan langkah kakiku. Seakan terdengar tembok sekolahan itu bersuara  dengan keras “dasar cemen, penakut”,  sayapun terlihat bodoh saat itu. Antara maju atau mundur, diam atau bersuara, duduk atau berdiri, pulang atau bertahan, semua tercampur menjadi satu tak bisa membedakan, mamilah, atau menafsirkan.
            Pada saat diam terpaku, terlihat bayang gadis itu bersama temannya menuju toilet di pojok sekolahan itu. Dengan keberanian ½ saya menghampiri gadis belia itu. Toilet buntut dan bau layaknya tumpukan sampah metropolitan yang tak tersentuh cairan penghancur bakteri. Namun inilah suasana romantika, lebih sensasi, terdahsyat, lebih nikmat dari kopi cappocino dingin atau good day suguhan rumah kopi yang membual itu.
            Detak jantung tak beraturan, berdetak tanpa irama, nafas tersendak-sendak di lubang hidung, tubuh bergetar bak penggiling gabu padi, tatapan mata seakan mengambang, terpancarkan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Tak kuasa menahan suasana itu,
Saya : “beta pu itu bagimana???
 Itu yang terlontarkan dari mulut yang kaku
            Si gadis belia : “apa. . .???
Itu yang terjawab dari mulut gadis belia itu.
            Saya : “yang beta bilang di awat itu”
Lebih meyakinkan
            Si gadis belia : “oowgh itu.”
            Saya : “iya,lai bagimana, mau ka seng???
Lebih meyakinkan si gadis belia
            Si gadis belia : “emm J bagimana ee”
Terdengarnya penasaran
            Saya : “bagimana, capat ka beta mau pulang”
Kedengarannya memaksa
            Si gadis belia :  “emm J beta mau”
Kedengaranya pasrah
            Saya : “iya beta pulang doo ee J “

            Tanpa menunggu peintah sayapun menaiki pagar sekolahan itu “yes J, yes J, yes J” , sayapun berlari dengan gembira, riang ingin terbang, seketika, tertawa sendiri sambil membayangkan prolog tadi.
            Suasana berubah seketika, saya merasa berhasil, menang menaklukkan impian saya. Ibarat pasukan umat muslim menaklukkan musuh-musuh pada perang khaibar, bangsa Indonesia atas  penjajahan jepang dan belanda atau penaklukkan kota kostantinopel, itulah suasana yang tergambar saat itu. Awal yang tak terrencana dan ujung yang tak berbentuk. Malamku pun terjamak dengan sajak-sajak usang, sajak-sajak yang tertuang dalam kitab-kitabku yang tak bernama itu. Baik sang seniman kata-kata Andre hirata, sang sufi Jalaludin Rumi, Habibul rahman el-siradji, khalil Gibran dengan sayap-sayap patah, soe hook Gie dengan catatan sang demostran, khairil Anwar, W.S. Rendra, Pramodia antara teori “bumi dan manusia” semuanya hadir dengan sendirinya menemani setiap malamku yang larut itu..
            Gadis kecilku nan lugu seakan hadir pada langit-langit kamarku, dinding kamar yang bolong, karpet panjang yang berbukit; tertawa kecil tanpa suara seakan menyobek-nyobek gantungan baju pada dinding kamar itu. Bolak-balik badan, membuka menutup bola mata tak mampu terhitung pada malam yang larut itu.
            Hingga pagi yang sombongpun menjemput dengan mentarinya seakan membakar kulit-kulit mungil di balik dahan pohon itu. Terlihat barisan gadis-gadis mungil itu dengan jelas bola mata Kristal terderet dalaam barisan itu. Sayapun tersenyum memoriku memaksa untuk kembali pada malam berseri 01-01 2009 itu. Sayapun kembali berdialektika dengan memoriku yang sedikit terisi itu, hanya gila saja terucap dari mulutku untuk otakku. Gadis-gadis itu sedang berpiknik rupanya hanya tatapan hampa itu ajakan dari  wajah gadisku yang mungil. Saya tak berani berkata apalagi  bergabung bersama barisan panjang itu.  Sayapun melepaskan dengan hati sedikit tersentak, gadis beliaku bersama barisan para laskar  yang berpelangi itu.
            Dan pelangiku tak bermunculan lagi ketika rintik hujan bersama panasnya matahari. Pelangiku beranjak pergi bersama barisan panjang di pagi itu. Bersama laskar yang menarik kebiruan dari penglihatanku. Kebiruan langitku, dan kebiruan lautku.
            Saya kembali berdialektika dengan lembaran-lembaran di bawah lemariku, di bawah bantalku, dan di bawah lipatan bajuku. Semua terasa mimpi apa yang terasa dan terlihat hanyalah lamunan panjang, lamunan yang seakan menyita seluruh realitas kehidupanku, tentang cinta berseri, tebaran pesona, dialog yang bergetar,  toilet yang tak terurus, dinding sekolah yang bolong, arloji yang berdering, sajak yang tak bernama, bernama yang tak berwajah, “cinta satu malam” hanya itu saja yang terdesain pada cover depan lembaran putih kata itu.
            Rotasi bumi terhenti sejenak, malam sedikit kesiangan dan siang sedikit kemalaman, semua tampak menatap ukiran tebak pada cover itu “cinta satu malam” aku tak mau siapapun yang menginspirasi kecuali inspirasi yang menggodaku, membujukku itu yang aku mau “bukan si Melinda” tapi “si realitas cintaku yang berseri itu”. Hanya gadis beliaku itu saja yang ku mau. Aku tak begittu jelas memandang wajah gadisku yang polos nan lugu itu. Hanya lugu dan poloslah ada pada ingatanku yang sedikit terisi angin. Bahkan jari-jari, tangan, dagu, pipi, rambut, bola mata gadisku pun aku tak mengenalnya. Saya tak dapat memahami sampai sekarang kenapa semuanya berubah tawar saat itu.
            Kami tak lagi bercengkrama apalagi membelai rambutnya, mengusap keningnya, mengkecup keningnya yang lebat itu, menatap bola matanya agak sedikit lama, dan  menatap bibirnya yang tipis agak lama, tak satupun saya perbuat saat  itu. Hanya kebencian atas dirilah yang dapat tergambarkan saat itu. Antara marah, kesal, benci, tampar, lempar, membanting, dan memotong. Semuanya terbentuk hanya wajah gadisku yang tak terbentuk saat itu. Tak ada hakim dari belanda, atau imam dari iran, sang ratu dari inggris, sang seni dari italia, sang pedalaman dari afrika yang eksotik, bahkan sang pustakawan dari bagdad sekalipun tampak wajah mereka menghakimiku. Hanya cambuk-cambuk kecil dari tanah arab yang panas mencambuk setiap keluh kesalku pada cinta berseri itu atau sang penjudi di miraza skalipun tak mampu membayar harapanku yang sirna saat itu.
            Sang waktu tak berkiblat ke padaku. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan. Kami terlihat kaku  pada poros jalan-jalan ketika sang pelajar menghabiskan jam belajarnya. Hanya menunduk, terdiam, terpaku, membisu, sapaan kala itu. Saya tak bisa mencerna setiap respon-respon ini. Respon yang tak bermakna, terdefenisi, tersirat, semakin tersudut dan terpojok setiap hari. Walaupun si Albert Enstein, Ibnu kaldu, ibnu Sina, Sir Isaac newton, Al-farabi, dan Aristoteles  mendiktiku sekalipun aku tidak dapat mendefenisikan setiap respon-respon kami saat itu.
            Semakin hari semakin terlihat jelas. Kami terlihat saling menjauhi, bahkan melupakan hadir meramaikan suasana. Sayapun kembali berkiblat pada cinta yang lain, entah apa alasanya tetap berkiblat, itulah jawaban saat itu. Gadis beliaku terlupakan dari ingatanku, terhapus dari langit-langit kamarku, dinding-dinding kamarku, pohon-pohon rimbun, serta ayunan-ayunan berfer. Cinta pada yang lainpun mulai bersemi tanpa hujan, lembab, maupun mendung. Cinta pada yang lain terus subur, tanpa persemaian, tanpa pemilihan benih, perkecambahan. Terus melajut tanpa penyiangan, alih fungsi, lahanpun mencoba di adopsi pada penyebaran senyum itu.
            Tebaran pesona semakin menghijau pada tanah-tanah yang tandus terbakar seketika itu.
            Hingga padaa  hari pementasan drama sekolahan gadis kecil mungilku, malamnya tanpa sengaja saya di kejutkan dengan kedatangan mereka bertiga di samping pekarangan rumah kami. Sayapun memberanikan diri untuk mendekati gadis kecilku lagi, ada sinyal-sinyal terpancar yang tampak saat itu. Sayapun mengantar mereka meminjam segala keperluan pentas mereka, dan saat itu sudah larut malam, saya dan kawan saya (nabil) mengantarkan mereka pulang ke rumah. Namun, begitu kagetnya saya di tengah perjalanan kakak dari si gadisku ini menjemputnya dan sayapun menjauh dari jemputan kakaknya itu. Hingga pagi untuk acara pentasnya, saat itu gadiskulah pembaca skenario dari sebuah drama yang di pentaskan saat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati saya “kau tak beda dengan penyair yang membumi”. Dan kamipun tak berjumpa lagi untuk yang kedua kalinya.
            Pada saat akhir studyku pada jenjang akhir sekolah berlogo “Mitreka Bhineka” gadis beliaku tak lagi di sampingku. Yang di samping hanyalah bekas pacar dari kakak gadis mungilku dan nia yang pernah ku lempari dengan kursi kelas dudukku. Gadis kebiruanku terlihat di pojok-pojok barisan yang tengah tersenyum tanpa isyarat. Aku tak dapat mendefinisikan senyum itu. Senyum perpisahan atau senyum kesedihan, aku begitu tak bisa membedakan bahasa isyarat itu.
            Aku tak dapat meninggalkan sesuatu untuk gadis kecilku kecuali ketidak pastian, hanya itu saja yang kutinggalkan. Ketidakpastian yang tak terbentuk, tak berwajah, tak terkontak. Saat itu aku tak memiliki nomor ponsel gadis kecilku, hanya kertas-kertas buram yang terhempas kesana kemari tanpa sedikit tinta terjamak pada wajah kertas itu. Bahkan wajah gadis kecilku pun tak terlihat ketika kapal bertujuan kota Patimura itu berangkat. Hanya si vina yang melambaikan tangan dari sudut gerobak-gerobak tua. Atas pintaku padanya saat itu. Si Nia pun datang dan akupun malah menjauhinya ketika ingin melepaskan kepergianku ke kota Patimura.
            Ransel kecilku penuh catatan-catatan kaki tentang kemarahanku pada si Nia, atau si Titin yang tak mau menghantarkan kepergianku hanya menitip foto itulah lambayan tangannya dari wajah foto itu. Aku begitu melupakan gadis kecilku, ia pun tak hadir dalam ingatanku saat itu.
            Kota sang patimura, berkawan srikandi Kristina Martha Tiahahu mencoba menghapus setiap memoriku tentang gadis kecilku. Gadis belia bermata pelangiku begitu tersusun rapi pada tumpukan-tumpukan kitab di kamarku. Kabar berita gadis kecilku tak pernah terlontar pada setiap sabda-sabda liarku, kami begitu melupakan satu sama lain. Aku mendengar kabar berita dari adikku yang kebetulan teman sekelasnya, bahwa ia telah berdekatan dengan seorang teman kelasnya. Saya begitu tak yakin, tapi itulah realitanya. Akupun memilih cinta yang lain, ia pun sebaliknya, kami sedikit tenang di samping teman baru kami masing-masing. Walau kenyataannya tak selalu begitu.
            Tuhan begitu tinggi maha kuasanya kepada hamba-hambanya. Begitu bijaksana atas keputusan-keputusannya, maha jeli dalam desainnya, hanya Tuhan lah desainer yang ulung. Bukan desainer yang maha tau, Tuhan lah sang penepati janji tatkala hamba-hambanya terhipnotis mengingkari setiap perjanjian. Apakah ini rencana Tuhan, aku begitu tak berkata apa-apa ketika gadis kecil bermata pelangi itu mengiyakan pintaku “melanjutkan hubungan kami”.
            Kini pelabuhan tima di panaskan kembali. Tauri di bunyikan dari puncak binaya, kain kapitan di ikat kembali pada kepala yang kepanasan tombak dan runcing. Parang yang tajam kembali bergerak pada barisan yang terdepan memegang kepala musuh dan memotong seketika. Kami pun kembali berperang melawan kecemburuan, kebencian, perselingkuhan, kebohongan, pengkhianatan yang seakan memakan setiap jeda-jeda penantian akan kehadiran cinta dan kasing sayang.
            Tiga tahun lamanya kami tak berjumpa, bertatap apalagi bercengkrama berbagi, mengisi, menghibur. Kali ini saya memilih berkiblat pada hubungan jarak jauh (LDR).

#Bersambung...