Penyunting :
Ishak rahman Boufakar.
Teman diskusi : Ainy Renren.
SINOPSIS NOVEL :
Novel ini
menceritakan tentang seorang muslima yang taat Nidah Kirana namanya,aktifitas
keseharianya layak muslima taat pada umumnya.berhijab,tidak
meninggalkan sholat,membaca al-qur’an.semakin kecintaanya pada islam ia pun
aktif dalam berbagai organisasi islam.namun pada suatu saat Nidah kirana merasah
kecewa terhadap islam, kekecewaan itu meniscayakan segalah bentuk ketaatanya
selama ini begitu sia-sia bahkan pada titik kulminasinya ia beranggapan bahwa
Tuhan telah membohonginya.bentuk akumulasi kekecewaanya ini ia melalukan
hal-halnya bertentangan dengan islam, ia mulai merokok,minum minuman beralkahol
sampai pada seks bebas.motifasi dari aktifitas ini sebagai bentuk pemberontakan
terhadap Tuhan.menurutnya demensi lahiriah tidak menjamin sifat asli seseorang
sebab kenapa laki-laki yang pernah menidurinya adalah orang-orang yang
terhormat(Ustad,seniman,aktifis islam)baginya cinta dan pernikahan menjadi
nihil.dengan perasaan kecewa,marah dan kesal ia berusaha mengumpulkan
dalil-dalil untuk pembenaran tindakanya.
Konklusi dari
kisah ini adalah bagi saya Nidah kirana adalah
sosok yang berani,ia telah berani dalam memilih jalan yang ia
dambakan.dia berani mentaati segalah peraturan sang iblis penuh dengan
kesetiaanya.bagi saya kesetiaan dan keberanian
inilah yang patut kita contohkan atas apa yang menjadi kecintaan kita,jika Tuhan
adalah pangkal kecintaan kita maka konsekuensi bagi para pecinta adalah
pengakuan akan kesempurnaan dan melebur didalamnya.
Dari kisah diatas
dapat saya Sederhanakan kedalam topic diskukusi bersama
AINY RENREN_ via BBM(BlackBerry Messenger),yaitu: “Bagaimana
menjadi muslima yang baik itu”
# BAGAIMANA
MENJADI MUSLIMA YANG BAIK ITU ?
AINY RENREN : Menjadi muslima
yang baik itu sulit,kenapa sulit kerana banyak aturanya.sulitnya semisal
perempuan harus menundukan penglihatanya,keharusan berpakaian longgar,berhijab
dengan ukuran yang besar dan tidak di perbolehkan keluar rumah.dengan aturan
semacam ini pada zaman sekarang kita
jarang menemukan perempuan yang benar-benar sholeha.
ISAAC BOUFAKAR : Siapa yang memiliki otoritas menentukan aturan bagi perempuan
dalam berperilaku semisal diatas. Jika jawabannya adalah Tuhan, lantas
pertanyaanya kemudian apakah setiap aturan yang bersumber dari Tuhan itu semua
sifatnya baik atau buruk.? bagi saya semua hal dari TUHAN adalah baik
bergantung kepada bagaiman kita memahami kebijaksanaan Tuhan.
AINY RENREN : Ya.. Jelasnya
itu perintah Tuhan ! bagi saya aturan itu sifatnya baik,tapi realitasnya ketika
perempuan memegang teguh kepada aturan
tersebut ia malah dikecewakan. misalnya pada kisah diatas.
ISAAC BOUFAKAR : Pertanyaanya kemudian kenapa perempuan
diperintahkan menutup autratnya(Berhijab), menjaga pandanganya,menjaga kesucian
dirinya dan lebih baik diruma dari pada keluar rumah.?
Rasionalitas dari
hal-hal diatas adalah: yang pertama “kenapa
perempuan diperintahkan menutup auratnya”– dalam pembahasan Filsafat
Hijab(Jilbab) “bahwa perempuan mengejar hatinya sedangkan laki-laki mengejar
tubuhnya “ oleh kerena itu perempuan diperintahkan menutup auratnya agar ia
dapat mengantisipasi kekejaman dan perlakuan buruk dari sifat maskulin(
laki-laki)
Jika perempuan
(Adik Khusnya) mau tau kenapa setiap aturan (menutup auratnya) itu terkhusus
bagi kalian. maka secara sadarnya adalah setiap aturan(Hukum) yang dilimpahkan
kepada perempuan dalam kehidupan sosialnya
itu semata-mata sebagai pelindung dari agama(Tuhan) untuk melindungi
perempuan pada wilayah material dari sifat maskulin(laki-laki) yang lebih
dominan menagkap esensi dari sesuatu yang diindrai. misalnya imajinasi seksual
itu begitu potensial pada akalnya ketika
mengkonsepsikan atau melihat secara langsung
perempuan yang tak menutupi auratnya (You Can see),jadi aturan itu
janganlah dipahami sebagai sikap pengkekangan dari Tuhan terhadap perempuan.
Dalam kajian
kesmologi perempuan prespektif islam,kita dapat memahami bahwa islam adalah suatu agama yang lengkap dengan
aturan-aturan meskipun dalam hal kecil misalnya kesucian diri(Thaharah). sederhananya
bahwa perempuan dalam islam mendapat perhatian khusus, jika kita mempelajari
al-qur’an maka kita akan menemukan banyak ayat dalam al-qur’an yang
membicarakan persoalan kekhususan aturan perempuan dibandingkan persoalan
laki-laki.dalam islam laki-laki jika ia keluar rumah tidak ada kewajiban dalam
memintah persetujuan istrinya tapi sebaliknya perempuan jika ia keluar rumah maka keharusan meminta
izin dari suaminya sebab kenapa untuk
memastikan istrinya dalam keadaan yang baik. hal ini menandakan bahwa secara
materil(Hukum) islam melindungi perempuan dibandingkan laki-laki,makanya tidak
adil jika perempuan beranggapan bahwa
Tuhan (agama) telah mengkekang hak-hak perempuan dalam persoalan dimensi
kehidupanya.
Dan yang kedua
“Kenapa perempuan dilarang keluar rumah ?”
Ketika anda
membaca buku Filsafat perempuan dalam Islam karya Murthada Muthahhari dan buku Risalah
hak-hak perempuan karya Prof.S.M.
Khamenei. Kita akan menemukan penjelasan detail mengenai tafsiran al-qur’an surah: Ath-Thalaq: 2
“ janganlah kamu keluarkan mereka dari
rumah dan janganlah mereka(diizinkan)
keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan kejih yang terang “
tafsiran ini berbeda dengan sebagian besar ulamah dalam menafsirkan
maksud dari ayat tersebut.
Hal ini
meniscayakan sebagian besar laki-laki masih memiliki pemahaman keliruh dalam
memperlakukan anak perempuan,sodarah perempuan dan bahkan istri-istri mereka. sehingga
perempuan dalam kondisi ini merasa tertekan,teralinalis dalam pangkuan
agama(Tuhan)sekalipun. tapi bagi saya lebih jelasnya ayat ini adalah bentuk
perlindungan bagi perempuan juga,kenapa demikian sebab.islam secara rasional
menjunjung keslamatan serta perlindungan terhadap perempuan dalam keadaan
apapun.bagi saya pelarangan perempuan keluar rumah semata-mata sebagai bentuk
perlindungan agar perempuan tetap terjaga keselamatan dan kesuciaannya. perempuan
juga pada kondisi tertentu tidak bisa dibatasi haknya layaknya laki-laki sebab
kenapa pada hakikat perempuan juga memiliki kewajiban yang sama menata dan
menciptakan peradabaan umat manusia yang lebih baik.seharusnya perempuan
dipastikan keluar dari rumahnya semata-mata demi hal-hal yang positif misalnya
ia menjadi seorang docter,guru,dosen dan direktur yang memiliki fungsi dan
tanggung jawab yang sama dengan laki-laki,dan jika sebaliknya ketika ia keluar
rumah semata-mata hal yang negative maka sebaiknya ia didalam rumah saja itu
lebih baik jika ia diijinkan keluar rumah.
AINY RENREN : Menurut Kaka
(Anda) lebih menyukai perempuan yang berijab ukurannya besar atau menyukai
perempuan dengan celana jeans. “behijab ukuran besar” tapi konsekuensinya jodoh
menjauh atau jika berjodoh hanya dengan ustad –tapi ustdnya juga kalau
sunah-sunahnya banyak maka dalil-dalil poligami begitu menguat dan pada akhirnya
meniscayakan “Dimaduh” atau bosan dan melepaskan istrinya.
ISAAC BOUFAKAR : Bagi saya ada kesalahan paradigmatis dalam
konteks ini, menurut saya kita terlebih
awal menjernihkan pemikiran tersebut agar orang-orang tidak bias dalam
menghukumi hukum Tuhan sebagai sesuatu yang jahat.
Bagi saya
motivasi orang dalam mencintai atau dalam
konteks ini memilih pasangan hidup perempuan yang berhijab besar atau perempuan
tak menutup auratnya(you can see) itu berbeda-beda orang berbeda motivasihnya.
Saya dalam hal
ini tidak meghukumi salah orang yang mimilih pasangan yang tak menutup auratnya
tetapi yang saya menyalahi adalah bagaimana cara pandang dia dalam memilih
pasang tersebut.dalam doktrin epistemology(Konsep pengetahuan) lebih jelas bahwa epistemology membentuk
pandangan dunia(bagaimana cara pandang kita tentang Tuhan,Manusia dan Alam) dan
dari pandangan dunia ini maka terbentuklah ideology(sisi praktiknya)bagaimana
bertindak sesuai cara pandangnya itu.
Makanya jangan
heran orang-orang dalam memilih pasangan hidup mereka lebih suka pada dimensi
eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar
spayol,seksualitas)tetapi tidak semata-mata pada hakikat dari bentuk kecintaan
itu.makanya perempuan juga keliru dalam pemahaman dan menggeneralkan bahwa
laki-laki itu semuanya sama dalam memilih pasangan lebih mengutamakan dimensi
eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar spayol,seksualitas) dan
kekeliruan laki-laki dan perempuan juga bahwa memilih pasangan hidup dengan
perempuan yang berhijab atau laki-laki yang alim itu adalah tidak canggi ini
adalah pemikiran yang salah.
Menurut saya
menjadi wanita muslima yang baik itu bukan bagaimana menyiapkan hijab yang
banyak dengan ukuran besar, mengurung diri dari lingkungan social, memandang
wanita lain yang berbedah dengan sebagai “Kafir/pemaksiat” atau membatasi
dirinya dari ruang-ruang pablik (Majlis ilmu,Parlemen,ekonomi dan social).
Penilaian inilah yang masih melekat pada sebagian besar saudarah-saudarah kita
yang muslimah.
Dan lebih lagi
mayoritas orang tua kita diseantero nusantara ini,menilai kesholehan dan
sholeha dari demensi eksitorik (Tampilan luarnya) kontruksi nilai ini telah
melekat dalam lingkungan dan relasi sosialnya. Sehingga meniscayakan orang yang
tampilan fisiknya tidak sesuai dengan bagaimana tampilan kesholehan yang
dipahami mereka tidak menyetujuinya ketika mendekati anak atau
saudara-saudarahnya. Bagi saya inilah kesalahan paradigmatic dalam penilaian,
kalau saya dapat katakana masyarakat kita lebih menangkap “bentuk” dari pada
“Makna”. Inilah kecenderungan penilaian yang matrial sekali.
Kembali kepada
persoalan wanita muslima_ketika kita membaca novel diatas maka dapat
menyimpulkan bahwa tokoh aku (Nidah
Kirana) yang pada mulanya dia adalah seorang muslima yang taat, namun pada
suatu saat dimana dia mendapat ngoncangan keras dalam kehidupanya. Dengan
kondisi ini meniscayakan ketidak
seimbangan diri maka dia memutuskan menjadi seorang pelacur yang pada dasarnya
dari sisi etika, estetika dan logika bertentangan dengan islam itu sendiri.
Nah.. timbul
pertanyaannya kemudian “kenapa Nidah kirana berperilaku seperti itu.?” Menurut
saya, saya tidak dapat menghukimi “salah” tindakannya menjadi pelacur. Tapi
yang saya nilai salah itu pada pandangannya tentang bagaimana menjadi seorang muslimah yang sebaik-baiknya,
bagi saya Nidah tidak mamahami betul apa
yang menjadi hakikat dari muslimah itu. Kenapa demikian dia memahami menjadi
seorang muslimah itu adalah keterpaksaan dari suatu kewajiban bukan atas dasar
kecintaan.
Kata Ustad Mifta Rahmat dalam ceram Asyurah
Imam Husain as. Ada dua ciri orang menjalankan perintah Tuhan: yang pertama
mereka menjalankan perintah Tuhan karena mengharapkan Surga dan takut akan neraka dan
yang kedua adalah mereka yang menjalani perintah Tuhan karena kecintaannya
terhadap Tuhan. Pada kondisi ini kita menjalani perintah tuhan atas dasar
keterpaksaan atau mengharapkan sesuatu bukan penyerahan secara totalitas
kepada-Nya. Sehingga di dalam perjalanan ketaatan kita, ketika kita dihadapkan
dengan kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan maka dengan sendirinya kita
dapat mengabaikan apa yang dapat kita kerjakan. Tetapi sebaliknya jika ketaatan
kita berdasarkan atas kecintaan maka kita dengan ikhlas menjalaninya, hanya
pecinta yang dapat memahami kekasihnya.
Kata Ustd A. M.Safwan pada kajian Kosmologi
perempuan dalam islam, “Jika kalian memiliki anak dan mengenalkannya pada Tuhan
maka yang paling terutama diajarkan adalah “Kecintaan” barulah hukum-hukum.
Agar ia dapat menjalani perintah Tuhannya dangan kecintaan bukan atas dasar
keterpaksaan.
Imanuel khant dalam pembahasan moralitasnya : Tindakan yang terkesan baik bisa
bergeser secara moral apabila dilakukan berdasarkan rasa kewajiban melaingkan
pamrih yang dihasilkan, tetapi perbuatan ternilai baik apabila dilakukan
semata-mata hormat hokum moral, itulah kewajiban.”
Semoga tulisan ini
bermanfaat bagi kita semua…
Wassalam.
BERSAMBUNG….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar