Jumat, 13 Februari 2015

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR: Bagaimana Muslimah yang baik itu ?? -Diskusi:NOVEL “TUHAN IJINKAN AKU MENJADI PELACUR(Karya:Muhidin. M. Dahlan) “


Penyunting : Ishak rahman Boufakar.
Teman diskusi : Ainy Renren.

SINOPSIS NOVEL :
Novel ini menceritakan tentang seorang muslima yang taat Nidah Kirana namanya,aktifitas keseharianya layak muslima taat  pada umumnya.berhijab,tidak meninggalkan sholat,membaca al-qur’an.semakin kecintaanya pada islam ia pun aktif dalam berbagai organisasi islam.namun pada suatu saat Nidah kirana merasah kecewa terhadap islam, kekecewaan itu meniscayakan segalah bentuk ketaatanya selama ini begitu sia-sia bahkan pada titik kulminasinya ia beranggapan bahwa Tuhan telah membohonginya.bentuk akumulasi kekecewaanya ini ia melalukan hal-halnya bertentangan dengan islam, ia mulai merokok,minum minuman beralkahol sampai pada seks bebas.motifasi dari aktifitas ini sebagai bentuk pemberontakan terhadap Tuhan.menurutnya demensi lahiriah tidak menjamin sifat asli seseorang sebab kenapa laki-laki yang pernah menidurinya adalah orang-orang yang terhormat(Ustad,seniman,aktifis islam)baginya cinta dan pernikahan menjadi nihil.dengan perasaan kecewa,marah dan kesal ia berusaha mengumpulkan dalil-dalil untuk pembenaran tindakanya.
Konklusi dari kisah ini adalah bagi saya Nidah kirana adalah  sosok yang berani,ia telah berani dalam memilih jalan yang ia dambakan.dia berani mentaati segalah peraturan sang iblis penuh dengan kesetiaanya.bagi saya kesetiaan dan keberanian  inilah yang patut kita contohkan  atas apa yang menjadi kecintaan kita,jika Tuhan adalah pangkal kecintaan kita maka konsekuensi bagi para pecinta adalah pengakuan akan kesempurnaan dan melebur didalamnya.
Dari kisah diatas dapat saya Sederhanakan kedalam topic diskukusi bersama AINY RENREN_ via BBM(BlackBerry Messenger),yaitu: “Bagaimana menjadi muslima yang baik itu”



# BAGAIMANA MENJADI MUSLIMA YANG BAIK ITU ?
AINY RENREN : Menjadi muslima yang baik itu sulit,kenapa sulit kerana banyak aturanya.sulitnya semisal perempuan harus menundukan penglihatanya,keharusan berpakaian longgar,berhijab dengan ukuran yang besar dan tidak di perbolehkan keluar rumah.dengan aturan semacam ini pada zaman sekarang  kita jarang menemukan perempuan yang benar-benar sholeha.

ISAAC BOUFAKAR : Siapa yang memiliki otoritas menentukan aturan bagi perempuan dalam berperilaku semisal diatas. Jika jawabannya adalah Tuhan, lantas pertanyaanya kemudian apakah setiap aturan yang bersumber dari Tuhan itu semua sifatnya baik atau buruk.? bagi saya semua hal dari TUHAN adalah baik bergantung kepada bagaiman kita memahami kebijaksanaan Tuhan.

AINY RENREN : Ya.. Jelasnya itu perintah Tuhan ! bagi saya aturan itu sifatnya baik,tapi realitasnya ketika perempuan memegang teguh kepada aturan  tersebut ia malah dikecewakan. misalnya pada kisah diatas.

ISAAC BOUFAKAR : Pertanyaanya kemudian kenapa perempuan diperintahkan menutup autratnya(Berhijab), menjaga pandanganya,menjaga kesucian dirinya dan lebih baik diruma dari pada keluar rumah.?
Rasionalitas dari hal-hal diatas  adalah: yang pertama “kenapa perempuan diperintahkan menutup auratnya”– dalam pembahasan Filsafat Hijab(Jilbab) “bahwa perempuan mengejar hatinya sedangkan laki-laki mengejar tubuhnya “ oleh kerena itu perempuan diperintahkan menutup auratnya agar ia dapat mengantisipasi kekejaman dan perlakuan buruk dari sifat maskulin( laki-laki)
Jika perempuan (Adik Khusnya) mau tau kenapa setiap aturan (menutup auratnya) itu terkhusus bagi kalian. maka secara sadarnya adalah setiap aturan(Hukum) yang dilimpahkan kepada perempuan dalam kehidupan sosialnya  itu semata-mata sebagai pelindung dari agama(Tuhan) untuk melindungi perempuan pada wilayah material dari sifat maskulin(laki-laki) yang lebih dominan menagkap esensi dari sesuatu yang diindrai. misalnya imajinasi seksual itu  begitu potensial pada akalnya ketika mengkonsepsikan atau melihat secara langsung  perempuan yang tak menutupi auratnya (You Can see),jadi aturan itu janganlah dipahami sebagai sikap pengkekangan dari Tuhan terhadap perempuan.
Dalam kajian kesmologi perempuan prespektif islam,kita dapat memahami bahwa  islam adalah suatu agama yang lengkap dengan aturan-aturan meskipun dalam hal kecil misalnya kesucian diri(Thaharah). sederhananya bahwa perempuan dalam islam mendapat perhatian khusus, jika kita mempelajari al-qur’an maka kita akan menemukan banyak ayat dalam al-qur’an yang membicarakan persoalan kekhususan aturan perempuan dibandingkan persoalan laki-laki.dalam islam laki-laki jika ia keluar rumah tidak ada kewajiban dalam memintah persetujuan istrinya tapi sebaliknya perempuan  jika ia keluar rumah maka keharusan meminta izin dari suaminya  sebab kenapa untuk memastikan istrinya dalam keadaan yang baik. hal ini menandakan bahwa secara materil(Hukum) islam melindungi perempuan dibandingkan laki-laki,makanya tidak adil jika  perempuan beranggapan bahwa Tuhan (agama) telah mengkekang hak-hak perempuan dalam persoalan dimensi kehidupanya.
Dan yang kedua “Kenapa perempuan dilarang keluar rumah ?”
Ketika anda membaca buku Filsafat perempuan  dalam Islam karya Murthada Muthahhari dan buku Risalah hak-hak perempuan karya Prof.S.M. Khamenei. Kita akan menemukan penjelasan detail mengenai tafsiran  al-qur’an surah: Ath-Thalaq: 2
 “ janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah  dan janganlah mereka(diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan kejih yang terang “
 tafsiran ini berbeda dengan  sebagian besar ulamah dalam menafsirkan maksud dari ayat tersebut.
Hal ini meniscayakan sebagian besar laki-laki masih memiliki pemahaman keliruh dalam memperlakukan anak perempuan,sodarah perempuan dan bahkan istri-istri mereka. sehingga perempuan dalam kondisi ini merasa tertekan,teralinalis dalam pangkuan agama(Tuhan)sekalipun. tapi bagi saya lebih jelasnya ayat ini adalah bentuk perlindungan bagi perempuan juga,kenapa demikian sebab.islam secara rasional menjunjung keslamatan serta perlindungan terhadap perempuan dalam keadaan apapun.bagi saya pelarangan perempuan keluar rumah semata-mata sebagai bentuk perlindungan agar perempuan tetap terjaga keselamatan dan kesuciaannya. perempuan juga pada kondisi tertentu tidak bisa dibatasi haknya layaknya laki-laki sebab kenapa pada hakikat perempuan juga memiliki kewajiban yang sama menata dan menciptakan peradabaan umat manusia yang lebih baik.seharusnya perempuan dipastikan keluar dari rumahnya semata-mata demi hal-hal yang positif misalnya ia menjadi seorang docter,guru,dosen dan direktur yang memiliki fungsi dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki,dan jika sebaliknya ketika ia keluar rumah semata-mata hal yang negative maka sebaiknya ia didalam rumah saja itu lebih baik jika ia diijinkan keluar rumah.

AINY RENREN : Menurut Kaka (Anda) lebih menyukai perempuan yang berijab ukurannya besar atau menyukai perempuan dengan celana jeans. “behijab ukuran besar” tapi konsekuensinya jodoh menjauh  atau  jika berjodoh hanya  dengan ustad –tapi ustdnya juga kalau sunah-sunahnya banyak maka dalil-dalil poligami begitu menguat dan pada akhirnya meniscayakan “Dimaduh” atau bosan dan melepaskan istrinya.

ISAAC BOUFAKAR : Bagi saya ada kesalahan paradigmatis dalam konteks  ini, menurut saya kita terlebih awal menjernihkan pemikiran tersebut agar orang-orang tidak bias dalam menghukumi hukum Tuhan sebagai sesuatu yang jahat.
Bagi saya motivasi orang dalam  mencintai atau dalam konteks ini memilih pasangan hidup perempuan yang berhijab besar atau perempuan tak menutup auratnya(you can see) itu berbeda-beda orang berbeda motivasihnya.
Saya dalam hal ini tidak meghukumi salah orang yang mimilih pasangan yang tak menutup auratnya tetapi yang saya menyalahi adalah bagaimana cara pandang dia dalam memilih pasang tersebut.dalam doktrin epistemology(Konsep pengetahuan)  lebih jelas bahwa epistemology membentuk pandangan dunia(bagaimana cara pandang kita tentang Tuhan,Manusia dan Alam) dan dari pandangan dunia ini maka terbentuklah ideology(sisi praktiknya)bagaimana bertindak sesuai cara pandangnya itu.
Makanya jangan heran orang-orang dalam memilih pasangan hidup mereka lebih suka pada dimensi eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar spayol,seksualitas)tetapi tidak semata-mata pada hakikat dari bentuk kecintaan itu.makanya perempuan juga keliru dalam pemahaman dan menggeneralkan bahwa laki-laki itu semuanya sama dalam memilih pasangan lebih mengutamakan dimensi eksotorik(bentuk matiril:Kulit putih,tinggih,body gitar spayol,seksualitas) dan kekeliruan laki-laki dan perempuan juga bahwa memilih pasangan hidup dengan perempuan yang berhijab atau laki-laki yang alim itu adalah tidak canggi ini adalah pemikiran yang salah.
Menurut saya menjadi wanita muslima yang baik itu bukan bagaimana menyiapkan hijab yang banyak dengan ukuran besar, mengurung diri dari lingkungan social, memandang wanita lain yang berbedah dengan sebagai “Kafir/pemaksiat” atau membatasi dirinya dari ruang-ruang pablik (Majlis ilmu,Parlemen,ekonomi dan social). Penilaian inilah yang masih melekat pada sebagian besar saudarah-saudarah kita yang muslimah.
Dan lebih lagi mayoritas orang tua kita diseantero nusantara ini,menilai kesholehan dan sholeha dari demensi eksitorik (Tampilan luarnya) kontruksi nilai ini telah melekat dalam lingkungan dan relasi sosialnya. Sehingga meniscayakan orang yang tampilan fisiknya tidak sesuai dengan bagaimana tampilan kesholehan yang dipahami mereka tidak menyetujuinya ketika mendekati anak atau saudara-saudarahnya. Bagi saya inilah kesalahan paradigmatic dalam penilaian, kalau saya dapat katakana masyarakat kita lebih menangkap “bentuk” dari pada “Makna”. Inilah kecenderungan penilaian yang matrial  sekali.
Kembali kepada persoalan wanita muslima_ketika kita membaca novel diatas maka dapat menyimpulkan bahwa tokoh aku (Nidah Kirana) yang pada mulanya dia adalah seorang muslima yang taat, namun pada suatu saat dimana dia mendapat ngoncangan keras dalam kehidupanya. Dengan kondisi ini meniscayakan  ketidak seimbangan diri maka dia memutuskan menjadi seorang pelacur yang pada dasarnya dari sisi etika, estetika dan logika bertentangan dengan islam itu sendiri.
Nah.. timbul pertanyaannya kemudian “kenapa Nidah kirana berperilaku seperti itu.?” Menurut saya, saya tidak dapat menghukimi “salah” tindakannya menjadi pelacur. Tapi yang saya nilai salah itu pada pandangannya tentang bagaimana  menjadi seorang muslimah yang sebaik-baiknya,  bagi saya Nidah tidak mamahami betul apa yang menjadi hakikat dari muslimah itu. Kenapa demikian dia memahami menjadi seorang muslimah itu adalah keterpaksaan dari suatu kewajiban bukan atas dasar kecintaan.
Kata Ustad Mifta Rahmat dalam ceram Asyurah Imam Husain as. Ada dua ciri orang menjalankan perintah Tuhan: yang pertama mereka menjalankan perintah Tuhan karena mengharapkan Surga dan takut akan neraka dan yang kedua adalah mereka yang menjalani perintah Tuhan karena kecintaannya terhadap Tuhan. Pada kondisi ini kita menjalani perintah tuhan atas dasar keterpaksaan atau mengharapkan sesuatu bukan penyerahan secara totalitas kepada-Nya. Sehingga di dalam perjalanan ketaatan kita, ketika kita dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan maka dengan sendirinya kita dapat mengabaikan apa yang dapat kita kerjakan. Tetapi sebaliknya jika ketaatan kita berdasarkan atas kecintaan maka kita dengan ikhlas menjalaninya, hanya pecinta yang dapat memahami kekasihnya.
Kata Ustd A. M.Safwan pada kajian Kosmologi perempuan dalam islam, “Jika kalian memiliki anak dan mengenalkannya pada Tuhan maka yang paling terutama diajarkan adalah “Kecintaan” barulah hukum-hukum. Agar ia dapat menjalani perintah Tuhannya dangan kecintaan bukan atas dasar keterpaksaan.
Imanuel khant dalam pembahasan moralitasnya : Tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan berdasarkan rasa kewajiban melaingkan pamrih yang dihasilkan, tetapi perbuatan ternilai baik apabila dilakukan semata-mata hormat hokum moral, itulah kewajiban.”
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua…
Wassalam.

BERSAMBUNG….







Tidak ada komentar:

Posting Komentar