Selasa, 31 Maret 2015

TIKET KEMERDEKAAN

Oleh: Ishak Rahman Boufakar.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziara ke Mekka. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza, tetapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu sayangku.Soe hok gie

Bait-bait puisi dalam buku “ Catatan seorang sang demostran” yang ditulis oleh Soe hok gie (Gie- sapaannya) atau telah difilmkan dan disaksikan oleh seatero penjuruh nusantara  “Soe hok gie”. Sebuah film yang menggulas secara singkat kehidupan seorang aktivis besar (Razim orde baru- Soeharto) dan tokoh pendiri Mapala fakultas sastar universitas Indonesia. Film tersebut telah menyajikan secara gamlang krakteri idealisme Gie ditengah iklim gelombang orde baru. Pembubaran PKI (Partai komunis Indonesia), Tumbangnya razim orde lama (Ir. Soekarno) dan penurunan  harga sembako (Trisakti). Gie turut mengambil bagian dari protes rakyat terbesar sepanjang sejarah tersebut. Dalam keseharian Soe hok gie. Gie selalu menentang setiap kebijakan pemerintah hingga guru kelasnya yang dinilai bertentangan dengan segala pengetahuannya. Ketika temannya menanyakan alasan kenapa iya terus melawan ? “ Soekarno, Hatta dan Sahril mereka melawan kezaliman dan kesewenang-wenagan para penjajah sehingaa kita merasakan kemerdekaan ini “- Kata “Soe hok gie. “Guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukanlah kerbau”. Soe hok gie telah mampu  membukakan mata generasi  kita dari kebutaan dalam melawan kesewenang-wenangan penguasa yang zalim.

Dewasa ini berbagai fenomena yang telah kita saksikan bersama. Ironis dari setiap fenomena   tersebut telah menjadi hukum pengabaian bagi generasi kita. Generasi muda yang menjadi tonggak stafet dari bangsa ini, yang seharusnya memiliki rasa tanggungjawab atas setiap persoalan kebangsaan dan kenegaraan. Malah memilih menjadi penonton di negri sendiri ketimbang melibatkan diri dalam menjawab dan menanggapi segudang persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini.
Kondisi bangsa kita ibarat kapal tua yang kebocoran bilik-biliknya, kita generasi muda adalah penambal handal yang setiap saat selalu dibutuhkan untuk menambal setiap bocoran ditengan jalannya kapal. Kebocoran semakin hari semakin meluas hingga melebihi kapasitas penambal. Kebocoran disebabkan  oleh gelombang samudra yang keras menamrak dinding-dinding kapal dan kebocoran yang disebabkan oleh pahatan dari penumpang itu sendiri.

Badai Neoliberalisme mengisyaratkan “hempasan gelombang samudra yang keras” dan Korupsi para pejabat menyisyaratkan “Pahatan penumpang kapal. “ Kekuatan Pahatan membongkar setiap bilik-bilik kapal sehingga penumpang yang lain ikut terhanyut dalam badai samudra yang menakutkan. Korupsi menjadi virus mematikan yang terus menular pada setip abdi-abdi negra  yang serakah, abdi yang tidak memahami hakikat pengabdian dan abdi yang terus meminta tanpa memberi dengan keikhlas untuk bangsa dan negranya.

Globalisasi barat menghendaki setiap orang untuk keluar dari rumahnya, generasi muda disibukan dengan penawaran produk-produk komersial dari media-media barat. Ditangan generasi muda kita bukan lagi buku atau jurnal internasional sebagai tiket kemerdekaan tetapi produk komersial dengan harga melangit. Persaingan kosmetik klas dunia semakin memadati dinding media sosial, Facebook,twitter,BBM(Blackberry messenger),pat dan media yang lain telah difungsikan pada sisi komersial dan hedonism semata. Media yang memiliki peranan penting dalam mentransformasi pengetahuan kepada orang banyak telah disalah fungsikan. Kondisi ini sebagai akibat dari pengadopsian lifestyle barat secara menta-mentah.

Ruang-ruang public semakin sepih, partisipasi intelektual dalam politik semakin minim, kondisi ini yang meniscayakan kualitas kehidupan politik kita tidak berpotensi membangun malah kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyak banyak kita menjumpai.

Pandji Pragiwaksono dalam bukunya “Berani Mengubah. “partisipasi politik menjadi Keharusan semua orang, sebab kenapa. Keputusan-keputusan yang kita jalankan hari ini merupakan setiap putusan politik dihari kemarin.” Oleh sebab itu sifat apatis dan skeptic dalam partisipasi politik seharusnya dihilangkan dan mulailah mengaktualisasikan diri dalam setiap bentuk politik,sebab kenapa. Kita adalah bagian dari pengambilan keputusan tersebut.
Banyak yang bertanya ,setelah nasionalisme, lalu apa. ? Ada orang  yang skeptic bisa menguba Indonesia. Ada yang optimiis. Banyak pemuda yang selalu mempertanyakan kemajuan bangsanya. Padahal, semua sejarah menyatakan bahwa perubahan dibawa oleh pemudanya. Coba lempar pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, dan bergeraklah. Sekecil apa pun. Saya memang gerah, dan saya memilih untuk tidak menyerah”. Pandji Pragiwaksono, dalam bukunya “Berani Mengubah.”


Hakikat dari tiket kemerdekaan kita adalah seberapa besar kita membaca, seberapa besar kita memahami dan seberapa besar kita berjuang untuk itu. Membaca harus dibudayakan sejak dini, sebab kenapa. Budaya membaca generasi kita saat ini sangat memprihatinkan. Diperpustakaan kampus, tokoh buku, ruang bedah buku dan gerakan membaca semakin sepih kaulah mudahnya. Kaulah mudahnya sibuk dengan rutinitas perbelanjaan kosmetik, jeans dan kaos. Mereka seakan lupa dengan tanggungjawab intelektual dan sosialny, kamus ilmiah, literatul dan handbook tak lagi memadati meja kamarnya atau lemari-lemari buku diganti menjadi lemari kosmetik.

Tiket kemerdekaan telah tergantikan dengan tiket penindasan ala komersil. Perempuan telah keluar dari rumahnya, bukan menuntuk ilmu tetapi ketempat objek-objek wisata ketelanjangan ala barat. Ketelanjangan sebagai symbol keterbelakangan masyarakat primitive telah diadobsi oleh barat sebagai bentuk modernitas. Menutup aurat (hijab) dinilai sebagai symbol keterbelakangan oleh modernitas barat.

Alisyariati pernah berkata “Aku kehilangan aku dalam diriku, aku yang saat ini bukan lagi aku(bukan lagi kehendak diri sendiri) tetapi akunya modernitas. Menurut Alisyariati : Modernitas merupakan produk barat yang dicoba ditawarkan/dibeli oleh Negara dunia ke-3. Oleh sebab itu apapun kemauan barat para pelanggang di Negara ke-3 harus menurutinya, sebab kenapa. Internalisasi dan transmisi budaya barat telah mendarah daging dalam diri generasi Negara ke-3. Kondisi ini semakin memprihatikan bagi generasi mudadi Negara berkembang dan Negara dunia ke-3 tidak dapat melepaskan diri dari jeratan modernitas barat.

Penjajahan fisik kolonialisme tidak begitu membahayakan dibandingkan transmisi(penyebaran) budaya barat yang anti etika dan rasionnalitas akal sehat. Kondisi ini telah didesain sedemikian rupa dan didukung oleh kekuatan mediannya sehingga memudahkan penyebaran budaya yang menyesatkan seantero penghuni bumi ini. Agama dan etika sebagai basis nilai, barat telah membuang jauh-jauh dua unsur tersebut dalam setiap misinya. Generasi kita tanpa daya penyaringan yang memadai seakan mengadopsi secara menta-mentah setiap budaya barata yang datang. Yang pada akhirnya meniscayakan krisis identitas diri entah laki-laki atau perempuan. Semua orang berlomba-lomba melepaskan ikatan perkawinan dan menghendaki  freeseks. Bagi barat pernikahan atas dasar agama hanya membatasi manusia dari potensi seksualitas dalam dirinya.

Kata Sigmund Freud (Bapak psikologianalisis) bahwa: “Manusia dipengaruhi oleh insting/naluri seksualitas dalam dirinya.” Oleh sebab itu ketika manusia menahan insting seksualitas tersebut maka, dia akan mengalami penyakit kejiwaan. Bagi saya Sigmund telah meletakan misionis modernitas dalam teorinya, diamana menghendaki orang untuk keluar dari nilai-nilai etika,estetika dan rasionalitas (wahyu dan akal). Ketika generasi muda kita tidak menganalisa pendapat ini dengan baik maka akan meniscayakan “Pemakluman dalam bertindak(freeseks).” Budaya barat telah mampu mendobrak benteng pertahanan kita lewat generasi muda. Generasi muda sebagai penentu sebuah peradaban yang beradab yang seharusnya dijaga dan dijernihkan pola pikir dan tingkah lakunya agar tidak tercemari budaya-budaya luar yang merusak.

Mari kita membenahi generasi muda kita menjadi pribadi-pribadi yang memahami hakikat akan tanggungjawabnya.Dan marilah kita merebut tiket kemrdekaan kita, sebab. Ditangan kita cahaya kemrdekaan generasi mendatang dan peradabaan atas nama cinta kebijaksanaan akan bersemi… TERUSLAH BELAJAR SEBAB DENGAN BELAJAR KITA DAPAT MENGGAPAI LANGIT DENGAN IMPIAN KITA.

Semoga bermanfaat untuk kita semua.
#BERSAMBUNG…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar