Salah satu perkembangan memprihatinkan pada masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan kebincian terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berbeda dalam paham keagamaan. Tindakan tersebut dinilai sebagai sikap ketidak dewasaannya dalam menanggapi dan menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapinya.
Kita telah berani menghukumi keberagaman sebagai sesuatu yang sifatnya selalu buruk dipandang dan meski harus dihilangkan atau ditentang eksistensinya.namun kita tidak menyadari bahwa keberagaman itu merupakan sebuah kondisi yang jika kita menanggapi secara bijaksana maka kita ternilai sebagai pribadi-pribadi yang terbaik yang jauh memahami akan segala hakikat keadilan Tuhan Yang Maha Esa.
Keberagaman adalah sikap kita mengaktualkan segala pengetahuan kita kepada orang lain,baik antara kelompok kitu sendiri atau sesama mazhab dan bahkan terhadap mazhab lain sebagai sikap dari bentuk penghormatan. Dalam melihat fenomena yang terjadi ada 3 aspek yang menjadi alternative dalam menanggapi keberagaman menjadi sesuatu yang mendewasakan kita yaitu;
Non sectarian ; mampuh mengarahkan kita pada bagaimana menjalin hubungan social kita dengan baik.non sectarian sendiri tidak membatasi hubungan kita sesama agama atau mazhab tertentu saja melaingkan kepada siapa saja dan apa yang menjadi mazhab atau agamanya agar dapat tercipta hubungan social kita yang harmonis.
Mendahulukan akhlak diatas fiqih;pada wilaya ini kita digiring agar berperilaku yang baik, kita menciptakan lingkungan yang tidak hanya berfokus pada wilaya fikih(keshalihan beribada) saja tetapi yang terpenting adalah membetuk ahlak mulia yang dapat menyenangkan orang lain. Dan tidak lagi mengusik atau menggangu orang lain yang secara psikologis terbebani.
Pluralitas dalam timbagan ;apa garansi keselamat seseorang? Dan bagaimana ukuran kebaikannya sebagai konsekwensi keselamatan pada skatologi nanti? Kita tak memiliki hak progratif dalam menghukumi atau menjastifikasi seseorang dari keselamatan dan kebenaran.
Menurut Erich fromm pola kehidupan ada dua;
v Modus Having; Segala sesuatu berpusat pada dia. kebahagiaan seseorang dapat diukur yang dia miliki.
v Modus be caming; kebahagian aku adalah kebahagiaan orang lain,bukan parsial(hanya satu golongan).
Sedangkan menurut Martin Buber;
I –it ;Memanfaatkan artinya padahal-hal tertentu saja.
It do ;Selalu sama artinya dalam kondisi tertentu selalu bersama.
Pada wilaya non sectarian mendahulukan ahlak di atas fiqih,non sectarian selalu berbicara dalam persoalan hubunganyang sifatnya internal antara sesama dalam suatu mazhab tertentu saja.non sectarian mampu melepaskan keyakinan tertentu demi menjaga hubungan social dengan baik dan juga merupakan sikap penghormatan kita atas suatu kondisi.pada wilaya interaksi non sectarian memilih berkorbana demi demi kebaikan.
Pluralisme -berhunungan dengankeselamatan diakhirat, ada dua prinsip pluralisme;
1. Context ofjustifications; berhubungan dengan kebenaran
· # Setia pagama berbeda
# Kebenaran suatu agama bergantung pada pemeluknya
# Tidakboleh menilai kebenaran dan kesalahan agama orang dari sudut pandang kita.
2.context of Salvasing;Mengarahkan pada keselamatan akhira
· Eksklusifisme ;yang salah dalam penilaia
n dari CJ(Context ofjustifications) maka salah juga dalam CS(context of Salvasing).
· Inklusifisme; yang salah dalam penilain CJ juga bisa langsung CS tetapi ada pengecualian.
Pluralism kebenaran tidak berbanding lurus dengan kesalahan,bukan bergantung pada agama tetapi berdasarkan tolak ukur,tolak ukur yang disepakati oleh semua agama.Adatiga tolak ukar;
I. Bertuhan
II. Berimankepada hari pemnalasan
III. Berbuatbaik(Tolak ukur yang utama)
Kenapa pluralism susah diterima sebahagian orang disebabkan karena politik identitas.politik identitas dimaksudkan kita selalu beranggapan kita sajalah yang terbaik dan bukan dari kelompok kita tidak benar adanya.nonsektarian dapat terwujud diantara kita jika kita pekah terhadap;persatuan,social politik dan selalu mendahulukan ahlak diatas segalanya.

Kita telah berani menghukumi keberagaman sebagai sesuatu yang sifatnya selalu buruk dipandang dan meski harus dihilangkan atau ditentang eksistensinya.namun kita tidak menyadari bahwa keberagaman itu merupakan sebuah kondisi yang jika kita menanggapi secara bijaksana maka kita ternilai sebagai pribadi-pribadi yang terbaik yang jauh memahami akan segala hakikat keadilan Tuhan Yang Maha Esa.
Keberagaman adalah sikap kita mengaktualkan segala pengetahuan kita kepada orang lain,baik antara kelompok kitu sendiri atau sesama mazhab dan bahkan terhadap mazhab lain sebagai sikap dari bentuk penghormatan. Dalam melihat fenomena yang terjadi ada 3 aspek yang menjadi alternative dalam menanggapi keberagaman menjadi sesuatu yang mendewasakan kita yaitu;
Non sectarian ; mampuh mengarahkan kita pada bagaimana menjalin hubungan social kita dengan baik.non sectarian sendiri tidak membatasi hubungan kita sesama agama atau mazhab tertentu saja melaingkan kepada siapa saja dan apa yang menjadi mazhab atau agamanya agar dapat tercipta hubungan social kita yang harmonis.
Mendahulukan akhlak diatas fiqih;pada wilaya ini kita digiring agar berperilaku yang baik, kita menciptakan lingkungan yang tidak hanya berfokus pada wilaya fikih(keshalihan beribada) saja tetapi yang terpenting adalah membetuk ahlak mulia yang dapat menyenangkan orang lain. Dan tidak lagi mengusik atau menggangu orang lain yang secara psikologis terbebani.
Pluralitas dalam timbagan ;apa garansi keselamat seseorang? Dan bagaimana ukuran kebaikannya sebagai konsekwensi keselamatan pada skatologi nanti? Kita tak memiliki hak progratif dalam menghukumi atau menjastifikasi seseorang dari keselamatan dan kebenaran.
Menurut Erich fromm pola kehidupan ada dua;
v Modus Having; Segala sesuatu berpusat pada dia. kebahagiaan seseorang dapat diukur yang dia miliki.
v Modus be caming; kebahagian aku adalah kebahagiaan orang lain,bukan parsial(hanya satu golongan).
Sedangkan menurut Martin Buber;
I –it ;Memanfaatkan artinya padahal-hal tertentu saja.
It do ;Selalu sama artinya dalam kondisi tertentu selalu bersama.
Pada wilaya non sectarian mendahulukan ahlak di atas fiqih,non sectarian selalu berbicara dalam persoalan hubunganyang sifatnya internal antara sesama dalam suatu mazhab tertentu saja.non sectarian mampu melepaskan keyakinan tertentu demi menjaga hubungan social dengan baik dan juga merupakan sikap penghormatan kita atas suatu kondisi.pada wilaya interaksi non sectarian memilih berkorbana demi demi kebaikan.
Pluralisme -berhunungan dengankeselamatan diakhirat, ada dua prinsip pluralisme;
1. Context ofjustifications; berhubungan dengan kebenaran
· # Setia pagama berbeda
# Kebenaran suatu agama bergantung pada pemeluknya
# Tidakboleh menilai kebenaran dan kesalahan agama orang dari sudut pandang kita.
2.context of Salvasing;Mengarahkan pada keselamatan akhira
· Eksklusifisme ;yang salah dalam penilaia
n dari CJ(Context ofjustifications) maka salah juga dalam CS(context of Salvasing).
· Inklusifisme; yang salah dalam penilain CJ juga bisa langsung CS tetapi ada pengecualian.
Pluralism kebenaran tidak berbanding lurus dengan kesalahan,bukan bergantung pada agama tetapi berdasarkan tolak ukur,tolak ukur yang disepakati oleh semua agama.Adatiga tolak ukar;
I. Bertuhan
II. Berimankepada hari pemnalasan
III. Berbuatbaik(Tolak ukur yang utama)
Kenapa pluralism susah diterima sebahagian orang disebabkan karena politik identitas.politik identitas dimaksudkan kita selalu beranggapan kita sajalah yang terbaik dan bukan dari kelompok kita tidak benar adanya.nonsektarian dapat terwujud diantara kita jika kita pekah terhadap;persatuan,social politik dan selalu mendahulukan ahlak diatas segalanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar