Makassar,02 januari 2014
12 : 14 pm oleh; Ishak rahman Boufakar
GADIS KECILKU
BERMATA PELANGI
Telapak kaki mungil, kurus tak beralas padang lamun, pasir kecil, kerikil tajam, butiran debu, rumput liar, genangan air, hanya itu yang teralas pada telapak kaki mungil nan kurus itu. Kini sabda-sabda liar dari mulut yang kaku teracungkan hanya senyum tipis , bola mata Kristal, rambut ikal tak terurus yang dapat terbaca, terpahami, terresapi pada hati yang berlapis baja, mata yang terkotak oleh sang tembok yang terteduh.
Sahut menyahut salam rindu, angan, harapan, pada jubah-jubah yang sobek, kertas yang lentur, pita yang terurai, benang yang terutas, diding yang lembab, lantai yang tergenang, serta kertas yang berpasir.
Sore itu langitpun berpihak pada gadis kecil ingusan itu, jari-jari kecilnya terpaut pada ke-7 warna garis pada cakrawala itu, sambil tersenyum disertai derap selangkah demi selangkah, pada garis yang berujung itu. Salam rindupun terucap di sela-sela kekaguman pada keindahan sesaat itu.
Adakah kau bertahan untuk ku sejam, sehari, sebulan, bahkan setahun ?
Adakah kerinduanmu untukku saat ini ?
Apakah kau memembenciku, memusuhiku, hingga langkah kakimu begitu cepat pada bola mataku yang malang ini?
Maukah kau menjadi teman, sahabat, kekasihku ?
Maukah kau berbagi cerita denganku tentang kehidupan yang kejam, menakutkan ini ?
Maukah kau menemani kesendirianku yang selama ini yang hanya embun dan mentari yang rela menemaniku ?
Hanya itu saja pinta gadis belia pada sang pelangi yang sombong itu.
Jiwanya seakan kosong, hampa, terbang melayang, mati berdiri tatkala sang pelangi beranjak pergi, adakah kedatangannya pada setiap penantiannya, setiap kerinduannya, sang malampun mengetuk pintu-pintu langit dengan wajah gelap menakutkan, hanya saja cahaya sang bulan yang dapat membujuknya diantara gelap yang menakutkan itu.
Me, ji, ku, hi, bi, ni, u ; merah, jingga, kuning, hijau, biru. Akupun berhenti pada hitungan hitungan warna biru. Ingatanku kembali pada gadis kecilku, warna kebanggaannya biru. Akupun bertanya-tanya dalam benakku sendiri, ada keunikan apa dengan warna itu? Bukankah warna itu yang nampak pada tubuh kita ketika terjadi benturan? Misalnya; terjatuh, tertampar, terpukul, yang terasa sakit karna warna itu, warna yang menakutkan, bukankah begitu? Ataukah adakah keindahaan warna biru di balik warna ketakutan dan kesakitan itu?
Ya, gadisku menyukai warna itu dikarenakan ada keunikan tersendiri di antara warna-warni yang tampak pada garis di cakrawala itu.
Ya, kenapa langit terlihat indah? Bukankah dihiasi oleh warna biru. Intensitas gelombang panjang dan pendek memancarkan warna biru sehingga langit terlihat biru nan indah. Bukankah lautan terlihat indah karna kebiruan, yang tampak walaupun warna aslinya bening, kenapa terlihat biru yang menandakan kedalam dan kejernihan laut itu. Ada apa dengan warna ini? Atau kenapa ibu kosku memilih cat kamar kosku berwarrna biru bukan yang lain, ataukah dengan tidak sengaja saya memilih warna sepreiku yang bermotif biru, sehingga gadis kecilku terlihat polos pada dinding dan kasur kesayanganku. Ikat rambut gadisku yang berwarna biru itu seakan bernyawa dengan seluruh penghuni kamar ini. Hanya kebiruan itu yang menemani setiap tidurku ketika melekat pada kulit tangan yang kurus.
Aku mencintai gadis kecilku dengan kebiruan. Kebiruan pelangi, kebiruan laut, yang tak pernah bermetamorfosis warna khas itu. Kerinduanku pun terobati dengan ikat rambut gadisku yang biru itu atau dengan menatap kalikator bermotif biru pada tembok dinding kamarku.
Aku terlihat membisu ketika baju bermotif biru seakan menghalus pada penglihatanku, angkot(pete-petee) jalur antang melaju begitu cepat hingga kebiruan itu menghalus pergi, akupun terus menatap setiap warna kebiruan yang menghampiri, “adakah ia bersama warrna kebiruan itu?” itulah pintaku saat itu.
Warna kebiruan itu yang bisa menghantarkan ingatanku pada masa sekolah jenjang pertama. Kebiruan yang terlihat rapih pada barisan-barisan yang tengah menghadap sang merah putih di halaman sekolahku. Kebiruan dan keputihanlah identitas jenjang pertama bagi mereka gadis-gadis kecil nan lugu atau pemuda-pemuda kecil bersuara serak. Atau celana kebiruan yang terlihat sobek ketika menaiki pagar-pagar sekolah.
Warna yang terlihat bernyawa pada gadis beliaku yang tengah bercengkrama bersama segerombolan anak rumahan dengan julukan “sang lascar pelangi”. Sang pelangilah yang dapat memaksa mereka untuk kelua kamar, kelas, kantin, ruang fotocopyan, ataukah sang laskar yang memaksa mereka melawan keterbatasan, guru, teman, ibu, bapak, om, tante, nenek, dan kakek. Melawan setiap pengkekangan yang semena-mena otoritas sang mahha tau. Melawan membanting pintu, piring ketika hasrat tak terpenuhi, atau melawan keluguan, malu, bimbang, ketika mengintipp di balik jendela rumah, ketika seseorang yang ditaksir melewati jalan-jalan yang penuh dengan keramaian itu.
Senyum tipis suguhan gadis-gadis manja rumahan sang penguasa meja jualan pada poros jalan sekolahan. Ada yang terrlihat beda di antara gerombolan gadis-gadis belia itu, seorang yang tak banyak bersuara, bertindak, menunduk ketika sorotan mata yang berlawanan tertuju padanya, lugu, itu yang terlihat, mata yang beda di antara yang ada “ramah” itu yang terjamak.
Saat itu ritual-ritual tahun baru digenakan pada tembok-tembok kotaku. Kota yang yang terunik bahkan mengalahkan eropa yang eksotik, eropa yang berwajah imperalis, bahkan kota kecilkupun korban penjajahan. Aku tak pernah merasakan penjajahan itu tapi kata leluhurku itulah kiamat kecil bagi mereka. Aku tak selalu memandang eropa ari sisi eksotiknya, dibalik eksotiknya itulah menyembunyikan predatornya. Aku yakin kita semua memiliki catatan-catatan kaki bagi benua itu.
Terlihat dengan jelas dibalik ruang tamu itu gadis kecil nan lugu itu tengah berdialektika dengan kitab-kitab yang buram. Langkah kakiku pun terlihat pada jalan yang setengah aspal itu. Tanpa sadarpun terlihat kontak mata si gadis di balik bilik itu. Ada yang beda dengan tatapan itu, sayapun memilijh diam tak bersuara hanya saja nafas yang tak beraturan terdengar pada telinga. Duduk, berdiri, kesana,kemari itulah ekspresi saat itu. Tanpa sadar lambaian tanganku tertuju pada gadis belia itu, namun ia tetap acuh tanpa memperdulikan seruan itu. Dan akupun tak mau mengalah berulang-ulang kali seruan itu dan akhirnya gadis belia itu beranjak dari tempatnya namun ia pun kembali pada tepatnya semula. Setelah beberapa menit gadis belia itupun keluar dari zona amannya. Saya pun mengikutinya dari belakang, bak menghitung setiap langkah kakinya. Ia pun membelok dan masuk kedalam sekolah dimana tempat perkemahan anak-anak SD saat itu. Sayapun berhenti di gerbang sekolah ibarat bait UUD 1945 “menghantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka bersatu, berdaulat adil dan makmur” seperti itu keadaan yang nampak pada saat itu.
Ada sesuatu yang berbeda dengann saya, ada keinginan yang tinggi untuk memiliki gadis belia itu. Rencana yang tak terrencana, skenario yang tak terskenario, pesan yan tak terpesankan, pengunjung yang tak terkunjungi, desah yang tak terdesahkan. Itulah yang selalu muncul dalam benakku dari mana, kemana, siapa, di mana, dan bagaimana, itulah yang terjamak di kepalaku. Ada sesuatu yang menghentikan kakiku ketika melangkah menuju gadis itu. Yaaa… cemas, takut, malu, bimbang, ragu-ragu, itu yang menghentikan langkah kakiku. Seakan terdengar tembok sekolahan itu bersuara dengan keras “dasar cemen, penakut”, sayapun terlihat bodoh saat itu. Antara maju atau mundur, diam atau bersuara, duduk atau berdiri, pulang atau bertahan, semua tercampur menjadi satu tak bisa membedakan, mamilah, atau menafsirkan.
Pada saat diam terpaku, terlihat bayang gadis itu bersama temannya menuju toilet di pojok sekolahan itu. Dengan keberanian ½ saya menghampiri gadis belia itu. Toilet buntut dan bau layaknya tumpukan sampah metropolitan yang tak tersentuh cairan penghancur bakteri. Namun inilah suasana romantika, lebih sensasi, terdahsyat, lebih nikmat dari kopi cappocino dingin atau good day suguhan rumah kopi yang membual itu.
Detak jantung tak beraturan, berdetak tanpa irama, nafas tersendak-sendak di lubang hidung, tubuh bergetar bak penggiling gabu padi, tatapan mata seakan mengambang, terpancarkan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Tak kuasa menahan suasana itu,
Saya : “beta pu itu bagimana???
Itu yang terlontarkan dari mulut yang kaku
Si gadis belia : “apa. . .???
Itu yang terjawab dari mulut gadis belia itu.
Saya : “yang beta bilang di awat itu”
Lebih meyakinkan
Si gadis belia : “oowgh itu.”
Saya : “iya,lai bagimana, mau ka seng???
Lebih meyakinkan si gadis belia
Si gadis belia : “emm J bagimana ee”
Terdengarnya penasaran
Saya : “bagimana, capat ka beta mau pulang”
Kedengarannya memaksa
Si gadis belia : “emm J beta mau”
Kedengaranya pasrah
Saya : “iya beta pulang doo ee J “
Tanpa menunggu peintah sayapun menaiki pagar sekolahan itu “yes J, yes J, yes J” , sayapun berlari dengan gembira, riang ingin terbang, seketika, tertawa sendiri sambil membayangkan prolog tadi.
Suasana berubah seketika, saya merasa berhasil, menang menaklukkan impian saya. Ibarat pasukan umat muslim menaklukkan musuh-musuh pada perang khaibar, bangsa Indonesia atas penjajahan jepang dan belanda atau penaklukkan kota kostantinopel, itulah suasana yang tergambar saat itu. Awal yang tak terrencana dan ujung yang tak berbentuk. Malamku pun terjamak dengan sajak-sajak usang, sajak-sajak yang tertuang dalam kitab-kitabku yang tak bernama itu. Baik sang seniman kata-kata Andre hirata, sang sufi Jalaludin Rumi, Habibul rahman el-siradji, khalil Gibran dengan sayap-sayap patah, soe hook Gie dengan catatan sang demostran, khairil Anwar, W.S. Rendra, Pramodia antara teori “bumi dan manusia” semuanya hadir dengan sendirinya menemani setiap malamku yang larut itu..
Gadis kecilku nan lugu seakan hadir pada langit-langit kamarku, dinding kamar yang bolong, karpet panjang yang berbukit; tertawa kecil tanpa suara seakan menyobek-nyobek gantungan baju pada dinding kamar itu. Bolak-balik badan, membuka menutup bola mata tak mampu terhitung pada malam yang larut itu.
Hingga pagi yang sombongpun menjemput dengan mentarinya seakan membakar kulit-kulit mungil di balik dahan pohon itu. Terlihat barisan gadis-gadis mungil itu dengan jelas bola mata Kristal terderet dalaam barisan itu. Sayapun tersenyum memoriku memaksa untuk kembali pada malam berseri 01-01 2009 itu. Sayapun kembali berdialektika dengan memoriku yang sedikit terisi itu, hanya gila saja terucap dari mulutku untuk otakku. Gadis-gadis itu sedang berpiknik rupanya hanya tatapan hampa itu ajakan dari wajah gadisku yang mungil. Saya tak berani berkata apalagi bergabung bersama barisan panjang itu. Sayapun melepaskan dengan hati sedikit tersentak, gadis beliaku bersama barisan para laskar yang berpelangi itu.
Dan pelangiku tak bermunculan lagi ketika rintik hujan bersama panasnya matahari. Pelangiku beranjak pergi bersama barisan panjang di pagi itu. Bersama laskar yang menarik kebiruan dari penglihatanku. Kebiruan langitku, dan kebiruan lautku.
Saya kembali berdialektika dengan lembaran-lembaran di bawah lemariku, di bawah bantalku, dan di bawah lipatan bajuku. Semua terasa mimpi apa yang terasa dan terlihat hanyalah lamunan panjang, lamunan yang seakan menyita seluruh realitas kehidupanku, tentang cinta berseri, tebaran pesona, dialog yang bergetar, toilet yang tak terurus, dinding sekolah yang bolong, arloji yang berdering, sajak yang tak bernama, bernama yang tak berwajah, “cinta satu malam” hanya itu saja yang terdesain pada cover depan lembaran putih kata itu.
Rotasi bumi terhenti sejenak, malam sedikit kesiangan dan siang sedikit kemalaman, semua tampak menatap ukiran tebak pada cover itu “cinta satu malam” aku tak mau siapapun yang menginspirasi kecuali inspirasi yang menggodaku, membujukku itu yang aku mau “bukan si Melinda” tapi “si realitas cintaku yang berseri itu”. Hanya gadis beliaku itu saja yang ku mau. Aku tak begittu jelas memandang wajah gadisku yang polos nan lugu itu. Hanya lugu dan poloslah ada pada ingatanku yang sedikit terisi angin. Bahkan jari-jari, tangan, dagu, pipi, rambut, bola mata gadisku pun aku tak mengenalnya. Saya tak dapat memahami sampai sekarang kenapa semuanya berubah tawar saat itu.
Kami tak lagi bercengkrama apalagi membelai rambutnya, mengusap keningnya, mengkecup keningnya yang lebat itu, menatap bola matanya agak sedikit lama, dan menatap bibirnya yang tipis agak lama, tak satupun saya perbuat saat itu. Hanya kebencian atas dirilah yang dapat tergambarkan saat itu. Antara marah, kesal, benci, tampar, lempar, membanting, dan memotong. Semuanya terbentuk hanya wajah gadisku yang tak terbentuk saat itu. Tak ada hakim dari belanda, atau imam dari iran, sang ratu dari inggris, sang seni dari italia, sang pedalaman dari afrika yang eksotik, bahkan sang pustakawan dari bagdad sekalipun tampak wajah mereka menghakimiku. Hanya cambuk-cambuk kecil dari tanah arab yang panas mencambuk setiap keluh kesalku pada cinta berseri itu atau sang penjudi di miraza skalipun tak mampu membayar harapanku yang sirna saat itu.
Sang waktu tak berkiblat ke padaku. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan. Kami terlihat kaku pada poros jalan-jalan ketika sang pelajar menghabiskan jam belajarnya. Hanya menunduk, terdiam, terpaku, membisu, sapaan kala itu. Saya tak bisa mencerna setiap respon-respon ini. Respon yang tak bermakna, terdefenisi, tersirat, semakin tersudut dan terpojok setiap hari. Walaupun si Albert Enstein, Ibnu kaldu, ibnu Sina, Sir Isaac newton, Al-farabi, dan Aristoteles mendiktiku sekalipun aku tidak dapat mendefenisikan setiap respon-respon kami saat itu.
Semakin hari semakin terlihat jelas. Kami terlihat saling menjauhi, bahkan melupakan hadir meramaikan suasana. Sayapun kembali berkiblat pada cinta yang lain, entah apa alasanya tetap berkiblat, itulah jawaban saat itu. Gadis beliaku terlupakan dari ingatanku, terhapus dari langit-langit kamarku, dinding-dinding kamarku, pohon-pohon rimbun, serta ayunan-ayunan berfer. Cinta pada yang lainpun mulai bersemi tanpa hujan, lembab, maupun mendung. Cinta pada yang lain terus subur, tanpa persemaian, tanpa pemilihan benih, perkecambahan. Terus melajut tanpa penyiangan, alih fungsi, lahanpun mencoba di adopsi pada penyebaran senyum itu.
Tebaran pesona semakin menghijau pada tanah-tanah yang tandus terbakar seketika itu.
Hingga padaa hari pementasan drama sekolahan gadis kecil mungilku, malamnya tanpa sengaja saya di kejutkan dengan kedatangan mereka bertiga di samping pekarangan rumah kami. Sayapun memberanikan diri untuk mendekati gadis kecilku lagi, ada sinyal-sinyal terpancar yang tampak saat itu. Sayapun mengantar mereka meminjam segala keperluan pentas mereka, dan saat itu sudah larut malam, saya dan kawan saya (nabil) mengantarkan mereka pulang ke rumah. Namun, begitu kagetnya saya di tengah perjalanan kakak dari si gadisku ini menjemputnya dan sayapun menjauh dari jemputan kakaknya itu. Hingga pagi untuk acara pentasnya, saat itu gadiskulah pembaca skenario dari sebuah drama yang di pentaskan saat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati saya “kau tak beda dengan penyair yang membumi”. Dan kamipun tak berjumpa lagi untuk yang kedua kalinya.
Pada saat akhir studyku pada jenjang akhir sekolah berlogo “Mitreka Bhineka” gadis beliaku tak lagi di sampingku. Yang di samping hanyalah bekas pacar dari kakak gadis mungilku dan nia yang pernah ku lempari dengan kursi kelas dudukku. Gadis kebiruanku terlihat di pojok-pojok barisan yang tengah tersenyum tanpa isyarat. Aku tak dapat mendefinisikan senyum itu. Senyum perpisahan atau senyum kesedihan, aku begitu tak bisa membedakan bahasa isyarat itu.
Aku tak dapat meninggalkan sesuatu untuk gadis kecilku kecuali ketidak pastian, hanya itu saja yang kutinggalkan. Ketidakpastian yang tak terbentuk, tak berwajah, tak terkontak. Saat itu aku tak memiliki nomor ponsel gadis kecilku, hanya kertas-kertas buram yang terhempas kesana kemari tanpa sedikit tinta terjamak pada wajah kertas itu. Bahkan wajah gadis kecilku pun tak terlihat ketika kapal bertujuan kota Patimura itu berangkat. Hanya si vina yang melambaikan tangan dari sudut gerobak-gerobak tua. Atas pintaku padanya saat itu. Si Nia pun datang dan akupun malah menjauhinya ketika ingin melepaskan kepergianku ke kota Patimura.
Ransel kecilku penuh catatan-catatan kaki tentang kemarahanku pada si Nia, atau si Titin yang tak mau menghantarkan kepergianku hanya menitip foto itulah lambayan tangannya dari wajah foto itu. Aku begitu melupakan gadis kecilku, ia pun tak hadir dalam ingatanku saat itu.
Kota sang patimura, berkawan srikandi Kristina Martha Tiahahu mencoba menghapus setiap memoriku tentang gadis kecilku. Gadis belia bermata pelangiku begitu tersusun rapi pada tumpukan-tumpukan kitab di kamarku. Kabar berita gadis kecilku tak pernah terlontar pada setiap sabda-sabda liarku, kami begitu melupakan satu sama lain. Aku mendengar kabar berita dari adikku yang kebetulan teman sekelasnya, bahwa ia telah berdekatan dengan seorang teman kelasnya. Saya begitu tak yakin, tapi itulah realitanya. Akupun memilih cinta yang lain, ia pun sebaliknya, kami sedikit tenang di samping teman baru kami masing-masing. Walau kenyataannya tak selalu begitu.
Tuhan begitu tinggi maha kuasanya kepada hamba-hambanya. Begitu bijaksana atas keputusan-keputusannya, maha jeli dalam desainnya, hanya Tuhan lah desainer yang ulung. Bukan desainer yang maha tau, Tuhan lah sang penepati janji tatkala hamba-hambanya terhipnotis mengingkari setiap perjanjian. Apakah ini rencana Tuhan, aku begitu tak berkata apa-apa ketika gadis kecil bermata pelangi itu mengiyakan pintaku “melanjutkan hubungan kami”.
Kini pelabuhan tima di panaskan kembali. Tauri di bunyikan dari puncak binaya, kain kapitan di ikat kembali pada kepala yang kepanasan tombak dan runcing. Parang yang tajam kembali bergerak pada barisan yang terdepan memegang kepala musuh dan memotong seketika. Kami pun kembali berperang melawan kecemburuan, kebencian, perselingkuhan, kebohongan, pengkhianatan yang seakan memakan setiap jeda-jeda penantian akan kehadiran cinta dan kasing sayang.
Tiga tahun lamanya kami tak berjumpa, bertatap apalagi bercengkrama berbagi, mengisi, menghibur. Kali ini saya memilih berkiblat pada hubungan jarak jauh (LDR).
#Bersambung...
12 : 14 pm oleh; Ishak rahman Boufakar
GADIS KECILKU
BERMATA PELANGI
Telapak kaki mungil, kurus tak beralas padang lamun, pasir kecil, kerikil tajam, butiran debu, rumput liar, genangan air, hanya itu yang teralas pada telapak kaki mungil nan kurus itu. Kini sabda-sabda liar dari mulut yang kaku teracungkan hanya senyum tipis , bola mata Kristal, rambut ikal tak terurus yang dapat terbaca, terpahami, terresapi pada hati yang berlapis baja, mata yang terkotak oleh sang tembok yang terteduh.
Sahut menyahut salam rindu, angan, harapan, pada jubah-jubah yang sobek, kertas yang lentur, pita yang terurai, benang yang terutas, diding yang lembab, lantai yang tergenang, serta kertas yang berpasir.
Sore itu langitpun berpihak pada gadis kecil ingusan itu, jari-jari kecilnya terpaut pada ke-7 warna garis pada cakrawala itu, sambil tersenyum disertai derap selangkah demi selangkah, pada garis yang berujung itu. Salam rindupun terucap di sela-sela kekaguman pada keindahan sesaat itu.
Adakah kau bertahan untuk ku sejam, sehari, sebulan, bahkan setahun ?
Adakah kerinduanmu untukku saat ini ?
Apakah kau memembenciku, memusuhiku, hingga langkah kakimu begitu cepat pada bola mataku yang malang ini?
Maukah kau menjadi teman, sahabat, kekasihku ?
Maukah kau berbagi cerita denganku tentang kehidupan yang kejam, menakutkan ini ?
Maukah kau menemani kesendirianku yang selama ini yang hanya embun dan mentari yang rela menemaniku ?
Hanya itu saja pinta gadis belia pada sang pelangi yang sombong itu.
Jiwanya seakan kosong, hampa, terbang melayang, mati berdiri tatkala sang pelangi beranjak pergi, adakah kedatangannya pada setiap penantiannya, setiap kerinduannya, sang malampun mengetuk pintu-pintu langit dengan wajah gelap menakutkan, hanya saja cahaya sang bulan yang dapat membujuknya diantara gelap yang menakutkan itu.
Me, ji, ku, hi, bi, ni, u ; merah, jingga, kuning, hijau, biru. Akupun berhenti pada hitungan hitungan warna biru. Ingatanku kembali pada gadis kecilku, warna kebanggaannya biru. Akupun bertanya-tanya dalam benakku sendiri, ada keunikan apa dengan warna itu? Bukankah warna itu yang nampak pada tubuh kita ketika terjadi benturan? Misalnya; terjatuh, tertampar, terpukul, yang terasa sakit karna warna itu, warna yang menakutkan, bukankah begitu? Ataukah adakah keindahaan warna biru di balik warna ketakutan dan kesakitan itu?
Ya, gadisku menyukai warna itu dikarenakan ada keunikan tersendiri di antara warna-warni yang tampak pada garis di cakrawala itu.
Ya, kenapa langit terlihat indah? Bukankah dihiasi oleh warna biru. Intensitas gelombang panjang dan pendek memancarkan warna biru sehingga langit terlihat biru nan indah. Bukankah lautan terlihat indah karna kebiruan, yang tampak walaupun warna aslinya bening, kenapa terlihat biru yang menandakan kedalam dan kejernihan laut itu. Ada apa dengan warna ini? Atau kenapa ibu kosku memilih cat kamar kosku berwarrna biru bukan yang lain, ataukah dengan tidak sengaja saya memilih warna sepreiku yang bermotif biru, sehingga gadis kecilku terlihat polos pada dinding dan kasur kesayanganku. Ikat rambut gadisku yang berwarna biru itu seakan bernyawa dengan seluruh penghuni kamar ini. Hanya kebiruan itu yang menemani setiap tidurku ketika melekat pada kulit tangan yang kurus.
Aku mencintai gadis kecilku dengan kebiruan. Kebiruan pelangi, kebiruan laut, yang tak pernah bermetamorfosis warna khas itu. Kerinduanku pun terobati dengan ikat rambut gadisku yang biru itu atau dengan menatap kalikator bermotif biru pada tembok dinding kamarku.
Aku terlihat membisu ketika baju bermotif biru seakan menghalus pada penglihatanku, angkot(pete-petee) jalur antang melaju begitu cepat hingga kebiruan itu menghalus pergi, akupun terus menatap setiap warna kebiruan yang menghampiri, “adakah ia bersama warrna kebiruan itu?” itulah pintaku saat itu.
Warna kebiruan itu yang bisa menghantarkan ingatanku pada masa sekolah jenjang pertama. Kebiruan yang terlihat rapih pada barisan-barisan yang tengah menghadap sang merah putih di halaman sekolahku. Kebiruan dan keputihanlah identitas jenjang pertama bagi mereka gadis-gadis kecil nan lugu atau pemuda-pemuda kecil bersuara serak. Atau celana kebiruan yang terlihat sobek ketika menaiki pagar-pagar sekolah.
Warna yang terlihat bernyawa pada gadis beliaku yang tengah bercengkrama bersama segerombolan anak rumahan dengan julukan “sang lascar pelangi”. Sang pelangilah yang dapat memaksa mereka untuk kelua kamar, kelas, kantin, ruang fotocopyan, ataukah sang laskar yang memaksa mereka melawan keterbatasan, guru, teman, ibu, bapak, om, tante, nenek, dan kakek. Melawan setiap pengkekangan yang semena-mena otoritas sang mahha tau. Melawan membanting pintu, piring ketika hasrat tak terpenuhi, atau melawan keluguan, malu, bimbang, ketika mengintipp di balik jendela rumah, ketika seseorang yang ditaksir melewati jalan-jalan yang penuh dengan keramaian itu.
Senyum tipis suguhan gadis-gadis manja rumahan sang penguasa meja jualan pada poros jalan sekolahan. Ada yang terrlihat beda di antara gerombolan gadis-gadis belia itu, seorang yang tak banyak bersuara, bertindak, menunduk ketika sorotan mata yang berlawanan tertuju padanya, lugu, itu yang terlihat, mata yang beda di antara yang ada “ramah” itu yang terjamak.
Saat itu ritual-ritual tahun baru digenakan pada tembok-tembok kotaku. Kota yang yang terunik bahkan mengalahkan eropa yang eksotik, eropa yang berwajah imperalis, bahkan kota kecilkupun korban penjajahan. Aku tak pernah merasakan penjajahan itu tapi kata leluhurku itulah kiamat kecil bagi mereka. Aku tak selalu memandang eropa ari sisi eksotiknya, dibalik eksotiknya itulah menyembunyikan predatornya. Aku yakin kita semua memiliki catatan-catatan kaki bagi benua itu.
Terlihat dengan jelas dibalik ruang tamu itu gadis kecil nan lugu itu tengah berdialektika dengan kitab-kitab yang buram. Langkah kakiku pun terlihat pada jalan yang setengah aspal itu. Tanpa sadarpun terlihat kontak mata si gadis di balik bilik itu. Ada yang beda dengan tatapan itu, sayapun memilijh diam tak bersuara hanya saja nafas yang tak beraturan terdengar pada telinga. Duduk, berdiri, kesana,kemari itulah ekspresi saat itu. Tanpa sadar lambaian tanganku tertuju pada gadis belia itu, namun ia tetap acuh tanpa memperdulikan seruan itu. Dan akupun tak mau mengalah berulang-ulang kali seruan itu dan akhirnya gadis belia itu beranjak dari tempatnya namun ia pun kembali pada tepatnya semula. Setelah beberapa menit gadis belia itupun keluar dari zona amannya. Saya pun mengikutinya dari belakang, bak menghitung setiap langkah kakinya. Ia pun membelok dan masuk kedalam sekolah dimana tempat perkemahan anak-anak SD saat itu. Sayapun berhenti di gerbang sekolah ibarat bait UUD 1945 “menghantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka bersatu, berdaulat adil dan makmur” seperti itu keadaan yang nampak pada saat itu.
Ada sesuatu yang berbeda dengann saya, ada keinginan yang tinggi untuk memiliki gadis belia itu. Rencana yang tak terrencana, skenario yang tak terskenario, pesan yan tak terpesankan, pengunjung yang tak terkunjungi, desah yang tak terdesahkan. Itulah yang selalu muncul dalam benakku dari mana, kemana, siapa, di mana, dan bagaimana, itulah yang terjamak di kepalaku. Ada sesuatu yang menghentikan kakiku ketika melangkah menuju gadis itu. Yaaa… cemas, takut, malu, bimbang, ragu-ragu, itu yang menghentikan langkah kakiku. Seakan terdengar tembok sekolahan itu bersuara dengan keras “dasar cemen, penakut”, sayapun terlihat bodoh saat itu. Antara maju atau mundur, diam atau bersuara, duduk atau berdiri, pulang atau bertahan, semua tercampur menjadi satu tak bisa membedakan, mamilah, atau menafsirkan.
Pada saat diam terpaku, terlihat bayang gadis itu bersama temannya menuju toilet di pojok sekolahan itu. Dengan keberanian ½ saya menghampiri gadis belia itu. Toilet buntut dan bau layaknya tumpukan sampah metropolitan yang tak tersentuh cairan penghancur bakteri. Namun inilah suasana romantika, lebih sensasi, terdahsyat, lebih nikmat dari kopi cappocino dingin atau good day suguhan rumah kopi yang membual itu.
Detak jantung tak beraturan, berdetak tanpa irama, nafas tersendak-sendak di lubang hidung, tubuh bergetar bak penggiling gabu padi, tatapan mata seakan mengambang, terpancarkan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Tak kuasa menahan suasana itu,
Saya : “beta pu itu bagimana???
Itu yang terlontarkan dari mulut yang kaku
Si gadis belia : “apa. . .???
Itu yang terjawab dari mulut gadis belia itu.
Saya : “yang beta bilang di awat itu”
Lebih meyakinkan
Si gadis belia : “oowgh itu.”
Saya : “iya,lai bagimana, mau ka seng???
Lebih meyakinkan si gadis belia
Si gadis belia : “emm J bagimana ee”
Terdengarnya penasaran
Saya : “bagimana, capat ka beta mau pulang”
Kedengarannya memaksa
Si gadis belia : “emm J beta mau”
Kedengaranya pasrah
Saya : “iya beta pulang doo ee J “
Tanpa menunggu peintah sayapun menaiki pagar sekolahan itu “yes J, yes J, yes J” , sayapun berlari dengan gembira, riang ingin terbang, seketika, tertawa sendiri sambil membayangkan prolog tadi.
Suasana berubah seketika, saya merasa berhasil, menang menaklukkan impian saya. Ibarat pasukan umat muslim menaklukkan musuh-musuh pada perang khaibar, bangsa Indonesia atas penjajahan jepang dan belanda atau penaklukkan kota kostantinopel, itulah suasana yang tergambar saat itu. Awal yang tak terrencana dan ujung yang tak berbentuk. Malamku pun terjamak dengan sajak-sajak usang, sajak-sajak yang tertuang dalam kitab-kitabku yang tak bernama itu. Baik sang seniman kata-kata Andre hirata, sang sufi Jalaludin Rumi, Habibul rahman el-siradji, khalil Gibran dengan sayap-sayap patah, soe hook Gie dengan catatan sang demostran, khairil Anwar, W.S. Rendra, Pramodia antara teori “bumi dan manusia” semuanya hadir dengan sendirinya menemani setiap malamku yang larut itu..
Gadis kecilku nan lugu seakan hadir pada langit-langit kamarku, dinding kamar yang bolong, karpet panjang yang berbukit; tertawa kecil tanpa suara seakan menyobek-nyobek gantungan baju pada dinding kamar itu. Bolak-balik badan, membuka menutup bola mata tak mampu terhitung pada malam yang larut itu.
Hingga pagi yang sombongpun menjemput dengan mentarinya seakan membakar kulit-kulit mungil di balik dahan pohon itu. Terlihat barisan gadis-gadis mungil itu dengan jelas bola mata Kristal terderet dalaam barisan itu. Sayapun tersenyum memoriku memaksa untuk kembali pada malam berseri 01-01 2009 itu. Sayapun kembali berdialektika dengan memoriku yang sedikit terisi itu, hanya gila saja terucap dari mulutku untuk otakku. Gadis-gadis itu sedang berpiknik rupanya hanya tatapan hampa itu ajakan dari wajah gadisku yang mungil. Saya tak berani berkata apalagi bergabung bersama barisan panjang itu. Sayapun melepaskan dengan hati sedikit tersentak, gadis beliaku bersama barisan para laskar yang berpelangi itu.
Dan pelangiku tak bermunculan lagi ketika rintik hujan bersama panasnya matahari. Pelangiku beranjak pergi bersama barisan panjang di pagi itu. Bersama laskar yang menarik kebiruan dari penglihatanku. Kebiruan langitku, dan kebiruan lautku.
Saya kembali berdialektika dengan lembaran-lembaran di bawah lemariku, di bawah bantalku, dan di bawah lipatan bajuku. Semua terasa mimpi apa yang terasa dan terlihat hanyalah lamunan panjang, lamunan yang seakan menyita seluruh realitas kehidupanku, tentang cinta berseri, tebaran pesona, dialog yang bergetar, toilet yang tak terurus, dinding sekolah yang bolong, arloji yang berdering, sajak yang tak bernama, bernama yang tak berwajah, “cinta satu malam” hanya itu saja yang terdesain pada cover depan lembaran putih kata itu.
Rotasi bumi terhenti sejenak, malam sedikit kesiangan dan siang sedikit kemalaman, semua tampak menatap ukiran tebak pada cover itu “cinta satu malam” aku tak mau siapapun yang menginspirasi kecuali inspirasi yang menggodaku, membujukku itu yang aku mau “bukan si Melinda” tapi “si realitas cintaku yang berseri itu”. Hanya gadis beliaku itu saja yang ku mau. Aku tak begittu jelas memandang wajah gadisku yang polos nan lugu itu. Hanya lugu dan poloslah ada pada ingatanku yang sedikit terisi angin. Bahkan jari-jari, tangan, dagu, pipi, rambut, bola mata gadisku pun aku tak mengenalnya. Saya tak dapat memahami sampai sekarang kenapa semuanya berubah tawar saat itu.
Kami tak lagi bercengkrama apalagi membelai rambutnya, mengusap keningnya, mengkecup keningnya yang lebat itu, menatap bola matanya agak sedikit lama, dan menatap bibirnya yang tipis agak lama, tak satupun saya perbuat saat itu. Hanya kebencian atas dirilah yang dapat tergambarkan saat itu. Antara marah, kesal, benci, tampar, lempar, membanting, dan memotong. Semuanya terbentuk hanya wajah gadisku yang tak terbentuk saat itu. Tak ada hakim dari belanda, atau imam dari iran, sang ratu dari inggris, sang seni dari italia, sang pedalaman dari afrika yang eksotik, bahkan sang pustakawan dari bagdad sekalipun tampak wajah mereka menghakimiku. Hanya cambuk-cambuk kecil dari tanah arab yang panas mencambuk setiap keluh kesalku pada cinta berseri itu atau sang penjudi di miraza skalipun tak mampu membayar harapanku yang sirna saat itu.
Sang waktu tak berkiblat ke padaku. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan. Kami terlihat kaku pada poros jalan-jalan ketika sang pelajar menghabiskan jam belajarnya. Hanya menunduk, terdiam, terpaku, membisu, sapaan kala itu. Saya tak bisa mencerna setiap respon-respon ini. Respon yang tak bermakna, terdefenisi, tersirat, semakin tersudut dan terpojok setiap hari. Walaupun si Albert Enstein, Ibnu kaldu, ibnu Sina, Sir Isaac newton, Al-farabi, dan Aristoteles mendiktiku sekalipun aku tidak dapat mendefenisikan setiap respon-respon kami saat itu.
Semakin hari semakin terlihat jelas. Kami terlihat saling menjauhi, bahkan melupakan hadir meramaikan suasana. Sayapun kembali berkiblat pada cinta yang lain, entah apa alasanya tetap berkiblat, itulah jawaban saat itu. Gadis beliaku terlupakan dari ingatanku, terhapus dari langit-langit kamarku, dinding-dinding kamarku, pohon-pohon rimbun, serta ayunan-ayunan berfer. Cinta pada yang lainpun mulai bersemi tanpa hujan, lembab, maupun mendung. Cinta pada yang lain terus subur, tanpa persemaian, tanpa pemilihan benih, perkecambahan. Terus melajut tanpa penyiangan, alih fungsi, lahanpun mencoba di adopsi pada penyebaran senyum itu.
Tebaran pesona semakin menghijau pada tanah-tanah yang tandus terbakar seketika itu.
Hingga padaa hari pementasan drama sekolahan gadis kecil mungilku, malamnya tanpa sengaja saya di kejutkan dengan kedatangan mereka bertiga di samping pekarangan rumah kami. Sayapun memberanikan diri untuk mendekati gadis kecilku lagi, ada sinyal-sinyal terpancar yang tampak saat itu. Sayapun mengantar mereka meminjam segala keperluan pentas mereka, dan saat itu sudah larut malam, saya dan kawan saya (nabil) mengantarkan mereka pulang ke rumah. Namun, begitu kagetnya saya di tengah perjalanan kakak dari si gadisku ini menjemputnya dan sayapun menjauh dari jemputan kakaknya itu. Hingga pagi untuk acara pentasnya, saat itu gadiskulah pembaca skenario dari sebuah drama yang di pentaskan saat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati saya “kau tak beda dengan penyair yang membumi”. Dan kamipun tak berjumpa lagi untuk yang kedua kalinya.
Pada saat akhir studyku pada jenjang akhir sekolah berlogo “Mitreka Bhineka” gadis beliaku tak lagi di sampingku. Yang di samping hanyalah bekas pacar dari kakak gadis mungilku dan nia yang pernah ku lempari dengan kursi kelas dudukku. Gadis kebiruanku terlihat di pojok-pojok barisan yang tengah tersenyum tanpa isyarat. Aku tak dapat mendefinisikan senyum itu. Senyum perpisahan atau senyum kesedihan, aku begitu tak bisa membedakan bahasa isyarat itu.
Aku tak dapat meninggalkan sesuatu untuk gadis kecilku kecuali ketidak pastian, hanya itu saja yang kutinggalkan. Ketidakpastian yang tak terbentuk, tak berwajah, tak terkontak. Saat itu aku tak memiliki nomor ponsel gadis kecilku, hanya kertas-kertas buram yang terhempas kesana kemari tanpa sedikit tinta terjamak pada wajah kertas itu. Bahkan wajah gadis kecilku pun tak terlihat ketika kapal bertujuan kota Patimura itu berangkat. Hanya si vina yang melambaikan tangan dari sudut gerobak-gerobak tua. Atas pintaku padanya saat itu. Si Nia pun datang dan akupun malah menjauhinya ketika ingin melepaskan kepergianku ke kota Patimura.
Ransel kecilku penuh catatan-catatan kaki tentang kemarahanku pada si Nia, atau si Titin yang tak mau menghantarkan kepergianku hanya menitip foto itulah lambayan tangannya dari wajah foto itu. Aku begitu melupakan gadis kecilku, ia pun tak hadir dalam ingatanku saat itu.
Kota sang patimura, berkawan srikandi Kristina Martha Tiahahu mencoba menghapus setiap memoriku tentang gadis kecilku. Gadis belia bermata pelangiku begitu tersusun rapi pada tumpukan-tumpukan kitab di kamarku. Kabar berita gadis kecilku tak pernah terlontar pada setiap sabda-sabda liarku, kami begitu melupakan satu sama lain. Aku mendengar kabar berita dari adikku yang kebetulan teman sekelasnya, bahwa ia telah berdekatan dengan seorang teman kelasnya. Saya begitu tak yakin, tapi itulah realitanya. Akupun memilih cinta yang lain, ia pun sebaliknya, kami sedikit tenang di samping teman baru kami masing-masing. Walau kenyataannya tak selalu begitu.
Tuhan begitu tinggi maha kuasanya kepada hamba-hambanya. Begitu bijaksana atas keputusan-keputusannya, maha jeli dalam desainnya, hanya Tuhan lah desainer yang ulung. Bukan desainer yang maha tau, Tuhan lah sang penepati janji tatkala hamba-hambanya terhipnotis mengingkari setiap perjanjian. Apakah ini rencana Tuhan, aku begitu tak berkata apa-apa ketika gadis kecil bermata pelangi itu mengiyakan pintaku “melanjutkan hubungan kami”.
Kini pelabuhan tima di panaskan kembali. Tauri di bunyikan dari puncak binaya, kain kapitan di ikat kembali pada kepala yang kepanasan tombak dan runcing. Parang yang tajam kembali bergerak pada barisan yang terdepan memegang kepala musuh dan memotong seketika. Kami pun kembali berperang melawan kecemburuan, kebencian, perselingkuhan, kebohongan, pengkhianatan yang seakan memakan setiap jeda-jeda penantian akan kehadiran cinta dan kasing sayang.
Tiga tahun lamanya kami tak berjumpa, bertatap apalagi bercengkrama berbagi, mengisi, menghibur. Kali ini saya memilih berkiblat pada hubungan jarak jauh (LDR).
#Bersambung...