Jumat, 06 Februari 2015

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #GADIS KECILKU BERMATA PELANG



Makassar,02 januari 2014
12 : 14 pm oleh; Ishak rahman Boufakar
GADIS KECILKU
BERMATA PELANGI

            Telapak kaki mungil, kurus tak beralas padang lamun, pasir kecil, kerikil tajam, butiran debu, rumput liar, genangan air, hanya itu yang teralas pada telapak kaki mungil nan kurus itu. Kini sabda-sabda liar dari mulut yang kaku teracungkan hanya senyum tipis , bola mata Kristal, rambut ikal tak terurus yang dapat terbaca, terpahami, terresapi pada hati yang berlapis baja, mata yang terkotak oleh sang tembok yang terteduh.
            Sahut menyahut salam rindu, angan, harapan, pada jubah-jubah yang sobek, kertas yang lentur, pita yang terurai, benang yang terutas, diding yang lembab, lantai yang tergenang, serta kertas yang berpasir.
            Sore itu langitpun berpihak pada gadis kecil ingusan itu, jari-jari kecilnya terpaut pada ke-7 warna garis pada cakrawala itu, sambil tersenyum disertai derap selangkah demi selangkah, pada garis yang berujung itu. Salam rindupun terucap di sela-sela kekaguman pada keindahan sesaat itu.
Adakah kau bertahan untuk ku sejam, sehari, sebulan, bahkan setahun ?
Adakah kerinduanmu untukku saat ini ?
Apakah kau memembenciku, memusuhiku, hingga langkah kakimu begitu cepat pada bola mataku yang malang ini?
Maukah kau menjadi teman, sahabat, kekasihku ?
Maukah kau berbagi cerita denganku tentang kehidupan yang kejam, menakutkan ini ?
Maukah kau menemani kesendirianku yang selama ini yang hanya embun dan mentari  yang rela menemaniku ?
Hanya itu saja pinta gadis belia pada sang pelangi yang sombong itu.
            Jiwanya seakan kosong, hampa, terbang melayang, mati berdiri tatkala  sang pelangi beranjak pergi, adakah kedatangannya pada setiap penantiannya, setiap kerinduannya, sang malampun mengetuk pintu-pintu langit dengan wajah gelap menakutkan, hanya saja cahaya sang bulan yang dapat membujuknya diantara gelap yang menakutkan itu.
            Me, ji, ku, hi, bi, ni, u ; merah, jingga, kuning, hijau, biru. Akupun berhenti pada hitungan hitungan warna biru. Ingatanku kembali pada gadis kecilku, warna kebanggaannya biru. Akupun bertanya-tanya dalam benakku sendiri, ada keunikan apa dengan warna itu? Bukankah warna itu yang nampak pada tubuh kita ketika terjadi benturan? Misalnya; terjatuh, tertampar, terpukul, yang terasa sakit karna warna itu, warna yang menakutkan,  bukankah begitu? Ataukah adakah keindahaan warna biru di balik warna ketakutan  dan kesakitan itu?
            Ya, gadisku menyukai warna itu dikarenakan ada keunikan tersendiri di antara warna-warni yang tampak pada garis di cakrawala itu.
            Ya, kenapa langit terlihat indah? Bukankah dihiasi oleh warna biru. Intensitas gelombang panjang dan pendek memancarkan warna biru sehingga langit terlihat biru nan indah. Bukankah lautan terlihat indah karna kebiruan, yang tampak walaupun warna aslinya bening, kenapa terlihat biru  yang menandakan kedalam dan kejernihan laut itu. Ada apa dengan warna ini? Atau kenapa ibu kosku memilih cat kamar kosku berwarrna biru bukan yang lain, ataukah dengan tidak sengaja saya memilih warna sepreiku yang bermotif biru, sehingga gadis kecilku terlihat polos pada dinding dan kasur kesayanganku.  Ikat rambut gadisku yang berwarna biru itu seakan bernyawa dengan seluruh penghuni kamar ini. Hanya  kebiruan itu yang menemani setiap tidurku ketika melekat pada kulit tangan yang kurus.
            Aku mencintai gadis kecilku dengan kebiruan. Kebiruan pelangi,  kebiruan laut,  yang tak pernah bermetamorfosis warna khas itu. Kerinduanku pun terobati dengan ikat rambut gadisku  yang biru itu atau dengan menatap kalikator bermotif biru pada  tembok dinding kamarku.
            Aku terlihat membisu ketika baju bermotif biru seakan menghalus pada penglihatanku,  angkot(pete-petee) jalur antang melaju begitu cepat hingga kebiruan itu menghalus pergi, akupun terus menatap  setiap  warna kebiruan yang menghampiri,  “adakah ia bersama warrna kebiruan itu?” itulah pintaku saat itu.
            Warna kebiruan itu yang bisa menghantarkan ingatanku pada masa sekolah jenjang pertama. Kebiruan yang terlihat rapih pada barisan-barisan yang tengah menghadap sang merah putih di halaman sekolahku. Kebiruan dan keputihanlah identitas jenjang pertama bagi mereka gadis-gadis kecil nan lugu atau pemuda-pemuda kecil bersuara serak. Atau celana kebiruan yang terlihat sobek ketika menaiki pagar-pagar sekolah.
            Warna yang terlihat bernyawa pada gadis beliaku yang tengah bercengkrama bersama segerombolan anak rumahan dengan julukan “sang lascar pelangi”. Sang pelangilah yang dapat memaksa mereka untuk kelua kamar, kelas, kantin, ruang fotocopyan, ataukah sang laskar yang memaksa mereka melawan keterbatasan, guru, teman, ibu, bapak, om, tante, nenek, dan kakek. Melawan setiap pengkekangan yang semena-mena otoritas sang mahha tau. Melawan membanting pintu, piring  ketika hasrat tak terpenuhi, atau melawan keluguan, malu, bimbang, ketika mengintipp di balik jendela rumah, ketika seseorang yang ditaksir melewati jalan-jalan yang penuh dengan keramaian itu.
            Senyum tipis suguhan gadis-gadis manja rumahan sang penguasa meja jualan pada poros jalan sekolahan. Ada yang terrlihat beda di antara gerombolan gadis-gadis belia itu,  seorang yang tak banyak bersuara, bertindak, menunduk ketika sorotan mata  yang berlawanan tertuju padanya, lugu, itu yang terlihat, mata yang beda di antara yang ada “ramah” itu yang terjamak.
            Saat itu ritual-ritual tahun baru  digenakan pada tembok-tembok kotaku. Kota yang yang terunik bahkan mengalahkan eropa yang eksotik, eropa yang berwajah imperalis, bahkan kota kecilkupun korban penjajahan. Aku tak pernah merasakan penjajahan itu tapi kata leluhurku itulah kiamat kecil bagi mereka. Aku tak selalu memandang eropa ari sisi eksotiknya, dibalik eksotiknya itulah menyembunyikan predatornya. Aku yakin kita semua memiliki catatan-catatan kaki  bagi benua itu. 
            Terlihat dengan jelas dibalik ruang tamu itu gadis kecil nan lugu itu tengah berdialektika dengan kitab-kitab yang buram. Langkah kakiku pun terlihat pada jalan yang setengah aspal itu. Tanpa sadarpun terlihat kontak mata si gadis di balik bilik itu. Ada yang beda dengan tatapan itu, sayapun memilijh diam tak bersuara hanya saja nafas yang tak beraturan terdengar pada telinga. Duduk, berdiri, kesana,kemari itulah ekspresi saat itu. Tanpa sadar lambaian tanganku tertuju pada gadis belia itu,  namun ia tetap acuh tanpa memperdulikan seruan itu. Dan akupun tak mau mengalah  berulang-ulang kali  seruan itu dan akhirnya gadis belia itu beranjak dari tempatnya namun ia pun kembali pada tepatnya semula.  Setelah beberapa menit gadis belia itupun keluar dari zona amannya. Saya pun mengikutinya dari belakang, bak menghitung setiap langkah kakinya. Ia pun membelok dan masuk kedalam sekolah  dimana tempat perkemahan anak-anak SD saat itu. Sayapun berhenti di gerbang sekolah  ibarat bait UUD 1945 “menghantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka bersatu, berdaulat adil dan makmur” seperti itu keadaan yang nampak pada saat itu.
            Ada sesuatu yang berbeda dengann saya, ada keinginan yang tinggi  untuk memiliki gadis belia itu. Rencana yang tak terrencana, skenario yang tak terskenario, pesan  yan tak terpesankan, pengunjung yang tak terkunjungi, desah yang tak terdesahkan. Itulah yang selalu muncul  dalam benakku dari mana, kemana, siapa, di mana, dan bagaimana, itulah yang terjamak di kepalaku. Ada sesuatu yang menghentikan kakiku ketika melangkah menuju gadis itu. Yaaa… cemas, takut, malu, bimbang, ragu-ragu, itu yang menghentikan langkah kakiku. Seakan terdengar tembok sekolahan itu bersuara  dengan keras “dasar cemen, penakut”,  sayapun terlihat bodoh saat itu. Antara maju atau mundur, diam atau bersuara, duduk atau berdiri, pulang atau bertahan, semua tercampur menjadi satu tak bisa membedakan, mamilah, atau menafsirkan.
            Pada saat diam terpaku, terlihat bayang gadis itu bersama temannya menuju toilet di pojok sekolahan itu. Dengan keberanian ½ saya menghampiri gadis belia itu. Toilet buntut dan bau layaknya tumpukan sampah metropolitan yang tak tersentuh cairan penghancur bakteri. Namun inilah suasana romantika, lebih sensasi, terdahsyat, lebih nikmat dari kopi cappocino dingin atau good day suguhan rumah kopi yang membual itu.
            Detak jantung tak beraturan, berdetak tanpa irama, nafas tersendak-sendak di lubang hidung, tubuh bergetar bak penggiling gabu padi, tatapan mata seakan mengambang, terpancarkan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Tak kuasa menahan suasana itu,
Saya : “beta pu itu bagimana???
 Itu yang terlontarkan dari mulut yang kaku
            Si gadis belia : “apa. . .???
Itu yang terjawab dari mulut gadis belia itu.
            Saya : “yang beta bilang di awat itu”
Lebih meyakinkan
            Si gadis belia : “oowgh itu.”
            Saya : “iya,lai bagimana, mau ka seng???
Lebih meyakinkan si gadis belia
            Si gadis belia : “emm J bagimana ee”
Terdengarnya penasaran
            Saya : “bagimana, capat ka beta mau pulang”
Kedengarannya memaksa
            Si gadis belia :  “emm J beta mau”
Kedengaranya pasrah
            Saya : “iya beta pulang doo ee J “

            Tanpa menunggu peintah sayapun menaiki pagar sekolahan itu “yes J, yes J, yes J” , sayapun berlari dengan gembira, riang ingin terbang, seketika, tertawa sendiri sambil membayangkan prolog tadi.
            Suasana berubah seketika, saya merasa berhasil, menang menaklukkan impian saya. Ibarat pasukan umat muslim menaklukkan musuh-musuh pada perang khaibar, bangsa Indonesia atas  penjajahan jepang dan belanda atau penaklukkan kota kostantinopel, itulah suasana yang tergambar saat itu. Awal yang tak terrencana dan ujung yang tak berbentuk. Malamku pun terjamak dengan sajak-sajak usang, sajak-sajak yang tertuang dalam kitab-kitabku yang tak bernama itu. Baik sang seniman kata-kata Andre hirata, sang sufi Jalaludin Rumi, Habibul rahman el-siradji, khalil Gibran dengan sayap-sayap patah, soe hook Gie dengan catatan sang demostran, khairil Anwar, W.S. Rendra, Pramodia antara teori “bumi dan manusia” semuanya hadir dengan sendirinya menemani setiap malamku yang larut itu..
            Gadis kecilku nan lugu seakan hadir pada langit-langit kamarku, dinding kamar yang bolong, karpet panjang yang berbukit; tertawa kecil tanpa suara seakan menyobek-nyobek gantungan baju pada dinding kamar itu. Bolak-balik badan, membuka menutup bola mata tak mampu terhitung pada malam yang larut itu.
            Hingga pagi yang sombongpun menjemput dengan mentarinya seakan membakar kulit-kulit mungil di balik dahan pohon itu. Terlihat barisan gadis-gadis mungil itu dengan jelas bola mata Kristal terderet dalaam barisan itu. Sayapun tersenyum memoriku memaksa untuk kembali pada malam berseri 01-01 2009 itu. Sayapun kembali berdialektika dengan memoriku yang sedikit terisi itu, hanya gila saja terucap dari mulutku untuk otakku. Gadis-gadis itu sedang berpiknik rupanya hanya tatapan hampa itu ajakan dari  wajah gadisku yang mungil. Saya tak berani berkata apalagi  bergabung bersama barisan panjang itu.  Sayapun melepaskan dengan hati sedikit tersentak, gadis beliaku bersama barisan para laskar  yang berpelangi itu.
            Dan pelangiku tak bermunculan lagi ketika rintik hujan bersama panasnya matahari. Pelangiku beranjak pergi bersama barisan panjang di pagi itu. Bersama laskar yang menarik kebiruan dari penglihatanku. Kebiruan langitku, dan kebiruan lautku.
            Saya kembali berdialektika dengan lembaran-lembaran di bawah lemariku, di bawah bantalku, dan di bawah lipatan bajuku. Semua terasa mimpi apa yang terasa dan terlihat hanyalah lamunan panjang, lamunan yang seakan menyita seluruh realitas kehidupanku, tentang cinta berseri, tebaran pesona, dialog yang bergetar,  toilet yang tak terurus, dinding sekolah yang bolong, arloji yang berdering, sajak yang tak bernama, bernama yang tak berwajah, “cinta satu malam” hanya itu saja yang terdesain pada cover depan lembaran putih kata itu.
            Rotasi bumi terhenti sejenak, malam sedikit kesiangan dan siang sedikit kemalaman, semua tampak menatap ukiran tebak pada cover itu “cinta satu malam” aku tak mau siapapun yang menginspirasi kecuali inspirasi yang menggodaku, membujukku itu yang aku mau “bukan si Melinda” tapi “si realitas cintaku yang berseri itu”. Hanya gadis beliaku itu saja yang ku mau. Aku tak begittu jelas memandang wajah gadisku yang polos nan lugu itu. Hanya lugu dan poloslah ada pada ingatanku yang sedikit terisi angin. Bahkan jari-jari, tangan, dagu, pipi, rambut, bola mata gadisku pun aku tak mengenalnya. Saya tak dapat memahami sampai sekarang kenapa semuanya berubah tawar saat itu.
            Kami tak lagi bercengkrama apalagi membelai rambutnya, mengusap keningnya, mengkecup keningnya yang lebat itu, menatap bola matanya agak sedikit lama, dan  menatap bibirnya yang tipis agak lama, tak satupun saya perbuat saat  itu. Hanya kebencian atas dirilah yang dapat tergambarkan saat itu. Antara marah, kesal, benci, tampar, lempar, membanting, dan memotong. Semuanya terbentuk hanya wajah gadisku yang tak terbentuk saat itu. Tak ada hakim dari belanda, atau imam dari iran, sang ratu dari inggris, sang seni dari italia, sang pedalaman dari afrika yang eksotik, bahkan sang pustakawan dari bagdad sekalipun tampak wajah mereka menghakimiku. Hanya cambuk-cambuk kecil dari tanah arab yang panas mencambuk setiap keluh kesalku pada cinta berseri itu atau sang penjudi di miraza skalipun tak mampu membayar harapanku yang sirna saat itu.
            Sang waktu tak berkiblat ke padaku. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan. Kami terlihat kaku  pada poros jalan-jalan ketika sang pelajar menghabiskan jam belajarnya. Hanya menunduk, terdiam, terpaku, membisu, sapaan kala itu. Saya tak bisa mencerna setiap respon-respon ini. Respon yang tak bermakna, terdefenisi, tersirat, semakin tersudut dan terpojok setiap hari. Walaupun si Albert Enstein, Ibnu kaldu, ibnu Sina, Sir Isaac newton, Al-farabi, dan Aristoteles  mendiktiku sekalipun aku tidak dapat mendefenisikan setiap respon-respon kami saat itu.
            Semakin hari semakin terlihat jelas. Kami terlihat saling menjauhi, bahkan melupakan hadir meramaikan suasana. Sayapun kembali berkiblat pada cinta yang lain, entah apa alasanya tetap berkiblat, itulah jawaban saat itu. Gadis beliaku terlupakan dari ingatanku, terhapus dari langit-langit kamarku, dinding-dinding kamarku, pohon-pohon rimbun, serta ayunan-ayunan berfer. Cinta pada yang lainpun mulai bersemi tanpa hujan, lembab, maupun mendung. Cinta pada yang lain terus subur, tanpa persemaian, tanpa pemilihan benih, perkecambahan. Terus melajut tanpa penyiangan, alih fungsi, lahanpun mencoba di adopsi pada penyebaran senyum itu.
            Tebaran pesona semakin menghijau pada tanah-tanah yang tandus terbakar seketika itu.
            Hingga padaa  hari pementasan drama sekolahan gadis kecil mungilku, malamnya tanpa sengaja saya di kejutkan dengan kedatangan mereka bertiga di samping pekarangan rumah kami. Sayapun memberanikan diri untuk mendekati gadis kecilku lagi, ada sinyal-sinyal terpancar yang tampak saat itu. Sayapun mengantar mereka meminjam segala keperluan pentas mereka, dan saat itu sudah larut malam, saya dan kawan saya (nabil) mengantarkan mereka pulang ke rumah. Namun, begitu kagetnya saya di tengah perjalanan kakak dari si gadisku ini menjemputnya dan sayapun menjauh dari jemputan kakaknya itu. Hingga pagi untuk acara pentasnya, saat itu gadiskulah pembaca skenario dari sebuah drama yang di pentaskan saat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati saya “kau tak beda dengan penyair yang membumi”. Dan kamipun tak berjumpa lagi untuk yang kedua kalinya.
            Pada saat akhir studyku pada jenjang akhir sekolah berlogo “Mitreka Bhineka” gadis beliaku tak lagi di sampingku. Yang di samping hanyalah bekas pacar dari kakak gadis mungilku dan nia yang pernah ku lempari dengan kursi kelas dudukku. Gadis kebiruanku terlihat di pojok-pojok barisan yang tengah tersenyum tanpa isyarat. Aku tak dapat mendefinisikan senyum itu. Senyum perpisahan atau senyum kesedihan, aku begitu tak bisa membedakan bahasa isyarat itu.
            Aku tak dapat meninggalkan sesuatu untuk gadis kecilku kecuali ketidak pastian, hanya itu saja yang kutinggalkan. Ketidakpastian yang tak terbentuk, tak berwajah, tak terkontak. Saat itu aku tak memiliki nomor ponsel gadis kecilku, hanya kertas-kertas buram yang terhempas kesana kemari tanpa sedikit tinta terjamak pada wajah kertas itu. Bahkan wajah gadis kecilku pun tak terlihat ketika kapal bertujuan kota Patimura itu berangkat. Hanya si vina yang melambaikan tangan dari sudut gerobak-gerobak tua. Atas pintaku padanya saat itu. Si Nia pun datang dan akupun malah menjauhinya ketika ingin melepaskan kepergianku ke kota Patimura.
            Ransel kecilku penuh catatan-catatan kaki tentang kemarahanku pada si Nia, atau si Titin yang tak mau menghantarkan kepergianku hanya menitip foto itulah lambayan tangannya dari wajah foto itu. Aku begitu melupakan gadis kecilku, ia pun tak hadir dalam ingatanku saat itu.
            Kota sang patimura, berkawan srikandi Kristina Martha Tiahahu mencoba menghapus setiap memoriku tentang gadis kecilku. Gadis belia bermata pelangiku begitu tersusun rapi pada tumpukan-tumpukan kitab di kamarku. Kabar berita gadis kecilku tak pernah terlontar pada setiap sabda-sabda liarku, kami begitu melupakan satu sama lain. Aku mendengar kabar berita dari adikku yang kebetulan teman sekelasnya, bahwa ia telah berdekatan dengan seorang teman kelasnya. Saya begitu tak yakin, tapi itulah realitanya. Akupun memilih cinta yang lain, ia pun sebaliknya, kami sedikit tenang di samping teman baru kami masing-masing. Walau kenyataannya tak selalu begitu.
            Tuhan begitu tinggi maha kuasanya kepada hamba-hambanya. Begitu bijaksana atas keputusan-keputusannya, maha jeli dalam desainnya, hanya Tuhan lah desainer yang ulung. Bukan desainer yang maha tau, Tuhan lah sang penepati janji tatkala hamba-hambanya terhipnotis mengingkari setiap perjanjian. Apakah ini rencana Tuhan, aku begitu tak berkata apa-apa ketika gadis kecil bermata pelangi itu mengiyakan pintaku “melanjutkan hubungan kami”.
            Kini pelabuhan tima di panaskan kembali. Tauri di bunyikan dari puncak binaya, kain kapitan di ikat kembali pada kepala yang kepanasan tombak dan runcing. Parang yang tajam kembali bergerak pada barisan yang terdepan memegang kepala musuh dan memotong seketika. Kami pun kembali berperang melawan kecemburuan, kebencian, perselingkuhan, kebohongan, pengkhianatan yang seakan memakan setiap jeda-jeda penantian akan kehadiran cinta dan kasing sayang.
            Tiga tahun lamanya kami tak berjumpa, bertatap apalagi bercengkrama berbagi, mengisi, menghibur. Kali ini saya memilih berkiblat pada hubungan jarak jauh (LDR).

#Bersambung...

Selasa, 11 Februari 2014

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR :# Hujan tetap mengguyur Bumiku.


Kutatap langit dihiasi awan hitam
Sejuk mendung bertopeng serumpun badai
Bosan dan jemu kumemandangnya
Ngeri dan ngilu kumerasakannya
Namun semuanya tak berarti, hujan tetap turun mengguyur bumiku

Perlahan aku bangkit, tertatih menjauhi guyuran hujan
Tak sampai bataspun terkulai lemas tubuhku
Pasrah tak kurelakan
Khilaf ku pun tak kuasa
Namun semuanya tak berarti, hujan tetap turun mengguyur bumiku

Kini tubuhku berlumuran Lumpur
Kini tubuhku berbau sengat
Kini tubuhku gigil beranjak ke pesakitan
Menangis tersedu daya dan upayaku
Termenung berlarut menatap kegelisahanku
Terhina ragaku seumpama buih yang mengapung

Perlahan aku bangkit lagi, tertatih menjauhi guyuran hujan
Ketika cerah mulai menggelabui awan hitam
Kala ceria kalbu terus menggonggong ketidakberdayaanku
Kala cemara masih meneteskan air sedapannya

Secercah harapan yang terbesit dalam ingatanku
Mulai berbisik di telingaku
Aku akan tetap menghembus udara segar cemara ini
Meskipun tubuh ini berlumuran Lumpur
Dan meskipun hujan tetap turun mengguyur bumiku
Kuikhlaskan, tetapi untuk membasuh lumpurku.

Kutatap langit dihiasi awan hitam
Sejuk mendung bertopeng serumpun badai
Bosan dan jemu kumemandangnya
Ngeri dan ngilu kumerasakannya
Namun semuanya tak berarti, hujan tetap turun mengguyur bumiku

Perlahan aku bangkit, tertatih menjauhi guyuran hujan
Tak sampai bataspun terkulai lemas tubuhku
Pasrah tak kurelakan
Khilaf ku pun tak kuasa
Namun semuanya tak berarti, hujan tetap turun mengguyur bumiku

Kini tubuhku berlumuran Lumpur
Kini tubuhku berbau sengat
Kini tubuhku gigil beranjak ke pesakitan
Menangis tersedu daya dan upayaku
Termenung berlarut menatap kegelisahanku
Terhina ragaku seumpama buih yang mengapung

Perlahan aku bangkit lagi, tertatih menjauhi guyuran hujan
Ketika cerah mulai menggelabui awan hitam
Kala ceria kalbu terus menggonggong ketidakberdayaanku
Kala cemara masih meneteskan air sedapannya

Secercah harapan yang terbesit dalam ingatanku
Mulai berbisik di telingaku
Aku akan tetap menghembus udara segar cemara ini
Meskipun tubuh ini berlumuran Lumpur
Dan meskipun hujan tetap turun mengguyur bumiku
Kuikhlaskan, tetapi untuk membasuh lumpurku.

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #DUKA RAFIKKU


 Tak lagi ada senyum yang mewarnai hidupmu
Semuanya telah berganti dengan lumpur kesedihan
Jeritan dan tangis adalah isyarat kesedihan
Tinggallah syair – syair derita yang mengkotak – kotakan harapan ….

Lorong – lorong angker penuh bongkahan dan reruntuhan
Menjadi setapak nyanyian pilu yang luas tak terbatas
Menjadi panorama kebengisan alam yang tak terencana
Menyisakan derita, perpisahan, kenangan dan berjuta pengharapan ….

Genggaman tangan terasa hampa
Ratapanmu tak ada lagi yang menghiraukan
Disampingmu tinggallah keluh dan kesal
Hidup sebatang kara bak seekor domba tersesat di belantara ….

Rafikku, tataplah hari esok dengan senyum terindahmu
Singsingkian bercak lumpur yang terendap di kalbumu
Tak ada yang merelakanmu berkelana seorang diri
Uluran tangan silih berganti tanpa kau genggamkan tangan
Rabbi-pun tetap menoleh padamu
Akupun juga selalu mendoakanmu

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : #NOTES MINI from Pendidikan & latihan dasar Kepencintaalaman

NOTES MINI 

Cerita klasik from Pendidikan & latihan dasar Kepencintaalaman

            Ishak Rahman Boufakar_KAC 087 1895 BYN -O

9 Desember 2013 pukul 23:52
    Diklat Ruangan
H- 1  Minggu 25 Desember 2011

    Sang mentari membentang di cakrawala memancarkan sinar-sinar kemasanya pertanda pagi yang dinanti telah tiba. tepatnya tanggal 25 Desember  2011 adalah hari pertama berlangsungnya Diklat Ruangan, kali ini sasarannya ARBES ke-7 Diklat ruangan berlangsung.biasanya diklat ruangan  di selenggrakan dalam ruangan tetapi kali ini tidak menutup kemungkinan kali pertama diklat di selenggarakan di alam terbuka.

    Tepatnya pukul 07.00 WIT saya bertolak dari ruma menuju Arbes, mengigat kantong saya menipis akhirnya jalan kaki adalah pilihan saya, sebelum berpamitan kami menyiasiapkan alat-alat yang di perlukan pada saat diklat missal; pulpen, buku tulis,  itu yang lebih penting. Syukur si Nabil serumah dengan saya akhirnya kami menuju arbes bersamaan, dan tak lupa menggenakan kaos putih sebagai kaos dinas diklat segitulah.

Jarum jam menunjukan 08.00 WIT setibahnya di jembatan ARBES, terlihat senior Anti menanti kami, saya dan nabil pun bersalaman dengannya mumpung kawan-kawan saya yang lain telah ada maka kami pun melanjutkan perjalanan menujuh Arbes ke-7. Dalam perjalanah menujuh tempat tujuan terlihat kecapean pada wajah kawan-kawan saya yang cewek namun itu terlihat sebagai segelintar semanggat yang membakar harapan, dan akhirnya kami pun tiba. di Arbes ke-7. begItu terkejut saya menatap keindahan alam yang begitu indah. Seliri angin meniup tubuh saya seakan terasaan ibarat suguhan angin bak alakadar setibah saya dan kawan. Ini adalah kali pertama saya menginjak tempat ini, pohon-pohon pun terlihat sama halnya seakan menunduk memberikan penghormatan kedatangan kami, beristrahat sejenak kemudian di lanjutkan dengan acara pembukan diklat yang dihadiri anggota kadal serta SEKUM mewakili KETUM pada saat memberikan sambutan serta membuka dengan resmi kegiatan diklat tersebut.

    Selanjutnya di lanjutkan dengan pemberian materi oleh para senior,materi yang pertama kami dapat adalah ’’ Kepemimpinan alam terbukan’’ oleh senior Nuzul.A. Lulang (Galang), jarum jam menjukaan 10.00 WIT materi berlangsung. Kami pun dengan antusias mengikuti materi tersebut , dimana materi tersebut di maksu agar kita memeliki keteguhan hati dan mampu mengendalikan diri kita dan orang lain ketika kita di percayai sebagai seorang pemimpin di tengah lingkungan kita. Metode yang di pakai system diskusi, dan lebih seruhnya lagi saudara pemateri memberikan kesempatan bagi kami agar tampil kedepan agar mengusulkan pendapatnya  masing-masing  dengan maksud apakah apa yang kita sampaikan itu dapat mempengaruhi orang lain atau tidak. Dengan keberania dan semangat yang menggih akhirnya saya tampil ke depan mewakili kawan-Kawan untuk menyampaikan pendapat saya, dan akhirnya Alhamdulillah apa yang saya sampaikan di sanggah dengan baik oleh kawan-kawan saya.

    Jarum jam menjukan 11.00 WIT materi pun berakhir dan kami pun beristrahat sejenak memulihkan stamina kami.dalam pengistrahatan kami di bagi menjadi dua kelompok oleh senior Aulia, dan saya di percaya memimpin satu kelompok, kami di bagi lima orang satu kelompok karena jamlah kami saat itu lumayan banyak, totalitas kami berjumlah 12 Calon anggota  namum hanya 10 cang yang hadir saja diataranya, kawan jasjus, si pinsang (Jiia), Nebi,dan hajar dan yang lain di kelompoknya ipul. kami  di suruh membawa yel-yel  masing-masing kelompok oia, saya masi ingat betul bait-bait..” Tidak ada yang enak, tidak ada yang nyaman,selain alam terbuka… salam rimba. ‘’sesudahnya itu dilanjutka dengan materi selanjutnya ‘’Sosiologi pedesaan’’ oleh senior Suharni materi yang ia sampaikan dengan metodi diskusi, asensi dari materi ini bagaimana kita mempelajari psikologi masyarakat agar kelat kita terjuna dalam lingkungan masyarakat kita tidak terkontaminasi,karena kita adalah bagian dari masyarakat. Materi berlangsung pukul 12.00 WIT dan berakhir 01.00 WIT  dan pukul O2.OO  di lanjutkan dengan materi yang ketiga ‘’ Teknik surat menyurat “ oleh Senior Aulia Atamimi dan kami pun di latih menulis surat, materi Berakhir pukul 03.00 WIT akhirnya kami pun beristrahat sejenak menanti suguhan makana dari para senioritas, yang menjadi juru masak saat itu dari angkatan Nifsu yaitu senior kiky.

    Jarum jam menunjukan 03.30  suguhan makan terlihat tergeleta di atas bebatuan daun pisang  sebagai pengalasnya, do’a pun di terdengan  dan kami pun mulai makan namun yang membuat kami semua tersentak makana yang kami kunya tidak dapat menelangnya  sebab nasinya setengah matang ini adalah kesalahan juru masak, tapi alhamdulilah kami pun menyelesaikan makan tersebut. Sesudah makan kami beristrahat sejenak dan kami pun mengikuti materi yang terakhir karna mengingat diklat ruangan hanya sehari. Materi yang terakhir adalah “ Manejmen perjalanan” oleh senior Fandy, materi pun berlangsuna kami pun antusias mengikutinya, asensi dari materi  ini adalah  bagaiman  perencana kita dalam sebuah perjalan, misalnya dalam sebuah pendakian  yang harus dipersiapkan adalah logistic, mendeteksi tempat yang di tujuh missal, temperature, persediaan air,dll. Materi pun di berakhir pukul 05.00WIT
sesudahnya  kami pun bersiap kembali keruma masing-masing.

Salam rimba untuk sahabat alam..
Bye-bye….
    Diklat Lapangan

    Kawanku hari yang kita nantikan telah tiba, terlihat sahabat alam sebuk menyiapkan logistic persediaan masing-masing tak ketinggal saya mengambil bagian dalam kesibukan itu. Mumpung dompet saya terlihat selembar raja dunia tertidur lelap, akhirnya ini adalah saat yang tepat ia bangun.

    Arloji di kamarku yang kusut berdering tepatnya pukul 07.00WIT, Henphone bergetar terlihat pesan singkat ‘’ posisi..? nak2 su kumpul..BY Abg Galang. Tampa tunggu perintah kebetulan si ipul di ruma saya juga. Saya, nabil dan ipul melucur ke batu merah di kediaman senior Aulia untuk menyipkan persediaankami. Kebetulah hari jumat maka di tundah keberangktanya ba’dah jumat ,  pukul 16.40 WIT pekingan sudah siap maka kami berdoa dan melanjutkan perjalana menujuh terminal angkutan seith. Saya sedikit kesal hanya kami berempat yang hadir sisanya tidak ikut serta tapi tidak apa-apa dalam hati saya berkata mungkin kami berempat yang di ilhami untuk kadal saya selalu percaya itu. Setibahnya di terminal langsung naik angkutan menujuh seith..

H- 3  Jumat  3O Desember 2011

    Roda angkot pun masi berputar kencang  kawan saya si jia tertidup lelap di pundak saya, saya sangat menikmati perjalanan ini sangat menyenangkan karena ini adalah kali pertama melewati perkampungan ini, perkampungan ini masi terlihan hijau dengan keanekaragam biomanya. Jarum jam menjukan 18.56 WIT roda angkot  berhenti kawan saya terlihan terheran lalu ia pun bertanya ‘’ sudah sampai di mana..?? ‘’ kaitetu.’’.  saya kaget mendengar jawaban itu.padahal senioritas kami sudah merancang scenario tersebut , mereka mengiginkan kami traeking dari kaitetu samapai pantai boyan seith tujuan melati mental dan fisik ,kami pun mengiyakan saja keinginan tersebut sebelum mealnjutkan perjalanan kami berdoa yang di pimpin saudara korlap Alif. G.Hayoto dan taklupa kami mengambil dokomentasi, kami pun di damping senior Lasu dan josan mereka mengatakan kepada kami bahwa inilah materi sosiologi pedesaan berfungsi  dimana kita menjaga wibawah kita serta menghormati sesama , intinya menyapa siapa saja yang kami melihatnya kami pun mengiyakan seruan tersebut dan mulailah melanjutkan perjalanan.

    Perjalanan yang panjang kami lewati begitu saja, selangkah demi selangkah kawan saya jia terlihat kecapean kami pun beristahat sejenak  pukul 20.10 WIB kawan saya ipul dan si nabil pun melepaskan beban kerelnya mumpung kerel hanya dua pasang maka giliran pertama adalah mereka berdua, perjalana pun berlangsung yang membuat kami tersentak si korlam meneriakan cengkreng kami pun mengikuti dan menyedihkan lagi  kami di suruh  sith up, push up dan skotjam dengan istilah satu set dan sesudah itu kami di suruh mencium tanah lalu meneriakan ‘’ saya cinta kadal’’ jujur saya ketika saya meneriakaan itu perasan saya kesal bercampur bangga, kesal karena beban kerel yang begitu berat dan bangga karena hanya kami yang  di ilhami untuk kadal. Dan yang saya banggah dari kadal adalah kebersamaanya,kawan teman yang cewek kalau kami berjalan dimana saja ia tidak bisa di posisi depan dan belakang jikalau  ketahuan maka tidak tau mau berkata apa. system set pun berlangsung  mengiringi perjalana kami. Dalam perjalan kami beristarahat terhitung tiga kali,dan tepat pukul 22.12 WIT kami pun tiba di lokasi diklat. Terlihat para senioritas menanti kami dari tadi, teriakan cengkring pun terdengar kami pun cengkring sejadinya kami di suruh berjejer dan mata kami pun di ikat keras-keras tujuanya melati filing kami yang pekat terhadap kegelapan, jujur saya blank pada saat mata saya di ikat yang menyebalkan lagi kami di suru lapor sampai suara serak ibarat pita suara kami hamper copot, tapi tidak apa-apa saya menikmatinya kawan, kemudian dalam keadaan mata tertutup kami berjalan kurang lebih 50 m kemudian sampai di pos kedua kami di suruh mengikuti apa yang di perintah oleh senior Aulia  dan ada sabuah filosofi yang  di lontarkan ‘’ saya berpikir, saya rasa pasti bisa’’ bagi saya ada makna yan terkandung dalam filosofi tersebut sehinga saya semakin bersemangat dengan pilihan saya. Dan kami pun menuju pantai dalam keadaan yang sama, sesampai di pantai kami pun membuka mata, suasanya nyaman kemudia kami di suruh membuat bifak untuk peristrahatan kami. bifaknya siap tepat pukul 01.15 WIT, karena kami sedang lapar kami pun di suruh lapor dan siap makan, kawan yang saya bangga dari kadal adalah kebersamaanya makan yang pertama kami di suruh suap dan menyuap sesama kawan-kawan saya dan akhirnya makan pun selesai kami pun membersikan alat makan kami di sungaI bersama-sama.

     Dengan Kondisi tubuh kami saat itu ibatnya sebelah anggota tubuh sudah di ranjang namun, karena akan di lanjutkan dengan penyampaian materi ‘’ Sejarah kadal adventure club’’ oleh Senior Aulia kami memaksa mengikutinya  tepatnya pukul 02.15 WIT materi pun bersangsung karena dengan kondisi setengah sadah pemateri tidak terlalu menyita waktu kami dan akhirnya materi pun selesai pukul  03.00 WIT, kami sangat kelelahan sekali dan harapan kami hanya satu semoga bunga tidur menghapus kelelahan ini. Hanya keheningaan dan kedinginan malam menggongong harapan kami..
Salam rimba untuk sahabat alam..

Good night...

H- 2 Sabtu  31 Desember 2011

    Dingin yang tajam tertusuk kulit terasa  nyeri mati masi tertutup rapat terdengar teriakan menghalus di telingan tepatnya pukul 06.03 WIT, teriakan melibihih kedinginan pagi..cang hitungan ke 10 semuanya berdiri di hadapan para senioritas, tanpa menunggu merinta kami pun  berlari sejadinya menuju para senior. Seperti biasanya ketika kami di panggil lapor itu  tidak bisa di lepas pisahkan dari kami. Kami di suru berbanjar kemudian lari-lari kecil di lanjutkan dengan senam pagi dalam menggerakan anggota tubuh kami terasi kaku sebab udaranya dingin sampai-sampai kami tak mampu menahan gejolak tersebut, senam pun berakhir kami pun di suru berbalik kiri posisi menghadap air laut kami di buat terheran-Heran oleh para senior meraka memerika barang-barang yang anti air dan menyerahkannya kepada mereka, kami pun mulai sadar apa yang di inginkan. Terdengar suara .. mulai hitungan ke sepuluh semuanya dalam air dengan posisi hanya kepala saja yang terlihat di atas permukaan . kawan yang menyedihkan lagi ini adalah kali pertama kami mengalami hal ini, kawan kami terlihat ibarat masyarakat kita zaman penjajaha  tapi kami selalu menikmati itu menjadi komitmen bersama hanya demi satu nama cita-cita kawan.kami relah melakukan apa saja walaupun raga ini di cabik-cabik namun suara komitmen dan selalu siap melebihi rintangan , tantangan di depan mata. Tangan kami menggegam satu sama lain mulailah nyayian Indonesia  terdengar kaku dari mulut kami yang tulus , jujur kawan ketika  saya menjiwai nyayian itu tak sadar air mata pun terlinang,  dan saya pun bertambah semangat dengan lantunan  bait puisi dari kawan nabil dan saya sendiri ‘’ Di luar sana pasir, di luar sana debuh, angin bertiup saja lalu terbang, kawan menarilah, dan teruslah menari hanya kita yang tau karena kita satu’’ kami pun semakin bersemangat dengan lantunan puisi itu, kemudian kami pun dengan posisi tiarap di garis pantai merayap  kurang lebih sepuluh meter, sang ombak pun menghempas tubuh kami dan tak ketinggalan sistem set pun di ikut sertakan kawan tetapi kami selalu menikmati apa yang komitmen bersama sesudah itu kami pun berjalan mengikuti garis pantai menujuh sungai, kawan ini adalah kisah yang takan pernah terlupakan, jujur ketika saya menguras kembali cerita ini dalam laporan ini saya meneteskan air mata ini adalah pengalaman yang menyedihkan  dalam kehidupan saya, jikalau ada yang menanyakan kejadian yang teristimewa dalam hidup saya, saya akan menyatakan ketika saya di lahirkan dan ketika saya diklat kadal. Kami berjalan  melewati sungai tubuh kami bergetar tanpa irama karena kedinginan, kami pun dengan posisi yang sama hanya kepala saja yang terlihat di  atas permukaan air ketika kami di Tanya dingin maka kami pun di suruh set dengan alasan agar tubuh kami hangat. Dan menyedihkan lagi ketika kami di Tanya lapar, dengan posisi menggegam tangan dalam air hanya kepala  saja yang kelihatan, mie instan di taburkan dan terbawa arus air lalu kami di suru buka mulut dan menelan setiap mie yang terbawa  oleh air tampa yang ada yang terlewati, dan kami di suruh memberikan mie kapada kawa kami dengan mulut  Dan menyedihkan lagi ketika kami di suruh lapor dengan nama lapanga saya lupa dengan nama lapangan saya ‘’ om ondos’’ dan saya di suruh senior Galang naik di atas batu yang agak besar  lalu melapor  sampai-sampai suara saya serak. Kemudian kami di di perintahkan naik ke atas permukaan lalu berjejer kemudian para senior menyuruh kami mengofor mie yang kami makan lewat mulut ini agar kami di lati kebersamaa dan air yang kami kumur-kumur di masukan ulang ke dalam dan kami di perintakan minum air tersebut.

    Saya bangga dengan kawan saya si jia walaupun dengan kondisi sakit sejadinya ia dengan komitmen menerima semua intruksi dari para senior, kawan sasarannya adalah kami di lati mental dan fisik kami, kami selalu percaya bukan mereka yang menyeleksi kami tapi alamlah yang menyeleksi, jarum jam pun menunjukan 07.00 WIT suguhan kopi hangat pun menghapiri hanya ini adalah cara yang tepat menghangatkan tubuh kami yang kaku karena kedinginan kemudian di lanjutkan dengan pemberian materi ‘’Survival’’ oleh senior Aulia, asinsi dari materi ini bagai mana kita dapat bertahan  hidup di alam terbuka materi ini langsung praktek kami pun mengikuti dengan antusias materi berlangsung hingga akhirnya kami di suruh mencari makanan yang dapat di makan dan membuat bifak sendiri serta membuat ranjah agar menagkap hewan untuk persediaan makan di hutan yang luas.

    Praktek pembuatan bifak pun berlangsung kami saling gotong royong dan takan ada kata lelah sedikitpun dan akhirnya bifak kami pun selesai, karena kami terlihat lapar kami  bersiap melapor dan siap  makan. jarum jam menunjukan pukul 12.50 cicipan alakadar pun selesai dan seperti biasanya membersikan alat makan kami yang terbuat dari daun pisang. Kemudian kami beristrahat sejenak kemudian menungguh insrtuksi selanjutnya, kami di kejutkan dengan intruksi para senior mereka memerintah kami mengikuti senior ama yang jaraknya 100 m dari kami, ketika kami sampai kemudian melapor tujuan kami dan siap menerima instruksi selanjutnya ia menyuruh kami set di tengah garis pantai ini hal yang sangat menyebalkan tapi kami nikmati saja kemudia kami di perintahmenujuh senior yang lain sama halnya system set tidak ketinggalan karena kami melakukan kesalahan kami di perintah cengkeng berlawana arus air ini sangat menyedihkan kemudian  kami di di hukum 40 system set ketika kami tertawa mereka menyuruh kami gigit batu ini sangat menyedihkan, belumlagi pakaian yang kami genakan berbasahan 2 kali 24 jam kalau tidak salah,karena mereka mengasihani kami, kami pun berjemuran  sejenak dan di lansungkan dengan penyampaian materi ‘’ Rock c lembing( R.C)’’ oleh senior Santos  hinggah pukul 02.00 kami pun beristrahat sejenak memulihkan stamina kami.

    Kami kembali ke bifak untuk beristrahat, saya terkejuh melihat kedatangan dua orang teman kami( si jasjus dan ramdan) kami  pun menyapa mereka dengan salam rimba. Kemudian kami di panggil oleh para senior mereka menanyaka pendapat kami tentang kedatangan kedua teman kami karena dengan jiwa kebersamaan yang suda tercenang dalam jiwa kami, kami pun menerima mereka dengan sifat toleran dan mereka pun menerima intruksi dari para senior dan kami pun memanfaatkan waktu yang luang itu untuk bersantai.

    Ketika kedua kawan saya telah mendapat geliran hukumanya kami pun di panggil bersama membentuk barisan panjang. Lalu kali ini adalah kami bermain gems yang di panduh oleh senior aulia, bentuk permainanya kami di suruh menebak kartu poker jikalau ada di antara kami yang benar maka ia mempunyai hak memberikan hukuman pada kami, dan yang menyebalkan kawan nabil di perintahkan buka baju setengah, ipul melepaskan baju semuanya, si jia seperti biasa,ramdan sama seperti ipul, jasjus seperti nabil sedangkan saya lebih fatal lagi saya di suruh melepaskan celana dan berdiri di hadapan para senior dengan mengenakan celana dalam dan pada akhirnya kami semua melepaskan dan kami pun di perintahkan semua terjun ke air laut tepatnya pukul 07.30 WIT udara nya sangat dingin dan kami pun seperi biasanya di suruh menyanyikan Indonesia raya di tengah laut yang suhunya dinggin. Kemudian kami pun di panggil dan diperintahkan m erendam dalam air kecuali si jia karena kondisinya kedinginan dan menyedihkan lagi kami pun di perintahkan merayap ke semak-semak yang gatal kemudian karena si jia kedinginan kami pun menghangatkanya dengan pelukan dan menyebalkan lagi senior galang menampar kami dengan sendal eiger samba berkata ‘’ kamu kira pencinta alam itu gampang ka’’ dengan kata itu kami lebih bersemangat karna bagi saya hanya kami adalah orang-orang pilihan unuk kadal.
    Para sahabat alam terlihat sibuk ada di antara kami yang berusaha menyalakan api dalam keadaan kedinginan, si jia terlihar serius mempelajari ulang materi-materi yang telah kami dapat, dan tak ketingalan si opa cak berdandang di tengah hutan yang gelap gulita itu. Tepatnya pukul  10.00 WIB mengigat kami sudah lapar kami pun siap lapor untuk makan, begitu kaget makan yang kami makan terasa asin kami pun makan sejadinya. makan pun selesai kami pun di suruh kem bali bifak untuk beristrahat mumpung karena hari ini adalah hari akhir, para senior di kumpulkan oleh SEKUM( Ka echa) untuk menyusun strategi apa yang kami terima sebentar, karena dengan keadaan lemas kami pun tak menghiraukan perencanaan strategi tersebut bagi kami adalah tidur itu lebih penting saat itu.
 Salam rimba untuk sahabat alam…
Good night….

H- 1  Minggu 01 Januari 2012

    Hujan pun menyertai sang malam yang dingin, para sahabat alam tertidur lahap di sela-sela rintihan hujan serta udara dingin yang seakan membatu terdengar suara yang menghalus di balik telingan ..’’ om ondos’’ suara yang taka asin lagi terlihat di depan mata sang korlap yang gagah pemberani berdiri di hadapan kami. Ini adalah saatnya untuk bereaksi saya pun mendapan giliran pertama,kata orang pertama itu adalah yamg terbaik.tepatnya pukul 04.00WIT pakain kebesaran pun saya genakan walaupun basah kuyup, dalam perjalana menuju pos satu jantung ku berdetak kencang di tambah dengan dingin yang menjadi dinggin. Kurang lebih jarak saya dengan  pos satu 3 m teriakan cengking pun melibihi jarak itu saya pun mengikuti dengan teriakan..’’aku cinta kadal’’ berulang-ulang kali, saya tersentak dengan teriakan merayap pakain putih pun mengalami metamof keabu-Kemerahan sambil meneriakan ‘’aku cinta kadal’’ merayap sejadinya menjuh arah senioritas kemudian saya di suruh berdiri dan melapor sampai-sampai pita suara saya putus. Tapi saya selalu menikmati, kemudian system set pun tak ketinggalan sambil meneriakan aku cinta kadal. Karena para senior mengetahui saya anak civitas green black mereka pun menyuruh saya orasi, maklum organisasi retorika kata mereka dan menyedihkan lagi mereka menyuruh saya merayu pohon katanya itu seorang cewek cantik. Saya masi menghafal persis wajah mereka si josan yang galak, si ama terlihat super galak bahkan si ira tak kala galaknya.karena saya adalah orang pertama mereka tak menyita waktu saya tapi dengan syarat mereka menitip setangkai bunga agar memberikan kepada senior nur di pos dua.

    Terlepas dari posnya para super galak saya pun melanjutkan ke pos dua, dalam perjalan menujuh pos kedua saya di temani sang korlap yang super baik, kurang lebih jarak saya dengan pos kedua  20 m teriakan cengkreng pun melebihi jarak tersebut sambil meneriakan ‘’ aku cinta kadal’’ berulang-ulang. Tibah pos kedua lang melapor sama hal di pos pertama sampai suara saya serak dan tak lupa system set pun ada di pos kedua kemudian persembahan bunga pun di terima oleh senior nur, dan ia pun menyuruh saya ke senior lasu yang posisinya  di lemba sungai sya pun di suruh senior lasu duduk dalam air ia menasehati saya mumpung di pos kedua hukumanya tidak begitu berat saya pun di suru menujuh pos ketiga sambil meneriakan ‘’aku cinta kadal’’sampai di pos ketiga.

    Begitu hati saya senang dan bersemangat di pos kedua, kedatangan saya di pos ketiga sangat menyebalkan karena para senior di pos ini mereka  bisa di katakana supur chuek, ketika saya melapor sampai suara saya yang terdengar kuat bahkan predator hutan mendengar pun mereka lari tergapa-gapa sedangkan merekan tak menghiraukan teriakan itu malah bagi mereka teriakan tersebut menina bobokan mereka, jujur saya sangat kesal dengan perlakuan ini tapi saya selalu menikmati. Dan akhirnya mereka pun bangun dan mulailah membuka suara ‘’..haa.. ada tamu..kata senior galang yang super chuek, ..’’ paling mangantu eee.. kata senior aulia… sedangkan senior santos pura-pura tidur sejadinya. Dan saya pun di suruh masuk kedalam air hanya kepala yang kelihatan, dalam kedaaan dingin membatu merekan tak menghiraukan kalau saya dalam air, mereka saling berbincang seakan melupakan saya dalam air, saya sangat kesal kemudian mereka memanggil saya naik kemudian mereka menanyakan saya dingin atau tidak, saya katakana dingin mereka menyuru saya set. Karena sya dingin saya di persilahkan duduk di hadapan mereka. Yang terkesan di pos ini saya meneteskan air mata sebelum mereka menyuruh saya menyayikan lagu kasih ibu, karena bagi saya perjuangan saya begitu sakit dengan kondisi ini dalam komotmen saya kadal harus menjadi kepunyaanku.karena saya kedinginan mereka menyuguhkan segelas kopy dan sebatang rokok, saya pun menikmati pemberian itu dan kini harus melanjutkan ke pos yang terakhir.

    Dalam perjalan menujuh pos keempat teriakan ‘’saya cinta kadal’’ menyertai derat langka kaki, setibahnya di pos ini bagi saya inilah pos yang menyedihkan di antara pos-pos yang ada. Sangat-sangat memprihatinkan, menyebalkan pokoknya kesemuanya di pos ini. Ketika saya melapor ibarat merekan tak memiliki telingan saat itu, ucapan salam yang kami ucapkan kami sendiri yang membalas ucapan tersebut sangat menyebalkan.di pos ini kami di evaluasi terkait materi yang kami pelajari, saya di suruh masuk kedalam air hanya kepala yang terlihat di permukan lalu melapor hingga berkali-kali, dan menyedihkan lagi system set kali ini dalam air posisi kepala menyentuh dasar air dan tidak di perkenangkan menguca muka walaupun air masuk ke dalam lubang hidung kami tidak di perkenangkan menguca sekali pun. Karena senior yahya civitas green black juga maka saya di perintahkan melafalkan tujuan HMI yang bukan subtansinya di kadal ini, tapi saya mengikuti instruksi tersebut. Dan saya pun di suruh orasi dalam air yang takala dinggin itu. Karena giliran saya telah selesai maka saya di perkenalkan duduk di atas bebatuan dan saya pun berkesempatan menghangatkan tubuh saya dengan sebotol cap lang kepunyaan senior Sekum (Elsa) kebetulan berada di posisi pos ke empat. Saya di suruh menyanyikan lagu kepunyaan semy krispati menantikan kawan-kawan saya yang lain.

    Karena mumpung kawan-kawan saya semuanya telah ada maka saya pun di perintahkan bergabung dalam air, tak terlihat si jasju katanya ia mengundurkan diri di pos pertama. Dalam benak saya berkata mungkin hanya kami berlima yang di takdirkan untuk kadal.ada sebuah kenangan menyedihkan yang tak  terlupakan dari benak kami yaitu, ketika kawan saya si jia pinsang kami memikulnya dalam air dengan posisi hanya kepala saja yang terlihat dan menyebalkan lagi para senior mencoba melepaskan si jia dari pundak kami, mungkin ini adalah denamika yang sifatnya senetron, tetapi kami berusaha sekuat tenaga agar ia tidak lepas dari pundak kami, saya bersedih sampai-sampai meneteskan air mata tak tahan dengan ucapan kawan saya si opa cak..’’.. woee ini katong pu sudarah..’’ dan tak tertahan lagi amarahnya  kawan saya si ipul ..’’ bammmb…’’ namun dapat di cegah oleh para senior. Dan kami pun berusaha menyembuhkan kawan saya si jia yang pinsang.
Karena kawan saya telah siuman maka kami pun melangsungkan acara yang teristimewa bagi saya dan kawan-kawan sahabat alam yang lain yaitu pembayatan. Tepatnya pukul 06.30 WIT  terdengar lantunan lagu salawat badri oleh para senior, begitu bergetar hati saya mendengar lantunan tersebut sampai-sampai tak tertahan saya pun meneteskan air mata kebahagiaan. Sang bendera pun berkibar di tengah kesedihan yang meledak maka pembayatan pun berlangsung, dan pada hari itu pun kami di kukuhkan menjadi angota kadal adventure club (KAC) oleh penasehat organisai yaitu senior Aulia dan di saksikan oleh SEKUM KAC dan para senioritas lainya. Kami pun di beri selamt bergabung bersama KAC , dengan nama angkatan..’’ BOYAAN SEITH’’. tepatnya hari Minggu tanggal o1 january 2012 pukul 06.30 WIT bertempat di pantai boyan, Desa seith kami di bai’at menjadi anggota muda kadal adventure club.

Salam Rimba untuk Sahabat Alam..!!!







ISHAK RAHMAN BOUFAKAR: #Merefleksi Eksitensi Ideologi Anarkisme Serta kondisi ideal & rialitas Anak PUNK di Indonesia

Merefleksi Eksitensi Ideologi Anarkisme
Serta kondisi ideal & rialitas Anak Punk di Indonesia.

oleh: Ishak R. Boufakar (Mahasiswa Ilmu Komunikasi)

Di Indonesia sendiri istilah anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pecentusnya yaitu William Goldwin, Piere Joseph Proudhon, dan Mikhael Bakunin, anarkisme adalah ideologi yang mengkehendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa Negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri. Hukum dan peraturan Negara seringkali bersifat pemaksaan sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab pada pilihannya sendiri.

ini merupakan suatu tindakan yang dinilai salah serta bertentangan dengan pendefinisian suatu objek tersebut tindakan kita pada saat ini dinilai sangat-sa
ngat berbelenggu dari keadaan riil suatu objek itu.
dalam pandangan logika ini di sebut falase atau kesalahan berpikir,dalam hal memehami apa yang menjadi esensi dari suatu objek tersebut.
pemahaman anarkisme di pahami sebagai suatu tindakan yang bertentangan atau sifatnya anarkis;perkelahian, tauran, dan sebagainya ini adalah suatau kesalahan bagi kita yang telah meng adopsi definisi tersebt. namun apa yang menjadi pahaman tokoh-tokoh pencetus ideologi ini tidak sesuai dengan apa yang kita pahami.

para pencetus ideologi ini menginginkan tatanan masyarakat tanpa negara dalam hal mengatur dan mengikat kehidupannya dengan hukum yang dibuat oleh negara.
mereka berasumsi bahwa tidak adanya negara dan hukum dalam masyarakat itulah idealnya kemerdekaan,namun dilain sisi mereka mengabaikan fungsi negara dan hukum sebagi suatu keteraturan.
serta mereka menentang otoritas penguasa,kepemilikan pribadi,kebijakan kapitalisme
cita-cita mereka agak mirip dengan cita-cita komunisme di mana kesamaan hak milik dalama hal hubungan produksi,alat produksi dan proses produksi bahwasanya berapa banyak yang kita bekerja hasilnya juga sesuai dengan yang kita peroleh,itulah cita-cita masyarakat komunis oleh marx tidak menghendaki adanya negara dan kalau adanya negara berarti negarai di kuasai oleh klas mayoritas yakni klas buru.

namun saya menilai bahwa dalam penerapan penafsiran kedua makna ini berbeda dengan maknanya yang sesungguhnya. bagi saya harusa ada proses pencitraan pendefinisian ini agar kita tidak serta merta meng adopsi sesuatu yang kita sendiri tidak memahaminya. dalam prespektif ilmu komunikasi ini di sebut sebagi kesalahan penafsiran pesan dari sumber/komunikator ke server/komunikatian mungikin dalam profes peralihan pesan terjadi gangguan baik fisik maupun psikologi serta media/ saluran sensori maupun elektronik.
sehingga di butuhkan pengulangan pesan/message tersebut agar apa yang yang di inginkan oleh komunikator dapat di pahami oleh komunikatian sehingga timbulah efek yang diinginkan baik mendidik, menginformasikan,merubah serta mentrasformasi pikiran, perilaku serta budaya.


Sama halnya dengan apa yang di pahami anak punk dewasa ini berbanding terbalik dengan ideologi ini,sangat-sangat di sayangkan keadaan yang ditunjukan anak-anak Punk dewasa ini tidak memahami apa yang menjadi cita-cita Generasi Punk yang pertama dimana mereka Kekecewaan terhadap otoritas Negara dan Kapitalisme.
Namun ternyata tidak sepenuhnya berkembang di Indonesia layaknya kaum Anarko-Punk di Inggris maupun Amerika. Punker di Indonesia banyak kehilangan essensi dan ideologinya. Banyak anak-anak muda yang menganggap dirinya ”Punkers” namun sebenarnya Punk hanya menjadi kedok bagi anak-anak muda untuk lari dari permasalahan yang muncul pada keluarga, lingkungan ataupun sekolah. Ada juga Punk hanya menjadi simbol bahwa mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah saja yang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Selain itu, sebagian anak-anak yang menamakannya Punkers sebenarnya tidak mengetahui apa tujuan mereka, hal ini karena pada dasarnya mereka memasukkan diri hanya untuk bergaya dan sekedar stylish ataupun menjadi Punker’s hanya karena ikut-ikutan teman dan lingkungan tempat mereka bergaul. Hal ini yang kemudian mengaburkan nilai-nilai Punk masa kini dan dulu.
Punk di Indonesia yang mulai kehilangan esensi dan tujuan mulai menciptakan kebencian dan konflik dalam kehidupan sosial disekitarnya, bukan lagi pemikiran-pemikiran untuk menentang Kapitalisme dan otoritas Negara. Fenomena Punk di Indonesia memunculkan presepsi masyarakat awam banwa punker di Indonesia lebih sering nongkrong diperempatan jalan raya, ngamen, mabuk dan meminta uang kepada orang – orang yang berlalu lalang dijalanan. Punkers di Indonesia mungkin hanya memiliki pandangan dan pemikiran paling dasar yaitu ”anti kemapanan”, belum mencapai aspek pemikiran sosial dan politik. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya tingkat pendidikan para ”Street Punkers” yang mungkin juga disebabkan karena kondisi ekonomi yang kurang mendukung.

ISHAK RAHMAN BOUFAKAR : # TIBA SAAT TIBA AKAL

" TIBA SAAT TIBA AKAL "

0leh: Ishak R. Boufakar (Mahasiswa Ilmu Komunikasi _UNSAT Makassar)

Suara tulus seorang relawan mengalahkan baliho sebesar apapun
Anies Baswedan_

Dalam kacamata komunikasi politik , Baliho maupun media massa merupakan media trasformasi Pesan-pesan politik dari komunikator (Kandidat) kepada Komunikatian (Publik) dalam artian penawaran-penawaran program kerja (Visi-Misi) kepada masyarakat luas,pesan-pesan tersebut secara tak sadar sifatnya mempengaruhi, mengajak serta memaksa masyarak untuk mengikuti,melaksanakan serta mendukung apayang menjadi idenya tersebut. ada hal- hal yang menarik perhatian kita yang disuguhkan dari para aktor politik lewat pesan-pesan politiknya. diantaranya penawaran programkerja yang bersifat pemikiran lama yang telah dimodifikasinya atau dengan istilah "Lagu lama" tak ada bedanya dengan Separubaya yang sedang bermak up.

pemikiran progresif semakin terkukuhkan di balik selimut tebal tatanan masyarakat yang terpinggirkan,para pengamat, aktivis, kaum terpelajar serta politisi seakan terhipnotis dengan keadaan. saling membenarkan, memperkuat basis menengahnya (Bakal pemimpin) namun mereka tak pandai-pandai menangkap simbol- simbol non verbal dari Konunikator kepada komunikatian(Publik) terkait dengan pesan-pesan politinya, apakah pesan itu sifatnya merubah atau mempertahankan Status quonya sebagai otoritas basis atasnya.
Dalam struktur masyarakat Masyarakat karl max membagi masyarakat menjadi dua kompunen yakni; Kompunen kuat diwakili oleh pemimpin dan kompunen lemah di wakili oleh masyarakat(Publik) itu sebabnya yang terkuat(pemimpin) sifatnya menguasa serta yang lemah sifatnya merakyat. sebab kenapa yang dinamakan lemah itu sifatnya menempel pada yang kuat contoh yang ril,Ayah dan Anak_ sang anak selalu menggantungkan nasibnya pada sang ayah di karenakan sang ayah memiliki kemampuan yang lebih dari pada anaknya.
dalam tatanan masyarakat juga sebaliknya masyarakat menggantungkan nasibnya pada pemimpin(Negara) karena pemimpin memiliki kemampuan dan kekuasaan.

Kekuasaan yang di miliki pemimpin(Negara)merupakan sesuatu pembarian yang diberikan oleh masyarakat, sebab kenapa dalam kacamata Demokrasi kekuasaan berada pada rakyat atau ditangan rakyat namun tidak sertamerta rakya secara otoritas berkuasaan dalam hal pengambilan keputusan serta kebijakan namun wujud dari kekuasaan rakyat itu di percayakan kepada wakil-wakil rakyat yang menduduki Parlemen dan sebagainya.
Dalam pemikiranya Karl Max tentang Aksi dan revolusi membahas tentang Pemimpin dalam sejarah dan Massa_ beliau, berpendapat bahwa sebenarnya pemimpin merupakan integrasi dari massa, sebab kenapa adanya pemimpin karena adanya masa dalam hal ini masyarakat pendukunya.pemimpin harus tau betul keinginan dan perasaan massa(Publik)sebab tanpa massa pemimpin tidak ada. beliau,menambahkan bahwa ketika pemimpin menguasai keinginan serta kebutuhan masyarakat(massa) maka pemimpin telah menguasai rakyat,oleh sebab itu ketika pemimpin berkeinginan menguasai rakyat satu-sutunya cara adalah dekat dengan rakyatnya,harus tinggal dan menetap ditengah-tengah rakyatnya. sehinggah mengambil garis kepemimpinan(Visi-misi)nya sesuai dengan keinginan serta kebutuhan rakyatnya itu yang ideal bukan tiba saat tiba akal.

Momen pemilihan semakin dekat,terlihat pada porus-porus jalanan kota,kabupaten bahkan Desa semakin memadat dengan pesan-pesan politik yang sifatnya merayu para khayak umum untuk mendukung ide-idenya yang tak jelas itu.
alangka baiknya kata idola saya Anies Baswedan," Relawan itu lebih baik dari baliho yang besar", yang namanya kepentingan itu menghalalkan segalah cara namun mereka tak melirik ada sesuatu hal yang lebih produktif dan efisiensi yakni berkarya atau bekerja(Relawan)dari pada baliho/media massa itu.
namun suda terlambat ketika baru memikirkal hal itu, masyarakat telah cerdas menalar setiap bentuk-bentuk kegiatan dari pada calon-calon pemimpin kita saat ini.sebab kenapa setiap kegiatan baik positif di nilai sebagai politisasai/nuansa politik semata tanpa nawait baik sedikitpun.
itulah kecenderungan kita saat ini kita melakukan sesuatu bukan sebagai pengabdian kepada masyarakat tapi melakukan sesuatu pada masyarakat kita atas dasar kepintingan atau ada maunya.
saya selaku mahasiswa yang menekuni spesifikasi ilmu komunikasi publik(Kom.politik) melihat tindakan yang diambil bakal pemimpin kita tidaklah subtansial dalam hal menarik perhatian dari para komunikatian/khayak dalam promosi pesan-pesan politiknya,ada hal-hal yang lain yang lebih efektiv serta efisiensi namun mereka mengabaikan dan memilih jalan lain yang tidak produktif.